Retno Nagayomi

Terbitkan Buku tentang Pelukis Mozes Misdy untuk Inspirasi Pelukis Lainnya

Buku berjudul Mozes Misdy, Ekspresionisme of Mozes in Unity itu terisnpirasi ketika Mozes menggelar pameran di gedung Kementerian (PU.

Terbitkan Buku tentang Pelukis Mozes Misdy untuk Inspirasi Pelukis Lainnya
Surya/srihandi lestari
Retno Nagayomi, penikmat seni sekaligus pelukis yang meluncurkan buku tentang pelukis Mozes.

SURYA Online, SURABAYA - Menjadi penikmat seni, Retno Nagayomi sangat penasaran dengan karya lukis. Setelah menjadi kolektor dan berkumpul dengan seniman lukis, wanita yang sehari-hari bekerja sebagai konsultan di bidang proyek bangunan ini, mulai tertarik ikut menjadi pelukis. Namun di balik aktivitasnya itu, dia malah membuat dan menerbitkan buku tentang pelukis Mozes Misdy yang disebutnya bisa menginspirasi para pelukis lain, termasuk pelukis pemula maupun yang muda.

Buku berjudul Mozes Misdy, Ekspresionisme of Mozes in Unity itu terisnpirasi ketika Mozes menggelar pameran di gedung Kementerian Pekerjaan Umum (PU) beberapa tahun lalu. Wanita kelahiran Tulungagung, 3 Oktober 1956 itu mengaku tertarik dengan karya-karya pelukis yang dikenal sebagai pelukis pelet itu.

"Karya-karyanya sangat unik. Menampilakan tentang dunia perkotaan. Tentang sanitasi, pembangunan dan fasilitas umum," jelas Retno, alumnus Arsitek Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Nama Mozes Misdy, pelukis kelahiran Banyuwangi banyak dikenal lewat karya-karyanya yang kini tinggal di Bali. Sebagai pelukis khas, Retno merasa memiliki kedekatan dalam hal obyek. Latar belakang pendidikan arsitek dan pekerjaannya di bidang bangunan, membuatnya semakin cocok.

Tapi begitu tahu bila tidak semua seniman lukis semujur Mozes, Retno pun memberi jembatan. Yaitu dengan membentuk komunitas Adhi Cipta Community. Komunitas ini terdiri atas berbagai seniman lukis, dan pecinta seni lainnya. Pertemuan digelar di sebuah ruangan yang menjadi galeri. Galeri bernama Adhi Cipta Galery, di kawasan Rungkut Asri ini pun dimanfaatkan sebagai ruang pertemuan sekaligus ruang pamer. Ratusan karya lukis karya para seniman ditampilkan di tempat tersebut.

"Keberadaan komunitas dan galeri ini ternyata membuat saya tidak hanya jadi pecinta seni. Tapi membuat saya ingin terjun di dunia lukis. Hasilnya, beberapa lukisan berhasil saya buat, dan bisa saya ikutkan dalam pameran," jelas istri dari dosen ITS, Bambang Sarwono itu.

Selanjutnya ibu dari Riski, Kanya, dan Dimas Novan, itu pun eksis di dunia lukis. Di sela hari liburnya, dia memilih bermain cat di atas kanvas. Tema yang diambil Retno adalah romantisme. Dengan lakon Rama dan Sinta. "Tapi tidak semua sih. Mayoritas saya pilih tema ini, karena sangat inspiratif," lanjutnya.

Karena memiliki komunitas, galeri, dan menjadi pelukis, Retno pun bisa menjelajah ke dunia industri seni lukis. Tak hanya karyanya yang sudah mencapai ratusan, tapi juga karya pelukis lain di anggota komunitas.

"Karya mereka perlu dihargai. Dan untuk harga lebih tinggi, itu bisa terjadi di Jakarta dan Denpasar Bali. Sementara di Surabaya, penghargaan karya lukis masih kurang," ungkap Retno.

Anak kedelapan dari 11 bersaudara pasangan dr Soedomo (mantan dokter di Trenggalek, dan namanya diabadikan sebagai nama RS daerah), dan Mien Soedomo (86) itu, itu mengaku, saat ini dirinya ingin memberikan tempat dan ruang serta kesempatan kepada para pelukis muda dan pemula untuk bisa menghasilkan karya yang bernilai.

"Dengan buku Mozes ini kami harap bisa memberikan inspirasi untuk mereka. Mozes yang orang desa dari Gambiran, Banyuwangi pun bisa maju," tandas Retno.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved