• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Surya

Kerupuk Puli Paling Berbahaya

Jumat, 4 Oktober 2013 20:09 WIB
Kerupuk Puli Paling Berbahaya
Fadjar Kurnia Hartati menunjukkan aneka macam kerupuk yang didapatkan di pasar tradisional dan hampir semuanya mengandung boraks di Kampus Unitomo Surabaya, Jumat (4/10/2013).

SURYA Online, SURABAYA – Hati-hati mengonsumsi kerupuk. Peringatan itu dilontarkan Fadjar Kurnia Hartati, dosen Teknologi Pangan, Universitas dr Soetomo, (Unitomo) Surabaya.
Peringatan Fadjar beralasan karena hasil penelitiannya memastikan ada kandungan boraks dalam 13 jenis kerupuk yang beredar di Surabaya.

13 jenis kerupuk ini biasa dikonsumsi masyarakat seperti kerupuk puli, kerupuk keong maupun kerupuk pelangi. ”Saya sengaja mengambil sampel kerupuk yang ada di semua pasar tradisional. Jadi, kalau di satu pasar ada dan pasar lainnya tidak ada saya tidak ambil,”kata Fadjar saat dtemui di kampusnya, Jumat (4/10/2013).

Fadjar mengkhususkan penelitiannya pada kerupuk non protein yang berbasis tepung trapioka tanpa penambahan daging, udang, kerang maupun kupang.

Alasannya harga kerupuk ini lebih murah sehingga semua kalangan masyarakat bisa menjangkaunya.

Untuk mengujinya, Fadjar lebih dulu menghaluskan kunyit kemudian diambil airnya. ”Kunyit mengandung asam curcuma apabila bereaksi dengan asam boraks akan menghasilkan senyawa yang ditunjukkan dengan warna merah,”jelasnya. 

Untuk alat tes, dia memakai kertas saring putih yang bisa didapat di toko-toko bahan kimia. Kertas saring ini dimasukkan dalam larutan kunyit selama 10 hingga 15 menit hingga berubah mejadi kuning. Kertas saring yang sudah berwarna kuning ini lalu dikeringkan tanpa perlu dipapar di bawah matahari.

Untuk mengujinya, kerupuk dipotong kecil-kecil dimasukkan dalam air mineral selama 10 hingga 15 menit. Setelah membentuk larutan, kertas saring kuning itu dicelupkan. ”Kalau warna kuning menjadi merah dalam waktu sekejab, berarti kerupuk positif mengandung boraks,”terang kandidat Doktor Teknologi Pertanian Unibraw.

Hasil penelitiannya menunjukkan dari 13 sampel kerupuk seluruhnya mengandung boraks. Hanya saja kadarnya berbeda-beda.

Untuk memastikan kadarnya, Fadjar melakukan tes kuantitatif dengan alat  spektrofotometer UV vis. Didapat kadar boraks pada 13 kerupuk berkisar antara 11,8 hingga 120 mg/kg (ppm).
Kandungan boraks paling banyak pada kerupuk puli yang mencapai 120 ppm. Sementara terendah di kerupuk keong hanya sekitar 11,8 ppm.

Dari hasil penelusurannya, kandungan boraks pada kerupuk ini berasal dari garam bleng yang digunakan sebagai perenyah dan pengembang adonan.

Hal itu sangat disayangkan Fadjar karena penggunaan boraks dalam bahan makanan jelas dilarang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan 722 Tahun 1988. Begitu juga dengan standar nasional indonesia (SNI) yang mengharuskan kerupuk nol asam boraks.

Jika kerupuk mengandung boraks ini dikonsumsi terus menerus maka akan terakumulasi di organ dalam sehingga menganggu fungsi ginjal, lever, sistem syaraf, otak, hingga menyerang testis.

13 kerupuk yang beredar tersebut kebanyakan produksi Sodoarjo meski ada juga produksi Legong, Bali dan Lamongan.

Fadjar sempat tersentak ketika di beberapa kemasan kerupuk tersebut mencantumkan izin dari departemen kesehatan lengkap dengan nomor registernya.

”Tetapi saya belum meneliti apakah itu izin asli atau palsu,”tukasnya.

Penulis: Musahadah
Editor: Parmin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
770062 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas