AJI dan PWI Kediri Kecam Penembakan Wartawan
AJI dan PWI Kediri Kecam Penembakan Wartawan
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Parmin
Demikian rilis yang disampaikan Hari Wasono, korlap aksi keprihatinan AJI dan PWI Kediri menyikapi masih adanya tindak kekerasan terhadap wartawan yang diterima Surya Online, Selasa (18/6/2013).
Diungkapkan Hari, proses hukum terhadap pelaku kekerasan tidak pernah jelas. Apalagi, sebagian pelaku kekerasan adalah aparat keamanan.
Fenomena ini merusak tatanan demokrasi di negara kita yang sedang
berkembang. Kasus kekerasan terakhir menimpa Nugroho Anton, wartawan Trans7 yang terkena serpihan gas air mata saat meliput demo BBM di Jambi, dan Roby Kelery, fotografer di Ternate terkena peluru karet pada paha kirinya.
Rentetan peristiwa kekerasan terhadap wartawan yang tak diikuti oleh penyelesaian kasus menempatkan Indonesia rentan terhadap kekerasan.
RSF (Reporters Sans Frontieres) organisasi wartawan internasional yang berkantor pusat di Paris juga memberikan catatan buruk untuk kebebasan pers di Indonesia.
RSF menyebut pada 2011, peringkat kebebasan Indonesia 147 dunia atau peringkat ke-9 di Asia Tenggara.
Mengingat kasus kekerasan terhadap wartawan sebagai penopang demokrasi di Indonesia terus meningkat serta tidak jelasnya pengusutan berbagai kasus kekerasan terhadap wartawan. Aliansi Jurnalis Independen Kota Kediri dan PWI Kediri menyatakan sikap:
Mengecam terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan aparat terhadap
jurnalis di Jambi dan di Ternate.
AJI Kediri dan PWI Kediri menuntut pengusutan tuntas kasus kekerasan terhadap dua jurnalis yang menjadi korban.
Menuntut Kapolri Jenderal Timur Pradopo mundur dari jabatannya, karena kurang responsif terhadap kasus kekerasan terhadap wartawan.
Mendesak aparat untuk memberikan perlindungan kepada wartawan yang sedang menjalankan tugasnya. Menuntut perusahaan media membekali jurnalisnya dengan safety journalist.