Paksa Dewan Tolak Kenaikan BBM
Untuk menghindari aksi massa lanjutan, aparat kepolisian mengalihkan arus kendaraan bermotor plat merah, agar tidak melewati kawasan Arek Lancor
Penulis: Muchsin | Editor: Wahjoe Harjanto
Dalam aksinya, pendemo tidak hanya membentangkan kain putih sepanjang 110 meter untuk ditandatangi penolakan kenaikan BBM, tapi juga merusak mobil kijang patroli milik Satpol PP Pamekasan.
Pemicunya, ketika kain kafan itu dibentangkan di area Monumen Arek Lancor dan beberapa warga sedang membubuhkan tanda tangan, tiba-tiba datang mobil dinas Satpol PP yang melaju kencang ke arah kerumunan massa.
Selanjutnya massa menghadang meminta berhenti, namun mobil itu terus melaju sehingga di antara massa memukul badan mobil dan menendangnya, serta melemparkan helm, pentungan kayu dan batu ke arah mobil yang terus berlalu.
Untuk menghindari aksi massa lanjutan, aparat kepolisian mengalihkan arus kendaraan bermotor plat merah, agar tidak melewati kawasan Arek Lancor.
Berselang tidak berapa lama, massa bergerak menuju Kantor DPRD Pamekasan dan meminta pimpinan DPRD membubuhkan tanda tangan menolak kenaikan BBM.
Beberapa anggota DPRD, di antaranya Ketua Komisi A DPRD Pamekasan, Suli Faris, Wakil Ketua Komisi D DPRD Pamekasan, K Juhaini dan dua anggota dewan, Zainal Abidin, dari PAN dan Ahmad Busir dari PKNU ke luar menemui pengunjuk rasa dan membubuhkan tanda tangan di kain kafan menolak kenaikan BBM.
“Sekarang belum saatnya BBM naik dan waktunya tidak tepat. Saya mendukung aspirasi teman-teman,” kata Suli Faris dari PBB.
Koordinator Lapangan, Zaini Werwer mengaku kecewa terhadap dewan lantaran yang menandatangani penolakan hanya segelintir orang. “Kami minta anggota dewan yang di dalam keluar, temui kami dan tolak kenaikan BBM,” kata Zaini Werwer.