Minggu, 21 Desember 2014
Surya

JFC-12 Digelar Selama Enam Hari

Minggu, 25 Agustus 2013 20:15 WIB

JFC-12 Digelar Selama Enam Hari
Fashion bertema spider

SURYA Online, JEMBER - Jember Fashion Carnaval (JFC) kembali digelar. Tahun ini, JFC memasuki usia yang ke-12. JFC-12 mengambil tema 'Artechsion'. Artechsion merupakan penggabungan kata art, technology dan illusion.

Puncak karnaval digelar, Minggu (25/8/2013). Sebanyak 750 orang model tampil dalam karnaval yang dikenal dengan 'street canival' itu. Seperti tahun sebelumnya, para model menempuh jalur sepanjang 3,6 kilometer mulai dari alun-alun kota Jember hingga berakhir di GOR Kaliwates, Jember.

Untuk mempresentasikan sang tema, ada 10 defile ditampilkan yakni Tibet, Betawi, Beetle, Artdeco, Bamboo, Canvas, Spider, Tribe, Octopus dan Venice. Para model menampilkan kostum sesuai dengan defile.

Pasti selalu ada kostum nasional dalam defile yang dipilih. Selain defile untuk kostum nasional, defile lain menampilkan kostum internasional, alam juga perpaduan seni dan teknologi sesuai temanya 'Artechsion'.

Kostum nasional yang dipilih untuk JFC tahun ini adalah Betawi. Dalam defile Betawi, kesenian, pakaian juga kebudayaan Betawi diusung ke Jember untuk mata Internasional melalui JFC International Event 2013.

Para model mengeksplorasi pakaian dan kesenian khas Betawi. Bola-bola benang siet khas Betawi mendominasi kostum para model.

Warna-warni yang cantik disuguhkan oleh 50-an orang model dalam defile itu. Mahkota, sayap, juga pakaian-nya dibuat semenarik mungkin untuk menampilkan Betawi ala JFC. Ketika tampil, musik khas Betawi selalu mengiringi mereka.

Ondhel-Ondhel Betawi tidak lupa juga disuguhkan.
Puluhan pesilat juga memeragakan keahlian mereka bak jawara Betawi, mendampingi para abang dan none Betawi ala JFC.

"JFC memang karnaval kelas internasional dan selalu mengambil tema internasional, tetapi selalu ada satu tema tentang kebudayaan Indonesia di setiap penampilan JFC. Tahun ini kami mengambil Betawi. Kebudayaan yang luhur dan unik, asli milik Indonesia," ujar Presiden JFC Dynand Fariz.

Pada JFC sebelumnya, sejumlah kebudayaan Indonesia yang pernah diusung antara lain Minangkabau, Borneo, Papua, juga Bali dan Toraja. "Karena JFC ini ada di Jember, ada di Indonesia," imbuh Dynand.

Sedangkan defile internasional bisa diliihat dalam Tibet dan Venice. Tibet menjadi defile pembuka, sementara Venice menjadi defile penutup karnaval itu. Dalam Venice, penonton seakan diajak berjalan-jalan ke sebuah kota romantis di Italia, Venice.

Kostum cantik warna-warni mendominasi defile. Warna ungu berpadu dengan biru memanjakan mata ribuan fotografer yang hadir dalam JFC-12.

Topeng dan rok yang besar di era Victoria mempercantik penampilan para model. Musik pengiring dansa mengalun di catwalk utama ketika para model bergaya di depan ribuan pengunjung dan fotografer.

"Venice, sebuah kota yang dikenal sebagai kota wisata, dengan pesta topengnya telah menjadi inspirasi bagi JFC untuk menghadirkan warna emas, biru dan ungu serta warna lain dalam defile Venice," ujar Art Director JFC, Budi Setiawan.

Keunikan JFC lainnya adalah tema alam dan illusion yang selalu diangkat. Kali ini Bamboo, Octopus, juga Spider mewakili keindahan alam ciptaan Tuhan. Sementara Artdeco dan Canvas mewakili indahnya kreasi manusia dalam lukisan (Canvas)dan arsitektur (artdeco).

Artdeco menampilkan keindahan arsitektur di tahun 1920-an. Warna hitam dan emas mendominasi kostum di defile ini. Potongan simetris dan asimetris menjadi keunggulan kostum defile Artdeco.

Sedangkan Canvas, seakan mengajak penonton mengarungi lautan tinta yang digoreskan dalam canvas putih yang menjadi kostum para model.

Coretan warna di canvas diubah menjadi kostum dan pakaian unik dalam JFC-12.

"Kami harus menampilkan sesuatu yang berbeda, karena kami ingin JFC menjadi trendsetter karnaval modern di dunia, juga karnaval fashion," imbuh Dynand Fariz.

JFC telah memasuki usia yang ke-12. Tidak ingin monoton, kali ini dikemas dalam 'JFC International Event'. Tidak hanya karnaval yang disuguhkan, tetapi juga pameran. Karenanya, tidak hanya digelar sehari, seperti tahun-tahun sebelumnya, namun digelar dalam waktu enam hari, mulai Selasa (20/8/2013) hingga Minggu (25/82013).

Pameran yang digelar adalah pameran lukisan, foto dan kuliner. Sedangkan karnavalnya digelar selama tiga hari, dimulai oleh Kids Carnival, Jumat (23/8/2013); Art Wear Carnival, Sabtu (24/8/2013) dan Grand Carnival yang menjadi karnaval puncak, Minggu (25/8/2013).

Menurut Dynand, JFC ingin mendorong tumbuhnya industri kreatif di Jember melalui pameran-pameran. "Kaos bertema JFC, suvernir bertema JFC, juga makanan dan minuman yang terinspirasi JFC. Kami juga ingin mendorong tumbuhnya investasi di Kabupaten Jember melalui karnaval ini," tegas Dynand.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Satwika Rumeksa

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas