Jumat, 19 Desember 2014
Surya

Kedelai Lokal Berjaya, Kedelai Impor Bisa Dilupakan

Rabu, 2 Oktober 2013 22:01 WIB

SURYA Online, JEMBER - Kedelai masih akan menjadi komoditas yang bisa
menyumbang inflasi di Kabupaten Jember. Demikian proyeksi inflasi di
bulan Oktober 2013 yang disimpulkan oleh peserta rapat Tim Pengendali
Inflasi daerah (TPID) di Bank Indonesia Jember, Rabu (2/10/2013).

Komoditas pertanian tersebut kini memang sedang melambung. Karena
komoditas ini masuk kategori komoditas yang didatangkan dari luar
negeri, maka harganya pun mengikuti pergerakan nilai tukar rupiah
terhadap dolar.

Saat ini harga kedelai impor mahal, berkisar antara Rp 9.500 - Rp
10.000 per kilogram. Mahalnya harga kedelai mempengaruhi harga
sejumlah produk yang berbahan kedelai, sebut saja tempe dan tahu.

Totok, seorang perajin kedelai di Kelurahan Tegalbesar Kecamatan
Kaliwates, ketika harga kedelai impor merangkak naik ia mengurangi
ukuran tempet yang ia jual seharga Rp 1.000. "Tempenya jadi mungkret,"
ujar Totok.

Namun, karena keseringan diprotes pelangganya, ia akhirnya memulihkan
ukuran tempenya tetapi terpaksa menaikkan harga jual. Tempe yang
awalnya dijual seharga Rp 1.000 kini naik menjadi Rp 1.500. Begitu
juga dengan tempe ukuran yang lebih besar, naik antara Rp 1.000 - Rp
1.500.

Karena tingginya permintaan dan pasokan barang sedikit, maka harga
kedelai impor menjadi mahal dan berimbas pada varian produk kedelai.
Jadi tidak aneh, tempe menjadi pemicu inflasi di bulan September
meskipun secara keseluruhan Kabupaten Jember mengalami deflasi.

Dan rupanya, varian produk dari kedelai itu juga tetap dikhawatirkan
menjadi pemicu inflasi di bulan Oktober ini. Sebab, kedelai termasuk
salah satu komoditas impor di Indonesia.

Tetapi, peserta rapat TPID yang berkumpul siang itu, juga sepakat
kalau proyeksi inflasi bisa dikendalikan melalui kedelai juga.
Terobosannya melalui kedelai lokal.

Bahkan peserta rapat membuat rekomendasi khusus terkait kedelai itu.
Rekomendasi memang bertujuan mengangkat produksi kedelai lokal.

"Pada prinsipnya, produksi kedelai di Kabupaten Jember ini surplus.
Nah, bagaimana menjadi brang yang surplus ini disukai pasar, tidak
hanya sebagai komoditas kedelai murni tetapi bisa disukai pembuat
produk yang berbahan tempe," ujar Kepala Pimpinan BI Jember, Achmad
Bunyamin.

Sejumlah rekomendasi itu adalah, program perluasan lahan kedelai dari
8.784 hektare menjadi 10.000 hektare di bulan Oktober - November 2013.

Meminta Bulog menjadi pengendali harga kedelai dengan cara membeli
kedelai petani di Kabupaten Jember. Kedelai lokal produksi petani
Jember juga disalurkan ke pengrajin tempe, tahu, juga susu kedelai
yang bekerjasama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Dinas
Pertanian Jember.

Mengusulkan peningkatan HPP kedelai, minimal Rp
8.000. Melakukan rekayasa benih kedelai untuk meningkatkan
produktivitas kedelai, yang selama ini hanya 1 - 2 ton per hektare.

Juga mengomunikasikan lelang di pasar Puspa Agro untuk penjualan
komoditas yang over supply kepada petani.

Bahkan untuk rekomendasi itu, Bulog Jember berjanji akan membeli
kedelai petani lokal memakai harga komersial.

"Kami akan membeli sesuai dengan harga komersial, harga yang ada di pasaran. Doakan saja,
semoga harga rupiah terhadap dollar tidak tidak naik turun secara
drastis," ujar Alwi Umri, Kepala Bulog Jember.

Bulog Jember sudah mengajukan modal kerja untuk pembelian kedelai
petani yang akan dimulai dalam masa panen bulan Oktober ini. Hanya
saja Alwi tidak menyebut besaran modal kerja yang diajukan ke Bulog
pusat.

"Yang pasti kami akan beli dari kelompok tani, ya untuk tahap pertama
sekitar 100 ton," tegas Alwi.

Seperti halnya di gabah, kedelai yang dibeli oleh Bulog ini juga harus
lulus uji kadar mutu. Dalam hal ini proses paska panen sangat
diperlukan.

"Di sinilah peran, instansi terkait  untuk paska panennya. Bagaimana
meningkatkan mutu kedelai, benar-benar kering. Tidak pecah-pecah
ketika digiling dan lain sebagainya," imbuh Kepala BI Jember , Achmad
Bunyamin.

Kalau mutu kedelai bagus, para pserta rapat TPID itu yakin, kedelai
lokal bisa menggeser kedelai impor. Dan untuk pasokan, jika ada
jaminan harga yang menguntungkan petani, petani di Jember tentu
memilih menanam kedelai dibandingkan komoditas lain yang harganya
lebih menjanjikan.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember,
kebutuhan kedelai di Jember per tahun mencapai 144.288 kilogram.
Padahal produksi kedelai lokal Jember mencapai 200 ribu ton lebih.

"Inflasi memang tidak bisa dicegah, tetapi angkanya bisa dikendalikan.
Dan kalau kedelai saat ini menjadi salah satu pemicu inflasi, kenapa
tidak ini dikendalikan sekaligus untuk melindungi kedelai lokal
terutama di Jember," tegas Bunyamin.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Parmin

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas