• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 21 April 2014
Surya

Rebutan Sembako Tutup Ritual Ulambana di Kelenteng Gudo

Senin, 2 September 2013 18:34 WIB
Rebutan Sembako Tutup Ritual Ulambana di Kelenteng Gudo
Ratusan warga sekitar kelenteng Hong San Kiong berebut sembako yang dibagikan, sebagai penutup ritual King Ho Ping.

SURYA Online, JOMBANG-Ratusan warga berebut sesaji berupa sembako di Kelenteng atau Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Hong San Kiong, Gudo, Jombang, Senin (2/9/2013) sore.
   
Rebutan sembako ini sebagai penutup dari prosesi ritual King Ho Ping yang digelar umat Tri Dharma di kelenteng yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.
   
Ritual King Ho Ping atau Butho atau Ulambana, atau dalam istilah setempat disebut tradisi rebutan, intinya mendoakan arwah leluhur yang rutin dilakukan pada bulan Jiet Gwee Cap Go atau bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek. Khususnya arwah leluhur yang tidak terawat.
   
Kendati ritual digelar penganut Tri Dharma (Konghucu Dharma, Hindhu Dharma dan Budha Dharma), namun yang berebut tak hanya umat Tri Dharma, melainkan umat non Tri Dharma. Yang terakhir ini umumnya berdomisili di sekitar kelenteng.
   
Ritual dimulai sekitar pukul 14.30 WIB, dan selesai sekitar pukul 16.00 WIB. Meskipun penutup ‘rebutan’ sesaji tersebut merupakan tahap terakhir dari prosesi, tapi warga sudah mulai berdatangan sejak sekitar pukul 13.00 WIB.
   
Begitu tahap rebutan dimulai, ratusan warga langsung mendekat ke bagian depan kelenteng. Dengan membawa ‘kethak’ atau tiket yang sebelumnya sudah dibagikan pihak kelenteng, warga menukarkan kethak tersebut guna mendapatkan paket sembako yang sebelumnya berfungsi sesaji.
   
Salah satu warga, Surani (45) asal Desa Gudo, Kecamatan Gudo, mengaku meskipun dirinya bukan penganut Tri Dharma, dia ikut mendapatkan sembako atau sesaji karena nilai manfaatnya. “Saya anggap ini rezeki,” kata Surani.
   
Surani mengakui, sembako itu tidak sepenuhnya gratis. Sebab, sebelum acara digelar, dirinya dan warga lain membawa hasil bumi dan bahan mentah sendiri ke kelenteng. Saat mengantar barang itulah dirinya diberi tiket oleh panitia, untuk ditukar sembako.
      
“Tapi tetap saja kami membawa pulang lebih banyak dari yang kami setor ke panitia,” kata Suarni, sembari memperlihatkan tiga paket sembako yang masing-masing terdiri dari gula pasir, beras, dan minyak goreng.
   
Ritual King Ho Ping sendiri intinya sembahyang mendoakan arwah yang tak tenang, belum terawat. Tujuannya supaya tenang di alam baka. Sembahyang ini untuk mendoakan arwah diampuni dosa masa lalunya agar bisa menuju nirwana.
   
Dalam ritual dipimpin rohaniwan Nanik Indrawati. Diawali sembahyang di altar Thian Yang Maha Kuasa untuk memohon izin mengadakan doa di kelenteng.
   
Selanjutnya doa dipanjatkan kepada dewa-dewa lain. Seperti Kwan See Im Poo Sat (Dewi Welas Asih), dan Kong Tik Tjoen Ong (Dewa Pengobatan). Dewa yang disebut terakhir ini dianggap sebagai tuan rumah Kelenteng Hong San Kiong.
   
Ini, menurut Guntoro, juru kunci TITD Hong San Kiong, karena dialah yang pertama kali dibawa ke kelenteng ini, sekitar 300 tahun lalu. Ritual diakhiri pembakaran kertas uang-uangan.
      
”Ini bermakna sebagai pengiriman kepada arwah para leluhur agar seluruh kebutuhan mereka di alam baka selalu terpenuhi,” jelas Guntoro.

Penulis: Sutono
Editor: Satwika Rumeksa
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
724162 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas