Minggu, 21 Desember 2014
Surya

Jalur Mandiri Berbiaya Mahal, Unair Rp 250 Juta, ITS Rp 45 Juta

Jumat, 28 Juni 2013 20:39 WIB

SURYA Online, SURABAYA – Sistem uang kuliah tunggal (UKT) ternyata hanya berlaku bagi mahasiswa baru yang masuk melalui jalur seleksi masuk nasional (SNMPTN dan SBMPTN). Sedang calon mahasiswa baru yang masuk jalur kemitraan dan mandiri tetap diwajibkan membayar biaya sumbangan pengembangan pelayanan pendidikan (SP3) atau yang biasa disebut uang gedung.

Di Unair, istilah SP3 diubah  dengan nama Uang Kuliah Awal (UKA) bagi pendaftar dalam negeri. Pendaftar berwarga negara asing istilahnya tetap SP3.
Sedangkan di ITS bernama Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI).

UKA Unair cukup tinggi dibandingkan rata-rata di ITS. UKA terbesar tetap di pegang jurusan Pendidikan Dokter yakni Rp 70 juta. Disusul Pendidikan Dokter Gigi Rp 60 juta dan Kedokteran Hewan Rp 50 juta.

UKA (SP3) ini semakin berlipat untuk pendaftar luar negeri. Untuk Pendidikan Dokter, warga asing dikenakan SP3 Rp 250 juta. Dan Pendidikan Dokter Gigi SP3 sebesar Rp 175 juta.

Sementara di ITS nilai SPI berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 45 juta. SPI Rp 45 juta berlaku untuk delapan jurusan yakni Teknik Elektro, Teknik Industri, Manajemen Bisnis, Teknik Multimedia dan Jaringan, Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, Teknik Informasi dan Sistem Informasi.

 Uang Kuliah (UK) yang dibayar per semester di Unair besarannya bervariasi di tiap-tiap program studi. Biaya terbesar tetap Pendidikan Dokter sebesar Rp 15 juta per semester, kemudian Pendidikan Dokter Gigi Rp 12,5 juta dan Kedokteran Hewan Rp 7,5 juta per semester.

Di ITS besaran uang kuliah jalur kemitraan dan mandiri menganut nilai UKT tertinggi yakni Rp 7,5 juta per semester untuk semua program studi, kecuali prodi teknik sistem perkapalan double degree sebesar Rp 19,7 juta per semester.

Wakil Rektor II Unair, M Nasih mengatakan besarnya UK/S dan UKA ini yang harus dibayarkan calon mahasiswa, tidak bisa kurang maupun lebih. Tidak ada tawar menawar UK/S maupun UKA, apalagi tawar menawar ini berkaitan dengan kelulusan. ”Kelulusan tetap didasarkan pada hasil ujian saja. Tidak ada kaitannya dengan kesanggupan membayar,” tegas Nasih saat dihubungi surya.co.id, Jumat (28/6/2013).

Seleksi jalur mandiri Unair akan digelar 7 Juli 2013. Terdiri tes potensi akademik (kemampuan verbal, numerik dan penalaran), tes prestasi akademik yang dibagi dalam kelompok IPA, PS dan IPC.

Hal ini berbeda dengan ITS yang mendasarkan seleksi pada hasil nilai SBMPN. Karena itu pendaftar jalur mandiri ITS harus lebih dulu mengikuti SBMPTN.

Kepala Bagian Akademik ITS Ismaini Zain mengungkapkan, kelulusan jalur mandiri ini didasarkan pada hasil tes dan tidak ada kaitannya dengan kesanggupan membayar.

”SPI yang kami tetapkan memang nilai terendah yang harus dibayar calon mahasiswa. Tapi bukan berarti yang sanggup membayar tinggi akan menang dibandingkan dibawahnya. Semua tetap dilihat pada kompetensi yakni nilai SBMPTN. Meski sanggup membayar tinggi tapi nilai rendah tentu tidak akan masuk,”tegas dosen Statistika ITS.

Ismaini mencontohkan tahun lalu di mana ada salah satu pendaftar yang protes karena sanggup membayar hingga Rp 250 juta, tapi tetap tidak masuk karena nilainya rendah. ”Pendaftar dipersilakan menulis biaya, tapi itu bukan parameter penilaian,”katanya.

Bagaimana jika ada nilai yang sama? Menurut Ismaini sudah ada sistem yang dibuat yakni dengan melihat lebih dahulu di tes kemmapuan dasar saintek (soshum), kemudian tes kemampuan umum dan terakhir tes potensi akademis. ”Jadi, tidak ada besar-besaran uang,”tegasnya.
Penulis: Musahadah
Editor: Parmin

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas