• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Surya

Proyek Tol Moker Terhambat Hujan, Investor Optimistis Target Tercapai

Jumat, 7 Februari 2014 14:13 WIB
Proyek Tol Moker Terhambat Hujan, Investor Optimistis Target Tercapai
surya/sutono
Permukaan jalan tol Mojokerto-Kertosono di Desa Tampingmojo, Tembelang, Jombang yang masih dalam proses pembangunan, terpaksa ditutup plastik putih agar tidak kehujanan.

SURYA Online, JOMBANG – Curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir, menjadi kendala bagi kontraktor proyek jalan tol Mojokerto-Kertosono (Moker) di Kabupaten Jombang, dalam menyelesaikan pekerjaannya.

 Kendati demikian, pihak investor PT Marga Hargajaya Infrastruktur (MHI) tetap optimistis target penyelesaian ruas jalan yang menjadi bagian dari Tol Trans Jawa itu akan terpenuhi, yakni tuntas akhir tahun ini.

Hal ini disampaikan Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI) Legowo, usai meninjau lokasi proyek di Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jumat (7/1/2014).

“Dalam pekerjaan konstruksi jalan, saat curah hujan tinggi, membuat pekerjaan tidak bisa bergerak cepat. Kondisi seperti ini menjadi tantangan kami untuk tetap bisa memenuhi ‘hard target’ penyelesaian tahun ini. Di PT Astra, kami dididik selalu optimistis,” kata Legowo.

PT MHI yang berdiri sejak 2006, merupakan pemegang hak konsesi ruas tol Moker sepanjang 40.5 kilometer. Sejak 2011, saham mayoritas perusahaan ini dimiliki PT Astratel Nusantara.

Tol Moker merupakan ruas tol ketiga yang dikelola Astra setelah Tangerang - Merak dan Kunciran - Serpong.

Dalam membangun tol Moker, MHI membagi dalam 4 seksi, yakni seksi 1, 2 dan seksi 4 yang melintasi Kabupaten Jombang. Sedangkan seksi 3 seluruhnya di Mojokerto.

Menurut Legowo, saat ini progres pembangunan fisik di seksi 1 sudah mencapai 55 persen dari lahan yang sudah dibebaskan 98 persen. Kemudian di seksi 2 lahan bebas mencapai 80 persen dengan pekerjaan fisik 40 persen. Dan di seksi 4 pembebasan lahan mencapai 67 persen.

“Di seksi 3, mudah-mudahan di awal Maret nanti sudah bisa dilakukan mobilisasi pekerjaan konstruksinya. Dan dalam jangka waktu 10 bulan, kami targetkan sudah selesai semuanya,” kata Legowo.

Selain kondisi alam, hambatan lain dalam menjalankan program pemerintah ini adalah pembebasan lahan. Di seksi 1 misalnya, meski tinggal 2 persen, tapi posisi lahan sangat krusial, pada titik-titik strategis konstruksi jalan.

Warga pemilik lahan tersebut, sampai saat ini belum mau menerima uang ganti rugi (UGR) yang ditetapkan pemerintah.

“Proses pemberian ganti rugi saat ini masuk masa konsinyasi. UGR oleh pemerintah sudah di titipkan di pengadilan negeri,” kata Legowo.

Proses konsinyasi ini merujuk ketentuan Pasal 34 Peraturan Kepala Kantor BPN No 3/2007. Dalam aturan itu disebut, musyawarah rencana pembangunan untuk kepentingan umum dianggap tercapai kesepakatan apabila 75 persen tanah telah dibebaskan.

Padahal, dari kebutuhan lahan untuk ruas tol Moker, seluas 1.299.732 meter persegi yang dimiliki 1.503 orang warga, saat ini sudah terbebaskan lebih dari 90 persennya.

“Yang perlu dipahami di sini, pembebasan lahan untuk tol ini bukan proses jual beli dengan swasta. Ini merupakan proses pengalihan lahan untuk kepentingan umum,” tandas Legowo.

Sementara warga terdampak proyek tol sendiri mendesak investor, PT MHI (MHI) segera menyelesaikan proses pengerjaan fisik jalan bebas hambatan itu.

 Sebab, warga sudah cukup lama terganggu hilir-mudiknya kendaraan proyek di perkampungan.

“Truk-truk pengangkut tanah uruk dan material tol merusak jalan desa,” keluh Pi’i Setia Buana (56), warga Desa Tampingmojo, Tembelang, Jombang.

Penulis: Sutono
Editor: yoni
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
942342 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas