• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Surya

Anak-anak Eks Lapas pun Meretas Masa Depan

Jumat, 7 Juni 2013 17:15 WIB
Anak-anak Eks Lapas pun Meretas Masa Depan
surya/sutono
Anak-anak eks lapas berbaur dengan nonlapas sedang belajar di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Yalatif.
SURYA Online, JOMBANG-Sejumlah anak usia remaja sibuk menggunting kertas warna-warni berbagai ukuran dan bentuk. Selanjutnya, tanpa takut tangannya kotor, mereka mencolek lem dan menempelkan potongan-potongan kertas tersebut pada bilahan bambu.
    
Mereka rupanya sedang mengerjakan ketrampilan atau kerajinan tangan membuat hiasan dinding. Para remaja itu seluruhnya mantan atau eks penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas).
    
Itulah pemandangan yang terlihat di teras rumah ‘markas’ lembaga sejenis LSM, bernama Shelter Rumah Hati (SRH), Jalan Wisnuwardhana No 8 Jombang, Kamis (6/5/2013).
       
SRH memang memberikan tempat bagi anak-anak untuk tinggal sementara setelah keluar dari lapas. SRH ini memberikan program pendampingan psikososial maupun terapi kerja bagi anak penghuni dan mantan penghuni lapas.
    
Tujuannya agar mereka mendapatkan kepercayaan diri, sekaligus meretas masa depannya. Mereka juga diharapkan lebih siap menjalani kehidupan di masyarakat dengan kayakinan diri yang lebih kuat serta ketrampilan yang memadai guna mandiri secara ekonomi.
       
"Target saya tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin menjadi orang baik dan dihargai," ujar Samanhudi (17), eks penghuni Lapas Medaeng, yang menjadi salah satu ‘binaan’ SRH. Samanhudi sendiri menjadi napi setelah terlibat kasus asusila.
       
Samanhudi bersama tiga teman lainnya melakukan sejumlah aktivitas. Mulai belajar, kursus keterampilan, sampai refleksi serta penguatan rencana-rencana menyongsong masa depan yang lebih baik.
    
Para remaja itu memang mengikuti pendidikan luar sekolah, kursus keterampilan dan kursus komputer. Samanhudi menuturkan, sejak keluar dari Lapas sekitar lima bulan lalu, waktunya kini lebih banyak dihabiskan untuk tinggal dan beraktivitas di SRH.
    
"Kami di sini belajar banyak hal, tapi yang paling penting adalah motivasi untuk menatap masa depan yang lebih baik," tutur Saman, sapaan Samanhudi.     Saman mengaku, keluarganya sengaja meminta dia tinggal di SRH agar kepercayaan diri, harga diri dan motivasinya bisa terangkat.
       
"Saya sadar jika saya salah dan berharap jangan sampai terjadi lagi. Keluarga mendukung keinginan saya, dan meminta saya tinggal di sini. Kalau tinggal di kampung, bisa-bisa saya tidak keluar rumah karena tidak tahan cibiran orang," tutur Saman.
       
Cibiran dan stigma buruk dari masyarakat akibat menyandang label mantan penghuni lapas membuat Saman tertantang guna membuktikan dirinya bisa menjadi manusia yang baik.     
       
Untuk meretas jalan kehidupan yang lebih baik, dirinya tak ragu mengikuti pendidikan kesetaraan, kursus keterampilan dan pendidikan informasi dan teknologi.
       
"Saya bersyukur ada yang mau terima saya sekolah, meski nonformal," tutur Samanhudi yang pada tahun ajaran 2013-2014 bersiap mengikuti Ujian Nasional untuk paket B.
    
Pernyataan senada dikemukakan Angga Riki Andika (15) serta Andre Prasetya (13). Dua anak eks penghuni lapas Jombang karena kasus pencurian ini sedang merenda masa yang lebih baik dengan mengikuti pendidikan paket B dan mengikuti kursus keterampilan.
    
"Cita-cita saya jadi orang kaya, jadi orang baik, bisa dihargai orang dan menghargai," ujar Angga,. Aktivitas rutin bagi Samanhudi, Angga dan Andre sudah tertata cukup rapi.
    
Senin dan Selasa malam mereka kursus komputer. Rabu malamnya kursus keterampilan sudah menanti. Hari Sabtu dan Minggu malam mereka mengikuti pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Yalatif Diwek Jombang. Sedangkan saat pagi hingga siang selain hari Jumat, bocah-bocah remaja ini membuat karya kerajinan tangan.
    
Pengelola PKBM Yalatif, Akhmad Zainuddin mengatakan, hakikat pendidikan di Indonesia seharusnya bisa dinikmati seluruh anak bangsa, termasuk anak-anak eks penghuni Lapas.
    
"Kami menerima anak-anak mantan napi belajar disini semata-mata agar hak anak pada pendidikan tidak terabaikan. Mereka memang pernah bermasalah tapi hak mereka tidak boleh terampas," ujar dia.
    
Dia mengungkapkan, ada tiga anak eks penghuni lapas yang mengikuti pembelajaran di PKBM Yalatif. "Dari 2011 total ada 11, tapi yang delapan anak sudah lulus,” kata Zainuddin.
    
Aktivis SRH, Arif Winarto, mengatakan, saat keluar dari lapas, rata-rata mereka mengalami guncangan psikologis. Mereka juga merasakan kegelapan masa depan. Itu pula yang diantisipasi oleh SRH.
       
"Anak-anak eks lapas harus diberi kesempatan sama untuk menikmati pendidikan dan menata hidup mereka. Masyarakat dan pemerintah seharusnya mendukung, dan memberikan kesempatan mereka memperbaiki nasib. Jangan malah membuat stigma negatif,” pungkas Wiwin, sapaan Arif Winarto.
       
Penulis: Sutono
Editor: Satwika Rumeksa
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas