Selasa, 9 Juni 2026

Sudah Gatal Terjun Lagi

Jadi saya sudah hampir lima bulan tidak terjun. Sudah gatal ini kaki,”

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Adi Agus Santoso
SURYA Online, SURABAYA - Sepanjang 2012 lalu, merupakan tahun yang memberi pengalaman tersendiri bagi Letda Laut (S/W) Boedi Setianingsih. Anggota Korps Wanita Angkatan Laut (kowal) yang berdinas di Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) ini, tercatat sebagai atlet terjun payung untuk kontingen Jawa Timur dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau.

Meski tidak berhasil membawa pulang mendali, hampir sering wanita berusia 43 tahun ini berkali-kali naik pesawat kemudian terjun bersama parasutnya. "Tak hanya saat latihan. Setelah tampil di PON, saya ikut kejuaran terjun payung untuk kelompok militer tingkat internasional. Saya bagian dari tim Indonesia bersama atlet terjun payung dari kesatuan lain,” jelasnya.

Namun sayang, sepanjang tahun 2013 ini, hingga Jumat (17/5), ibu dua anak ini belum mendapat kesempatan untuk terjun dari pesawat dan mengembangkan parasutnya. ”Tahun ini belum ada kejuaraan apa-apa. Jadi saya sudah hampir lima bulan tidak terjun. Sudah gatal ini kaki,” ungkapnya sambil tersenyum.

Kowal yang sehari-hari bertugas di bagian suplay ini, mengaku, karena bertugas bukan di bagian pasukan, untuk terjun payung, dia harus saat terpilih saat akan ikut kejuaran. Sehingga kesempatannya tidak banyak.

Meski lama tidak terjun, Boedi mengaku selalu menjaga staminanya bila sewaktu-waktu dipanggil untuk ikut kejuaraan terjuan payung. Salah satu yang siap digelar adalah kejuaraan terjun payung kelompok militer di bulan Juli mendatang, yaitu Kejuaraan terjun payung Piala Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD).

”Kalau TNI AL ikut, saya berharap dipanggil untuk tampil. Semoga bisa,” jelas atlet yang pernah menyabet perunggu bersama tim Indonesia lain saat kejuaran terjuan payung militer tingkat Asia di China tahun 2011 itu.

Diakui Boedi, kompetisi terjun payung di Indonesia sangat jarang. Hal ini karena perlu biaya tinggi dan banyak pertimbangan. Hal ini berimbas pula dengan regenerasi atlet terjun payung putri. Umumnya perempuan yang awalnya menekuni terjun payung, ketik sudah menikah atau mendapat tugas baru, sudah konsentrasi pada keluarga dan tugasnya. Sehingga terjun payung harus ditinggalkan.

”Terjun payung untuk wanita, perlu banyak hal yang disiapkan. Ada banyak resikonya, sehingga tidak bisa begitu saja terjun. Ada persiapan fisik dan mental,” tandas Boedi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved