• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Surya

Mengajar dengan Kurikulum 2013

Senin, 22 Juli 2013 20:51 WIB
Mengajar dengan Kurikulum 2013
Ardi Wina Saputra

Oleh: Ardi Wina Saputra
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
c.ardi_7@yahoo.com

Tidak ada sesuatu yang tak bisa dipecahkan oleh dunia pendidikan. Itu ungkapan Dr Yuni Pratiwi MPd ketika membimbing mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM), dalam pembekalan praktik pengalaman lapangan (PPL), belum lama ini. Dosen Sastra Indonesia UM ini membakar jiwa kami sebelum praktik mengajar agar tidak patah arang menghadapi tantangan. Sebelumnya kami sempat risau dan gusar karena materi yang hendak diajarkan adalah materi baru yang notabene terangkum dalam kurikulum 2013.

Sehari sebelum pembekalan PPL I, saya mendatangi SMKN 2 Malang untuk nuwun sewu sekaligus berkenalan dengan guru pamong. Di sana saya dan beberapa teman diterima baik dan diinstruksikan mengajar kelas X. Dra Asnimarwati yang merupakan guru pamong saya meminjamkan buku ajar kelas X dari Kemendikbud. Buku ini tentunya menjadi buku acuan untuk diaplikasikan dalam pembelajaran.

Saya heran ketika membuka halaman awal, tepatnya halaman 8. Pada halaman tersebut, siswa ditugaskan mengisi diagram yang mengklasifikasikan benda hidup dan tidak hidup. Saya mencoba melemparkan ingatan saya ke masa lalu dan teringat tugas seperti ini pernah saya dapatkan di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas 4 SD. Hal-hal seperti inilah yang membuat siswa cepat bosan, karena secara teoritis hal tersebut menyalahi hukum belajar.

Menurut teori Cluster, hukum belajar adalah Input + 1. Jadi targetnya harus minimal setingkat lebih tinggi dari kemampuan siswa sehingga siswa memiliki motivasi untuk meningkatkan kemampuanya melalui belajar. Selain anomali tadi, bahan ajar tahun ini menggemukkan aspek kebahasaan dan mengkuruskan aspek sastra.

Strategi yang ditempuh untuk mengatasi problema tersebut dipecahkan bersama dalam PPL I. Lewat bantuan dosen pembimbing, kami diajak untuk berinovasi memecahkan permasalahan ini. Salah satunya adalah dengan kembali pada kaidah bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013, yaitu bahasa merupakan alat berpikir. Saya dan teman-teman diajak untuk bereskplorasi menggunakan bermacam teks yang dapat menggantikan posisi diagram halaman 8 tadi.

Teks yang kami jadikan alternatif pengganti tentunya teks yang ada relevansinya dengan jrusan yang hendak kami ajar di SMK. Saya mengajar jurusan tata boga, jadi harus mengambil teks yang menarik, seperti teks keanekaragaman kuliner Indonesia. Saya bisa mengambil foto Chef Juna yang edang memasak masakan tradisional, agar menarik minat siswa.

Mengatasi minimnya unsur sastra Dr Yuni Pratiwi MPd menyarankan, alangkah baiknya sastra diintegrasikan secara tersirat dalam pembelajaran. Khususnya saat membuka pelajaran (apresepsi), pengajar dapat membukanya dengan membaca puisi, atau berpantun jenaka atau bahkan menyanyikan lirik lagu guna memancing perhatian siswa agar tertarik pada pembelajaran tersebut. Nantinya apresepsi yang menarik ini diharapkan mampu menggiring siswa memasuki materi inti pembelajaran.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
672372 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas