Jumat, 19 Desember 2014
Surya

Segarnya Sayur Asem Belimbing Wuluh

Minggu, 30 Juni 2013 23:49 WIB

Segarnya Sayur Asem Belimbing Wuluh
surya/ahmad zaimulhaq
Seporsi nasi sayur asam empal di Depot Lumintu, Jl Dinoyo
SURYA Online, SURABAYA – Sayur asem boleh jadi dianggap masakan kampung yang jarang ditemui di restoran atau tempat makan masa kini. Menu yang dikenal luas di nusantara ini turun temurun masuk ke dapur rumah. Senantiasa mengisi daftar makanan dalam seminggu.

Dihidangkan bersama nasi putih, tempe atau tahu goreng, empal goreng, dan ikan asin serta sambal terasi, sayur asem siap mengenyangkan perut. Kesan sama dirasakan pembeli yang datang ke Depot Lumintu Dinoyo milik Bu Sudarmi.

Sayur asem ini menjadi menu andalan depot yang sekarang dikelola putri Sudarmi, Titik Tri Rahayu. Walaupun sudah pindah lokasi hingga lima kali, tetap saja para pelanggan datang menghampirinya. Sayur asemnya selalu membuat rindu mereka.

“Saya menyukainya karena kuahnya putih,” ujar Lala yang datang bersama suaminya, Amin, Selasa (14/5/2013).

Kuah sayur asem resep Sudarmi ini hanya memakai bumbu irisan bawang putih, garam, dan gula. Rasa asam berasal dari bahan belimbing wuluh yang diiris besar oleh Titik. Sayur pelengkapnya antara lain krai, kacang panjang, dan kecambah besar.

“Sayur asamnya beda, nggak pakai asam mentah sehingga tidak terasa pahit,” papar Amin.Suami istri ini biasanya menyantap sayur asam atau menu lainnya, tempe penyet. Selain juga lauk dadar jagung yang terasa mantap.

Hampir setiap hari mereka sarapan atau makan siang di sana. Menurut Amin, menu rumahan seperti ini baik untuk menghindari kolesterol. Walaupun terkadang mereka bersama teman-temannya juga masih makan malam di restoran dengan menu Eropa, China, atau fushion.

Nasi Pecel Gendongan
Depot Lumintu Dinoyo diawali ketika Sudarmi berjualan nasi pecel gendongan sejak 1967. Perempuan asal Solo tersebut menjajakan nasinya keliling kampung Dinoyo. Walaupun dari Jawa Tengah tetapi masakan yang dibuatnya selalu berupa makanan Jawa Timur.

Kemudian, ada tetangga yang menawari stan untuk berjualan nasi pecel di pojok Jl Dinoyo.

Dari sana kemudian usaha kuliner ini berkembang. Selain pecel, Sudarmi memasukkan nasi gudeg ke dalam daftar menunya. Sebab, dia sudah tidak kerepotan membawa segala jenis lauk yang biasanya disajikan dalam nasi gudeg. “Gudeg juga banyak disukai pelanggan di depot hingga saat ini,” ujar Titik.

Dan menu demi menu pun bertambah. Seperti nasi pecel telur, nasi campur telur, nasi krengsengan, nasi rawon, nasi kare ayam, nasi sambal goreng hati, nasi sup sayur empal, dan nasi ayam goreng. Sementara jenis minuman diantaranya es teh, jahe sekoteng, susu panas, es sirup selasih,  temulawak, dan susu soda. Harga berkisar Rp 3.000 hingga Rp 19.000.

Sayur asem sejauh Titik mengingat mulai ada sejak 1970an. Dalam sehari, terjual 80 porsi sayur asem, bahkan tak jarang mencapai 100 porsi lebih terutama saat ada pesanan. Sehingga, mereka akan memasak sayur asem lagi supaya tetap fresh ketika disajikan kepada pembeli.

Pembeli biasanya memesan seporsi nasi sayur asem lengkap dengan tahu bacem, tempe goreng, atau empal goreng. Sesuai permintaan pembeli, kecambah besar dipisahkan dari kuah sayur asem yang berisi krai, kacang panjang, dan irisan belimbing wuluh.
“Dipisah sebab beberapa orang tidak menyukai kecambah besar,” ungkap Titik.

Dibanding mereka yang tidak menyukai kacang panjang dalam kuah sayur asem, memilah kecambah besar lebih rumit maka sebaiknya wadahnya dipisah dari kuah.
Resep sayur asem Sudarmi memang beda dengan sayur asem khas Surabaya yang memakai campuran bumbu uleg cabe dan kemiri dalam kuahnya. Sudarmi memakai belimbing wuluh sebagai perasa asam dalam sayur asem. Sedangkan empal goreng dibuat dari daging sapi yang dibumbui garam, gula, ketumbar, kemiri, dan bawang putih.

Belimbing membuat kuah tampak bening dan segar. Karena musiman, Titik harus berusaha keras memperolehnya di saat musim-musim tertentu. Sehari kebutuhannya mencapai tiga hingga lima kilogram. Belimbing wuluh ini baik untuk menurunkan darah tinggi. Tak jarang, pembeli banyak yang minta porsi belimbing wuluhnya banyak.

Depot Lumintu Dinoyo ini buka mulai pukul 07.30 hingga 19.00. Namun, selama dua tahun belakangan ini mereka tidak buka saat bulan puasa Ramadhan. Titik mengelola Depot Lumintu dibantu oleh Winarso, putra pertama dari lima anak Sudarmi yang juga kebagian tugas memasak.

Di tangan mereka berdua ini depot semakin berkembang. Meskipun sudah lima kali pindah lokasi, tetap saja pelanggan berdatangan.

“Kami berencana akan pindah lokasi lagi tahun depan,” ungkap Winarso. Lokasi baru tersebut kemungkinan besar berada di Jl Kayun.

Alamat:
Depot Lumintu
Jl Dinoyo 130, Surabaya
Telepon: (031) 83037227
Penulis: Marta Nurfaidah
Editor: Parmin

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas