Jumat, 19 Desember 2014
Surya

Dindik Surabaya Digeruduk Ortu

Sabtu, 29 Juni 2013 21:17 WIB

Dindik Surabaya Digeruduk Ortu
surya/ahmad zainul haq
PANIK - Orang tua calon siswa panik saat pendaftaran hari terakhir PPDB di Kantor Diknas Surabaya, Sabtu (29/6/2013).
SURYA Online, SURABAYA - Strategi pendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Surabaya yang menggunakan hari terakhir untuk meng-upload pendaftaran berbuah simalakama.

Di hari terakhir pendaftaran, Sabtu (29/6/2013), laman PPDB bermasalah (error) sejak pagi sehingga membuat ratusan orangtua panik dan menggeruduk Kantor Dinas Pendidikan Surabaya.

Permasalahan yang dibawa bermacam-macam. Ada yang tidak bisa  mendaftar online dan ada juga yang sudah mendaftar tapi namanya tidak bisa diverifikasi dalam rekapan hasil sementara per sekolah.

"Sejak tadi pagi saya mencoba masuk ke laman pendaftaran. Tapi gagal terus," gerutu Herlina, warga Kapasari saat ditemui surya.co.id, Sabtu (29/6/2013).

Herlina sengaja mendaftar di hari terakhir untuk melihat peluangnya di semua sekolah. Awalnya, dia mengincar SMPN 37. Namun sehari menjelang penutupan nilai Unas minimal yang diterima di sekolah tersebut lebih dari 26.

Sementara nilai Intan, anaknya hanya 25,65. Akhirnya Herlina memutuskan memilih SMPN 18. Tapi ketika baru dibuka laman pendaftaran sudah tidak bisa diakses.

Herlina lalu menuju ke SMPN 18 untuk mendaftar manual, tetapi komputer di sekolah tersebut juga tidak bisa membuka laman pendaftaran.

"Akhirnya saya disarankan ke sini. Ternyata harus antre. Saya sampai ninggal anak saya yang masih kecil di rumah garai-gara ini,"gerutu Herlina.

Kekecewaan serupa dialami Edi Supriyanto, orangtua Frihat alumni SDN Wonokusumo 5, yang mengeluhkan nama anaknya tidak masuk dalam daftar siswa di SMPN 44.

Padahal jika dilihat nilai Frihat lebih tinggi dari nilai terendah yang diterima di sekolah tersebut. "Tadi malam saya lihat nilai terendah SMPN 44 hanya 21 koma. Sedangkan anak saya 22,50, tapi kenapa nama anak saya tidak masuk," tanya Edy.

Edy bisa menerima jika tidak adanya nama Frihat di daftar siswa yang diterima di SMPN 44 karena nilainya tidak memenuhi, bukan semata-mata masalah teknis.

"Sebelumnya dia memilih SMPN 18 dan 31. Tapi ternyata nilainya tidak mencukupi. Saya gak masalah karena fair. Tapi kalau tidak ada karena masalah teknis saya tidak terima," katanya.

Apalagi, lanjut Edi, pihaknya tidak ada masalah dengan tempat tinggalnya.
"Saya asli Pogot, jadi saya benar-benar orang Surabaya," tegasnya.

Saking banyaknya permasalahan yang dialami orangtua siswa membuat suasana di Kantor Dindik Surabaya terlihat tegang. Apalagi semakin siang semakin banyak orangtua yang menggeruduk hingga membuat antrean berjubel di Sekretariat PPDB maupun di Kantor Sekretariat Dindik Surabaya.

Menjelang penutupan pukul 16.00 WIB, satu regu Dalmas dari Polsek Wonokromo meluncur ke Dindik Surabaya untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan.

Sekitar pukul 15.30 WIB, antrean orangtua siswa mulai terurai dan sekitar pukul 15.40 WIB seluruh pendaftar akhirnya dilayani.

Ada yang puas karena anaknya masuk sekolah negeri. Namun ada yang kecewa karena terlempar dari pagu sekolah negeri.

Ketua Tim Teknis PPDB Dwi Sunaryono mengungkapkan, errornya sistem PPDB online disebabkan karena sejumlah server dari total 10 server yang disediakan dipakai untuk memverifikasi pendaftar yang berasal dari luar kota.

Sementara di sisi lain, jumlah pendaftar yang mencoba masuk ke server membludak di hari terakhir. "Kami sudah menyelesaikan proses verifikasi. Kalau sudah selesai pasti lancar kembali," katanya.

Terkait nama siswa yang tidak muncul, menurut Dwi, kemungkinan nilai tersebut di bawah standar nilai yang diterima di sekolah tersebut. "Dari beberapa pengaduan yang kami terima. Ternyata setelah diteliti banyak yang salah masuk. Misalnya, siswa dari luar kota ternyata saat mendaftar dia masuk sebagai siswa dalam kota. Tentu saja ini tidak akan terlihat," terang dosen ITS itu.
Penulis: Musahadah
Editor: Wahjoe Harjanto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas