A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Anggaran 6 Lantai Disulap Jadi 4 Lantai Dilaporkan Polisi - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 18 April 2014
Surya

Anggaran 6 Lantai Disulap Jadi 4 Lantai Dilaporkan Polisi

Minggu, 26 Mei 2013 18:12 WIB
Anggaran 6 Lantai Disulap Jadi 4 Lantai Dilaporkan Polisi
surya/sudarmawan
Proyek sulapan pembangunan gedung Rawat Inap (Irna) RSUD dr Harjono, Kabupaten POnorogo yang rencananya dibangun 6 lantai realisasinya hanya dibangun 4 lantai belum selesai, Minggu (26/5/2013).
SURYA Online, PONOROGO-Sejumlah kejanggalan terjadi dalam pembangunan mega proyek RSUD dr Harjono, Kabupaten Ponorogo akhirnya dilaporkan ke polisi oleh LSM Amarta ke tim penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Ponorogo.

Ini menyusul pelaksanaan pembangunan proyek rumah sakit yang terletak di JL Raya Ponorogo - Pacitan, Desa Pakunden, Kecamatan Ponorogo itu memiliki sejumlah kejanggalan. Terutama pembangunan gedung Rawat Inap (Irna).

Bangunan gedung yang seharusnya dibangun 6 lantai ternyata dalam pelaksanaannya hanya dibangun 4 lantai. Apalagi, gedung lantai 4 belum selesai (belum tuntas) dikerjakan dan belum bisa difungsikan sama sekali. Padahal dalam pengajuan anggaran dari APBN itu memakan anggaran senilai Rp 40 miliar.

Para aktivis LSM yang juga tergabung dalam konsorsium itu menilai kejanggalan bangunan yang direncanakan 6 lantai, namun realisasinya hanya 4 lantai itu sebaga kejanggalan yang diduga melanggar hukum.

Ketua LSM Amarta, Heru Budiono mengatakan sudah melaporkan kejanggalan proyek RSUD itu ke Polres Ponorogo 6 mei 2013 lalu. Menurutnya, sebelum melaporkan kasus pembangunan rumah sakit itu pihaknya sudah melaksanakan telaah jika proyek yang didanai anggaran APBN melalui bantuan Dirjen Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan Tahun 2009 melalu Dipa senilai Rp 40 Miliar.

Selanjutnya, anggaran itu disalurkan dan dilaksanakan pada Tahun 2010 dengan sasaran RSUD Dr Harjono sesuai proposal ke Dirjen untuk pembanguan gedung rawat inap 6 lantai.

Namun dalam perjalanannnya, pembangunan gedung keluarga miskin (Gakin) lantai cair sekitar Rp 39 miliar.
"Indikasinya pembangunan gedung yang dianggarkan 6 lantai dan hanya dibangun 4 lantai tersebut sudah jelas menunjukan perencanaan dan pelaksanaan tidak sesuai dengan bantuan Dirjen Pelayanan Medik.

Apalagi, lantai 4 belum selesai pekerjaannya. Kami menduga penyimpangan itu harud dipertanggungjawabkan Kuasa Pengguna Anggaran (Satuan Kerja), PPK, Panitia Lelang, Tim Pengawas dan Rekanan Pemenang Tender," terangnya kepada Surya, Minggu (26/5/2013).

Selain itu, Heru mengungkapkan dalam mega proyek pembangunan gedung Irna 6 lantai tersebut, diduga terjadi dugaan penyimpangan penggunaan anggaran dalam pelaksanannya.

"Kami menduga proyek senilai hampir Rp 40 miliar tersebut adanya dugaan mark up dan pengalian kegiatan. Apalagi, jika tidak bisa menunjukan lampiran adendum. Dugaan lainnya adanya gratifikasi. Inilah yang harus dipertanggungjawabkan," imbuhnya.

Sedangkan dalam laporannya kemarin, kata Heru pihaknya bersama Konsorsium LSM menduga adanya pelanggaran tindak pidana korupsi sesuai denga pasal 2,3 dan pasal 12b UURI no 31 tahun 1999 Jo UURI No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi terkait pembangunan gedung RSUD dr Harjono Ponorogo yang bersumber dari APBN 2010 itu. Apalagi, berdasarkan hasil investigasi awalnya pembangunan fisik gedung rawat inap 6 lantai. Namun kini hanya ada 4 lantai.

"Apalagi lantai 4 belum tuntas pembangunannya. Kami menduga adanya dugaan mark up, gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang dan jabatan," tegasnya.

Yang mebuat janggal lainnya, dalam pemeriksaan baik teknis maupun nonteknis, pembangunan RSUD itu sudah diyantakan selesai 100 persen. Kondisi ini membuktikan adanya dugaan kejanggalan yang kasat mata. Kondisi menunjukkan adanya konspirasi yang berpotensi merugikan keuangan negara.

"Persoalan itu yang harus didalami tim penyidik Tipikor," paparnya.

Aroma dugaan penyimpangan semakin terlihat saat melihat dokumen kontrak proyek itu. Khusus pembangunan gedung rawat inap untuk Konsultan Perencana, PT Pilar Empat Surabaya, Konsultan Pengawas, PT Karya Indah Bandung dan pelaksana dikerjakan PT Duta Graha Indah (DGI) yang beralamat JL Sultan Hasanudin, No 69 Jakarta Selatan. PT DGI dengan direktur Dudung Purwadi sempat terseret dalam penyidikan korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan terdakwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin.

"Aroma manipulasi dan korupsinya memang sangat kuat. Makanya kami melaporkan kasus ini agar ada kejelasan hukum," pungkasnya.
Penulis: Sudarmawan
Editor: Satwika Rumeksa
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
593242 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas