Jumat, 28 November 2014
Surya

Warga Ancam Blokir Jalur Satu Arah

Minggu, 10 November 2013 17:58 WIB

SURYA, Online, MALANG-Warga Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, memprotes penerapan uji coba jalur satu arah di Jalan DI Panjaitan. Warga memasang kain putih sepanjang 100 meter yang bertuliskan penolakan terhadap penerapan jalur satu arah, Minggu (10/11/2013).

Warga juga menggalang tanda tangan untuk menolak penerapan jalur satu arah di wilayah itu. Warga dan pengendara yang sepakat menolak penerapan jalur satu arah membubuhkan tanda tangan di kain putih tersebut. Warga juga memasang tujuh spanduk yang berisi penolakan.

Warga menganggap penerapan jalur satu arah menyebabkan kemacetan di wilayah tersebut. Selain itu, penerapan jalur satu arah juga membuat pendapatan usaha warga turun drastis. Warga meminta pemerintah mengembalikan jalan itu menjadi dua arah.

Koordinator warga, Saiful, mengatakan, penerapan jalur satu arah malah membuat arus lalu lintas di wilayah itu ruwet. Warga kesulitan menyeberang jalan. "Usaha warga juga mati. Omsetnya turun sampai 50 persen. Sekarang tidak ada orang yang berhenti untuk membeli," katanya.

Menurutnya, warga menginginkan, arus lalu lintas di Jalan DI Panjaitan dikembalikan dua arah lagi. Warga sudah menggalang tanda tangan untuk menolak penerapan jalur satu arah. Tercatat ada 600 warga yang sudah sepakat menolak penerapan jalur satu arah.

"Kami menunggu dua sampai tiga hari ke depan. Jika tetap tidak ada keputusan dari pemerintah, warga akan turun di jalan. Warga akan memblokir Jalan DI Panjaitan," ujar Saiful.

Ketua RW 5, Kelurahan Penanggungan, Klojen, Kota Malang, Mudakir, menyatakan, kemarin, semua elemen masyarakat di wilayah itu berkumpul di kantor kelurahan untuk membahas penerapan jalur satu arah. Menurutnya, semua perwakilan warga menolak penerapan jalur satu arah.

"Semua menolak. Harus segera ada keputusan dari pemerintah. Jika tetap tidak ada respon, warga mengancam turun jalan," katanya.

Dikatakannya, warga tidak bisa menunggu selama satu bulan, jika penerapan jalur satu arah kondisinya menambah keruwetan lalu lintas di wialayah tersebut. "Uji coba belum sampai seminggu saja, warga sudah resah. Banyak usahanya yang tidak laku. Apalagi satu bulan, warga bisa tidak makan. Ini bukan lagi soal perubahan jalur, tapi urusan perut," ujarnya.

Kasat Lantas Polres Malang Kota, AKP Erwin Aras Genda, mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, agar ada kompensasi untuk warga maupun keluarhan di wilayah tersebut. "Saya sudah koordinasi dengan Kadishub agar melaporkan ke wali kota untuk memberikan kompensasi ke warga," katanya.

Dikatakannya, hasil uji coba jalur satu arah memang tidak bisa dilihat dalam satu minggu. Saat ini, pihaknya juga sedang mengkaji secara akademis penerapan jalur satu arah. Hasil kajian tersebut akan diputusakan dalam rapat forum lalu lintas.

"Kalau hasil evaluasi kami, uji coba ini sudah efektif mengurangi kemacetan di kawasan Dinoyo. Sekarang, Soehat, Gajayana, dan Dinoyo yang dulunya macet sudah lancar," ujarnya.

Menurutnya, jika warga tetap menolak penerapan jalur satu arah, maka jangan salahkan polisi apa bila terjadi kemacetan di mana-mana di kawasan tersebut. Sebab, hasil kajian forum lalu lintas, jalan satu-satunya untuk mengurangi kemacetan di kawasan Dinoyo, yaitu, dengan menerapkan jalur satu arah di Jalan Gajayana, Jalan DI Panjaitan, dan Jalan Jalan MT Haryono.

"Jangan salahkan kami jika kemacetan di kawasan Dinoyo bertambah parah," katanya.

Usaha Warga Tak Laku
Penerapan jalur satu arah di Jalan DI Panjaitan membuat usaha milik warga di wilayah itu tidak laku. Sejumlah warga mengaku pendapatannya turun drastis setelah pemberlakukan uji coba jalur satu arah.

Pemilik warung tahu telor di Jalan DI Panjaitan, Devi Angeliana mengaku pendapatannya turun hingga 50 persen setelah penerapan uji coba jalur satu arah diberlakukan. Biasanya, dalam sehari, omset warung tahu telornya bisa mencapai Rp 700.000.

"Sekarang hanya bisa dapat Rp 200.000 sampai Rp 300.000," katanya.

Menurutnya, banyak pelanggan yang enggan datang ke warung tahu telornya karena harus memutar jauh. Padahal, pelanggan warung tahu telor miliknya kebanyakan dari arah timur.

"Para pelanggan dari timur sudah tidak ada yang datang. Mereka gak mau datang ke warung, karena harus muter lewat Jalan Gajayan dan Jalan MT Haryono. Sebab, gang di kampung juga ditutup," ujarnya.

Wawan, pemilik toko pracangan di Jalan DI Panjaitan, juga mengeluhkan hal yang sama. Pendapatan di tokonya juga turun. Menurutnya, penerapan jalur satu arah malah membuat arus lalu lintas di wilayah itu semakin ruwet. Saat orang berangkat dan pulang kerja, arus lalu lintas di jalan itu padat.

"Tapi, pas sepi, pengendara malah balapan. Pengendara lain yang mau berhenti takut ditabrak. Warga yang mau nyebrang juga kesulitan," katanya.

Dikatakannya, selama pelaksanaan uji coba jalur satu arah, sudah ada tujuh kecelakaan di Jalan DI Panjaitan. Kecelakaan rata-rata dialami warga yang hendak menyeberang jalan. "Sudah ada tujuh kecelakaan. Kebanyakan warga yang mau nyebrang diserempet mikrolet maupun kendaraan umum," ujarnya.

Penjual stiker di Jalan DI Panjaitan, Eko, mengatakan, sebelum uji coba jalur satu arah diterapkan, pendapatanya bisa mencapai Rp 300.000 per hari. Namun, sekarang, ia hanya bisa mendapatkan penghasilan Rp 50.000 per hari. "Kami ingin arus lalu lintas di jalur ini dikembalikan seperti semula, yakni, dua arah," katanya.

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Satwika Rumeksa

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas