Bukber Cerpen Ramadan

Buka bersama yang dilakukan Komunitas Malang Menulis ini memang berbeda dari kelaziman bukber pada umumnya. Apa itu?

Oleh : Sandi Iswahyudi
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang  
iswahyudi779@gmail.com

BUKA bersama (bukber) di bulan Ramadan jamak dilakukan. Namun, menu bukber yang tersaji di café toko buku Togamas, Jumat (26/7/2013) lalu terasa berbeda. Komunitas Malang Menulis menyajikan menu cerita pendek dengan lauk tema, alur, penokohan, pesan yang disisipkan, hingga gaya bahasa. Tak heran, bukber cerpen Ramadan itu diminati berbagai kalangan dari lintas generasi.

Sore itu dua santapan berbeda disajikan Esa yang menyuguhkan Tidak Ingin dan Rajih Ararki menghidangkan Aku, Ayah dan Telepon Genggam. Semua yang hadir sigap menyantap dua menu yang disuguhkan dan kemudian bebas mengomentari citarasanya. Tidak Ingin, menyodorkan fenomena sosial tentang seorang wanita karir di zaman modern yang masih dijodohkan. Sementara, racikan Rajih Ararki menjelaskan seorang bocah yang menginginkan telepon genggam dari sang ayah.

Usai menyantap kedua hidangan, peserta bukber pun belajar ilmu kehidupan, pertama, untuk sukses kita harus istiqomah dan kerja keras dan kedua betapa kemasan apik lebih menarik ketimbang yang biasa-biasa saja. Kemasan tersebut bisa berupa judul dan paragrap pertama. Kemasan akan memiliki daya simpan panjang, daya tarik dan nilai jual tinggi. Dan, salah satu hikmah di bulan puasa adalah memperbaiki kemasan sekaligus kualitas isi tubuh dan hati. Beduk bertalu, santapan diakhiri dan berganti dengan santapan yang manis dan dilanjutkan dengan salat berjamaah.

Tags
cerpenis
Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved