Berita Tulungagung

Juara 1 Unas SMA se-Tulungagung Jadi Buruh Toko Pakan Burung

Kalaupun lolos Bidik Misi, Metta juga dihantui kekhawatiran orangtuanya tak mampu membiayai kebutuhan hidupnya

Juara 1 Unas SMA se-Tulungagung Jadi Buruh Toko Pakan Burung
surya/yul
Metta Andriani, juara Unas SMA jurusan IPA se-Tulungagung, menimbang pakan burung di tempat kerjanya, Selasa (28/5/2013).

SURYA Online, TULUNGAGUNG- Metta Andriani, juara 1 nilai Ujian Nasional SMA jurusan IPA se-Tulungagung terpaksa jadi buruh toko pakan burung. Siswi SMAN 1 Kedungwaru itu meraih nilai 56,45 tetapi kini tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

"Ayah saya tukang batu, ibu menjahit di rumah, ngambil orderan dari perusahaan konveksi," kata Metta kepada SURYA.co.id di tempat kerjanya, toko pakan burung Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Selasa (28/5/2013).

Metta lantas melanjutkan pekerjaannya, menimbang pakan burung ocehan untuk pelanggan toko milik Parlan itu.

Gadis kelahiran 2 Maret 1995 itu sebetulnya punya angan-angan jadi guru Matematika. Nilai Matematikanya bagus dibanding Biologi, Fisika dan Kimia. Itu sebabnya, ia ingin kuliah IImu Pendidikan Matematika. "Pinginnya di Universitas Negeri Malang," ujarnya.

Tetapi Metta kini menghadapi kenyataan lain. Saat teman-temannya sibuk bersiap menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, Metta harus menghafal harga kroto, sangkar burung, jangkrik dan aneka keperluan lain terkait ternak burung.

Anak pertama pasangan Santosa dan Emi Supangatin, Warga Desa Ngujang, Kedungwaru, itu sebenarnya juga sudah diberitahu pihak sekolahnya ihwal Bidik Misi, program pemerintah pusat membantu calon mahasiswa berprestasi tetapi kurang mampu.

Sayangnya, kata Metta, waktu ujian Bidik Misi dan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan bersamaan. Padahal, setahu dia, agar mudah lolos Bidik Misi idealnya juga lolos SNPMTN. "Kalau diterima kedua-duanya akan lebih mudah," katanya.

Kalaupun lolos Bidik Misi, Metta juga dihantui kekhawatiran orangtuanya tak mampu membiayai kebutuhan hidupnya.

"Kalau biaya kuliah sudah ringan, mungkin biaya hidup sehari-hari yang mahal bagi kami," katanya.

Apalagi, Metta masih punya adik yang belum beres sekolahnya. Pilihan praktis pun dijalani Metta. Sejak selesai Ujian Nasional SMA pada April lalu, Metta tiap hari bekerja di toko pakan burung sejauh kira-kira 1 Km dari rumahnya. "Tiap hari antar jemput, kadang oleh ayah, kadang ibu," ujarnya.

Pelajar berprestasi itu mendapat upah Rp 400.000 per bulan. Waktu kerjanya mulai pukul 13.30 sampai 21.00. Ia hanya menggeleng ketika ditanya apakah ingin tetap bekerja demikian.

Penulis: Yuli
Editor: Satwika Rumeksa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help