• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Surya

Rekom Mobil Murah Pakai BBM Nonsubsidi

Senin, 16 September 2013 15:27 WIB
Rekom Mobil Murah Pakai BBM Nonsubsidi
surya/dyan rekohadi
Toyota Agya, salah satu mobil murah, yang diarahkan menggunakan BBM nonsubsidi.

SURYA Online, SURABAYA - Mobil murah atau Low Cost and Green Car (LCGC) sudah mulai dipasarkan ke publik September 2013 ini. Mobil ini dengan bidikan pengguna kelas menengah, dengan harga yang antara Rp 90 juta  hingga Rp 115 juta. Untuk bahan bakarnya, menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi.

PT Pertamina (Persero) menyambut gembira kebijakan itu karena akan membantu menekan konsumsi BBM subsidi. "Kalau ada kesempatan memperbesar pasar tentunya kita akan ambil. Soal harga Pertamax, kita mengacu harga minyak internasional," kata VP Coorporate Communication Ali Mundakir, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, MS Hidayat telah menyelesaikan petunjuk teknis aturan mobil murah. Produsen mobil yang lolos verifikasi pemerintah adalah Daihatsu dan Toyota.

Kepala Cabang Daihatsu Waru, Ferry menyampaikan sudah menyosialisasikan bagi pembeli Daihatsu Ayla untuk menggunaakan BBM nonsubsidi. "Kami merekomendasikan penggunaan BBM dengan oktan minimal 92," jelasnya.

Pengamat otomotif, Nugroho Sakri mengatakan, mobil-mobil murah LCGC secara prinsip diarahkan untuk menggunakan bahan bakar nonsubsidi, sama dengan mobil baru lainnya. Tetapi di sisi lain, produsen mobil juga melakukan antisipasi dengan menyiapkan mesin, sehingga masih bisa bertoleransi dengan penggunaan bahan bakar bersubsidi atau premium.

"Sebenarnya, untuk mobil pribadi apapun yang baru, mesinnya sudah standar Euro 2, yang minimal menggunakan bahan bakar nonsubsidi atau yang beroktan 91, tetapi di Indonesia Pertamax sudah oktan 92 ya lebih baik," ujar Aki, panggilan Nugroho.

Kondisi ini berlaku untuk mesin mobil Agya, Ayla maupun Brio Satya. Tetapi karena budaya di Indonesia masih banyak yang menggunakan premium, produsen ya harus mengatisipasi. Produsen sudah men-setting mesin, sehingga jika menggunakan BBM subsidi dampaknya tidak serta merta terjadi pada mobil bersangkutan.

"Produsen juga tidak ingin mobil baru mereka mudah mogok ,mereka harus jaga image meski penggunanya gak pakai BBM oktan 92," terang Aki.

Editor Tabloid Oto Plus ini menerangkan, mobil baru yang menggunakan bahan bakar subsidi akan mengalami penurunan kinerja mesin 10 persen sampai 15 persen. Efek tidak menguntungkan lainnya adalah kualitas yang disampaikan produsen bisa jadi tidak terwujud. Misalkan, produsen mengklaim konsumsi bahan bakar komposisi 1:20, kalau menggunakan BBM bersubsidi bisa jadi komposisinya hanya 1:15.

"Memang mobil tidak cepat rusak kalau pakai BBM subsidi karena produsen sudah antisipasi tapi dampak negatif penggunaan BBM subsidi banyak juga terutama masalah perawatan akan lebih sering bersihkan filter atau busi," tambah Aki.

GM Honda Surabaya Center, Wendy Miharja mengatakan bahwa New  Honda Brio Satya, mobil LCGC yang diproduksi Honda memang dibuat sesuai dengan ketentuan pemerintah mengenai standar mobil ramah lingkungan dan harga terjangkau.

“Sesuai ketentuan pemerintah, mesin Honda Brio Satya dirancang untuk mengonsumsi bahan bakar nonsubsidi,” kata Wendy di sela-sela peluncuran Brio Satya, New Honda Brio 1.200 cc dan New Brio Sport 1.300 cc di Surabaya, Jumat (13/9).

Meski demikian, hal tersebut bukannya berarti bahwa mesin Brio Satya akan rusak dalam jangka waktu dua tahun apabila menggunakan bahan bakar bersubsidi.

“Sampai saat ini dari Honda belum ada riset yang menyebutkan bahwa mobil Brio Satya akan rusak dalam waktu dua tahun kalau pakai BBM bersubsidi. Kalau misalnya pengendara mobil LCGC kebetulan kehabisan bensin di kawasan yang tidak menyediakan pertamax, tentu saja harus menggunakan BBM premium,” paparnya.

Penulis: Dyan Rekohadi
Editor: Tri Dayaning Reviati
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
743172 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas