Ketika Bambu Bicara
Pada bambu kita bisa mengenal dan belajar kearifan hidup.
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
Oleh: Getrudis Fransiska Kase
Mahasiswa Manajemen Informatika Universitas Katolik Widya Karya Malang
getrudiskase@yahoo.com
Hiruk pikuk kendaraan di jalan Gede, Kota Malang tidak mampu memadamkan semangat perajin bambu menyapa pengguna jalan untuk sekadar mampir. Di jalan Gede inilah para perajin bambu sanggup bertahan hidup selama puluhan tahun di tengah gempuran kerajinan modern yang terus merangsek masuk.
Bagio adalah salah satunya. Tangan pria berusia 35 tahun itu asyik menari di atas belahan bambu dan menganyamnya menjadi gedek atau dinding bambu. Setidaknya Bagio sudah bertahan selama 18 tahun menjadi perajin dan penganyam bambu. Bagio tidak sekadar piawai menganyam bambu. Ia memulai keahliannya dari mencari bahan pokok bambu yang kini mulai susah dicari. Toh Bagio tidak menyerah. Dulu, saat kereta api pabrik gula Kebun Agung masih melintasi jalan Gede, adalah masa keemasan perajin bambu. Ketika kereta api tidak lagi lewat di sana, pemerintah setempat mulai menata pedagang di jalan Gede dengan lapak-lapak khusus perajin bambu yang bertahan hingga sekarang ini.
Segala kerajinan berbahan bambu bisa dijumpai di sana, bahkan bisa memesan sesuai keinginan kita. Bambu adalah tanaman yang sangat kaya varian, memiliki banyak keunggulan, dan tahan terhadap berbagai cuaca. Tanpa obat khusus, bambu sebenarnya bisa awet dengan cara tradisional. Yakni, dengan direndam dalam lumpur selama beberapa minggu atau bulan. Semakin lama direndam, hasilnya akan semakin kuat. Bambu bisa dikreasikan menjadi apa saja, bukan sekadar peralatan dapur, furnitur, dinding rumah, bahkan alat transportasi juga memanfaatkan bambu sebagai salah satu medianya.
Dan di jalan Gede ini hanya sebagian kecil kawasan yang masih bertahan dengan bambu sebagai jualan utamanya. Tidak hanya warga Kota Malang yang mengenal kawasan jalan Gede ini, bahkan warga luar kota pun mengenal jalan Gede sebagai sentra bambu dan kerajinan bambu. Di kawasan yang sama pula, siapapun yang ingin mengenal sekaligus belajar kearifan hidup pada bambu, bisa bertandang ke sana.
KOMENTAR