Polrestabes Usut Insentif UPTD Dispenda Surabaya

Melalui Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor),Polrestabes tengah mengusut adanya dugaan korupsi insentif UPTD Dispenda Surabaya.

SURYA Online, SURABAYA - Satreskrim Polrestabes Surabaya kini tengah menyelidiki insentif UPTD Dispenda Surabaya. Saat ini Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor), tengah mengusut adanya dugaan korupsi insentif UPTD.

"Kami masih kumpulkan bukti-buktinya, dan mencari tahu bagaimana aturan main pemberian insentif," kata Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya Hartoyo, Minggu (2/2/2014).

Namun hingga kini belum ada yang dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. "Belum ada yang dipanggil, kami masih melakukan penyilidikan," kata Hartoyo.

Menurut Hartoyo, insentif tersebut memang wajar diberikan pada pegawai UPTD. Namun dalam pemberian insentif ada hitung-hitungannya.

Pengusutan insentif ini, karena diduga ada kejanggalan-kejanggalan terkait insentif yang diberikan kepada pegawai UPTD. Ini dikarenakan, selama ini proses pengiriman uang insentif per tiga bulan selalu dalam jumlah besar, dan tidak dibayarkan melalui rekening bank. Namun dibayarkan secara tunai, dan dibawa dengan menggunakan tas.

Dalam pemberian insentif, besarannya hanya lima persen dari pajak yang diperoleh. Namun di UPTD, pegawai rendahan setingkat golongan IIb, tiap tiga bulan bisa mendapat insentif Rp 25 hingga 28 juta.

Ini diketahui setelah dua pelaku perampokan kantor UPTD, di Jl Jemursari V Nomor 11 Surabaya, akhirnya berhasil ditangkap oleh Unit Jatanum Polrestabes Surabaya.

Kecurigaan polisi terkait insentif pegawai UPTD berawal dari teruangkapnya pelaku perampokan UPTD Jemursari.

Dari dua pelaku tersebut, satu orang merupakan karyawan golongan 2 UPTD Wiyung, Agus Siswanto (43), warga Ketabang, Genteng Surabaya. Agus berperan sebagai pemberi informasi, dan bertugas mensurvei lokasi perampokan.

Sedangkan satu orang lainnya, adalah spesialis perampokan, yakni Imam alias Rois (41), yang juga merupakan warga Ketabang.

Dalam pengakuan Agus, mengaku  tiap tiga bulan, dirinya mendapat insentif Rp 25 juta. Padahal Agus hanyalah PNS golongan 2B, yang merupakan pegawai bagian input data. Padahal gaji Agus tiap bulannya hanya mendapat gaji Rp 2 juta. Sedangkan insentif Agus jika dihitung perbulan mencapai Rp 8 hingga 10 juta. Insentif ini, tiga empat kali lipat dibandingkan gaji yang Agus yang diterima tiap bulan.
Pembayaran insentif tersebut dibayarkan tunai tiap tiga bulan, sedangkan gaji per bulan dibayar melalui transfer.

Agus mengatakan, di tempatnya bekerja hanya terdapat 20 orang. Sedangkan insentif pegawai, tiap tiga bulan bisa mencapai Rp 800 juta. Uang itu lalu dibagi-bagikan ke setiap karyawan.

Agus yang merupakan pegawai golongan 2B, mendapat Rp 25 juta per tiga bulan. Untuk pegawai rendahan saja, mendapat Rp 25 juta. Bagaimana dengan pegawai yang pangkatnya berada di atas Agus.

Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved