Minggu, 19 April 2015

Kerupuk Puli Paling Berbahaya

Jumat, 4 Oktober 2013 20:09

Kerupuk Puli Paling Berbahaya
Fadjar Kurnia Hartati menunjukkan aneka macam kerupuk yang didapatkan di pasar tradisional dan hampir semuanya mengandung boraks di Kampus Unitomo Surabaya, Jumat (4/10/2013).

SURYA Online, SURABAYA – Hati-hati mengonsumsi kerupuk. Peringatan itu dilontarkan Fadjar Kurnia Hartati, dosen Teknologi Pangan, Universitas dr Soetomo, (Unitomo) Surabaya.
Peringatan Fadjar beralasan karena hasil penelitiannya memastikan ada kandungan boraks dalam 13 jenis kerupuk yang beredar di Surabaya.

13 jenis kerupuk ini biasa dikonsumsi masyarakat seperti kerupuk puli, kerupuk keong maupun kerupuk pelangi. ”Saya sengaja mengambil sampel kerupuk yang ada di semua pasar tradisional. Jadi, kalau di satu pasar ada dan pasar lainnya tidak ada saya tidak ambil,”kata Fadjar saat dtemui di kampusnya, Jumat (4/10/2013).

Fadjar mengkhususkan penelitiannya pada kerupuk non protein yang berbasis tepung trapioka tanpa penambahan daging, udang, kerang maupun kupang.

Alasannya harga kerupuk ini lebih murah sehingga semua kalangan masyarakat bisa menjangkaunya.

Untuk mengujinya, Fadjar lebih dulu menghaluskan kunyit kemudian diambil airnya. ”Kunyit mengandung asam curcuma apabila bereaksi dengan asam boraks akan menghasilkan senyawa yang ditunjukkan dengan warna merah,”jelasnya. 

Untuk alat tes, dia memakai kertas saring putih yang bisa didapat di toko-toko bahan kimia. Kertas saring ini dimasukkan dalam larutan kunyit selama 10 hingga 15 menit hingga berubah mejadi kuning. Kertas saring yang sudah berwarna kuning ini lalu dikeringkan tanpa perlu dipapar di bawah matahari.

Untuk mengujinya, kerupuk dipotong kecil-kecil dimasukkan dalam air mineral selama 10 hingga 15 menit. Setelah membentuk larutan, kertas saring kuning itu dicelupkan. ”Kalau warna kuning menjadi merah dalam waktu sekejab, berarti kerupuk positif mengandung boraks,”terang kandidat Doktor Teknologi Pertanian Unibraw.

Halaman123
Penulis: Musahadah
Editor: Parmin
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas