Rabu, 10 Juni 2026

Siswa SMP Ciptakan Sensor Berdasar Gerakan Manusia

Karena itulah, rencananya alat ini akan diaplikasikan di sekolahnya

Tayang:
Penulis: Musahadah | Editor: Adi Agus Santoso
SURYA Online, SURABAYA - Kegemaran siswa mengotak-atik piranti elektronik, tak hanya ditunjukkan dengan membuat robot. Banyak juga yang menciptakan alat elektro teknik serbaguna.

Seperti yang dilakukan Nadira Ayu Safitri dan Jilan Namira Kusteja, siswa SD Islam Sabilillah Malang yang membuat sensor deteksi pergerakan manusia yang merangsang lampu menyala dan mati secara otomatis.

Alat ini diikutkan dalam Lomba Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN), yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro, ITS di Gedung Robotika, Jumat (17/5/2013).

Alat ini terdiri dari sensor gerak (pir pasif infra red), timer dan relay. Cara kerjanya, pertama-tama sensor pir disambungkan ke lampu yang ada di ruangan. Ketika ada orang di ruangan, secara otomatis sensor yang mendeteksi pergerakannya dan secara otomatis lampu menyala. Namun ketika tidak ada orang di ruangan, secara otomatis lampu mati.

"Kami juga melengkapi dengan pintu otomatis. Jadi ketika ada  yang di depan pintu terbuka,” kata siswa kelas 2 ini sambil menunjukkan miniatur gedung sekolahnya yang sudah terpasang piranti buatannya.

Nadira mengklaim alat buatannya ini mampu mengurangi pemborosan listrik, terutama kamar mandi yang sering lupa dimatikan. Karena itulah, rencananya alat ini akan diaplikasikan di sekolahnya. Untuk membuat alat ini, dia hanya membutuhkan waktu 1,5 bulan. “Kebetulan saya ikut ekstrakurikuler robotika, jadi sudah biasa dengan elektronika," katanya sambil tersenyum.

Di stand terpisah, dua siswa SMP Labschool Palu, Sulawesi Tengah,  Riqqah Nurwidhah dan Nawir A. Lamanda membuat alat termometer pemantau suhu bayi secara kontinyu pada bayi baru lahir berbasis sensor oinfra merah. Alat ini dilengkapi  alarm dan data logging.

Menurut Riqqah, cara kerja alat ini cukup sederhana. Sensor suhu inframerah diletakkan pada lengan bayi. Tidak lama kemudian suhu langsung bisa dilihat di LCD. "Ide pembuatan alat ini berawal ketika saya di rumah sakit melihat bayi yuang baru lahir diukur suhunya melewati anus. Kasihan juga, akhirnya saya buat alat ini," katanya.

Pembuatan alat ini membutuhkan waktu tiga bulan. Dan alat yang menghabiskan biaya Rp 1,150 juta ini sudah pernah diujicobakan di Palu. "Saya berharap alat ini bisa diproduksi masal," katanya.

Ketua Panitia LCEN Rosyid Hadi Nugroho mengatakan, selain tingkat SMP, lomba ini juga diperuntukkan siswa SD, SMA dan mahasiswa. Ada tujuh bidang yang dilombakan meliputi telematika, biomedik, elektronika, otomatis industri, manajemen, efisiensi energi dan aplikasi mobile phone.

Masing-masing alat diopresentasikan di depan juri selama 15 menit. Setelah itu dipamerkan. ”Pemenangnya akan ditentukan yang paling tamah lingkungan dan bisa diaplikasikan hingga diproduksi masal,” katanya. Selain LCEN juga digelar lomba robot nasional mulai tingkat SD/SMP, SMA dan mahasiswa. Peserta paling banyak tingkat SD/SMP mencapai 105 tim.

Tags
inovasi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved