Rabu, 2 September 2015

Kedelai Lokal Berjaya, Kedelai Impor Bisa Dilupakan

Rabu, 2 Oktober 2013 22:01

SURYA Online, JEMBER - Kedelai masih akan menjadi komoditas yang bisa
menyumbang inflasi di Kabupaten Jember. Demikian proyeksi inflasi di
bulan Oktober 2013 yang disimpulkan oleh peserta rapat Tim Pengendali
Inflasi daerah (TPID) di Bank Indonesia Jember, Rabu (2/10/2013).

Komoditas pertanian tersebut kini memang sedang melambung. Karena
komoditas ini masuk kategori komoditas yang didatangkan dari luar
negeri, maka harganya pun mengikuti pergerakan nilai tukar rupiah
terhadap dolar.

Saat ini harga kedelai impor mahal, berkisar antara Rp 9.500 - Rp
10.000 per kilogram. Mahalnya harga kedelai mempengaruhi harga
sejumlah produk yang berbahan kedelai, sebut saja tempe dan tahu.

Totok, seorang perajin kedelai di Kelurahan Tegalbesar Kecamatan
Kaliwates, ketika harga kedelai impor merangkak naik ia mengurangi
ukuran tempet yang ia jual seharga Rp 1.000. "Tempenya jadi mungkret,"
ujar Totok.

Namun, karena keseringan diprotes pelangganya, ia akhirnya memulihkan
ukuran tempenya tetapi terpaksa menaikkan harga jual. Tempe yang
awalnya dijual seharga Rp 1.000 kini naik menjadi Rp 1.500. Begitu
juga dengan tempe ukuran yang lebih besar, naik antara Rp 1.000 - Rp
1.500.

Karena tingginya permintaan dan pasokan barang sedikit, maka harga
kedelai impor menjadi mahal dan berimbas pada varian produk kedelai.
Jadi tidak aneh, tempe menjadi pemicu inflasi di bulan September
meskipun secara keseluruhan Kabupaten Jember mengalami deflasi.

Dan rupanya, varian produk dari kedelai itu juga tetap dikhawatirkan
menjadi pemicu inflasi di bulan Oktober ini. Sebab, kedelai termasuk
salah satu komoditas impor di Indonesia.

Halaman1234
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Parmin
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas