Ketua MUI: Ini Aksi Semi Anarkis
Imam Muslim menyebutkan, saat dirinya dan Jafar di dalam masjid itulah, massa di luar masjid merusak kaca jendela
Penulis: Yuli | Editor: Satwika Rumeksa
“Istri Pak Jafar sudah tidak aktif lagi. Malah saudara-saudara Edi maupun Pak Jafar bilang ke saya bahwa keluarga masing-masing tidak terkait sama sekali dengan kegiatan mereka,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Gempolan, Imam Muslim, Jumat (17/5/2013).
Menurut dia, anak Jafar yang kuliah di sebuah perguruan tinggi Islam di Tulungagung juga sudah tidak aktif lagi di Ahmadiyah. “Jadi, pengikut Ahmadiyah ya hanya tiga orang itu. Masjidnya ya hanya di desa ini,” ujar Imam Muslim di rumahnya.
Dulu, saat masih berkembang pada periode 1995-2007, pengikut Ahmadiyah mencapai 14 orang. “Sekarang semuanya sudah menyatakan keluar dari Ahmadiyah, tinggal tiga orang itu,” ujarnya.
Ia menilai, Jafar sebenarnya tidak terlalu faham ajaran Islam. “Justru Edi itu yang kontinyu dalam pembelajarannya. Dia masih muda,” terangnya.
Masalahnya, Jafar selama sepekan terakhir menerima tamu dari Bogor bernama Rizal Fazli Mubarrak bin Musipudin. Pemuda kelahiran Kota Mataram, 13 Mei 1989 itu sudah pindah jadi warga Kampung Babakan RT 1/RW 4, Desa Pondok Ubin, Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat.
“Nah, selama di desa ini, dia sering melakukan aktivitasnya di masjid Ahmadiyah. Padahal, dua tahun lalu Pak Jafar sudah sepakat untuk menghentikan kegiatannya,” terangnya. Itu sebabnya, lanjut Imam Muslim, umat Islam di desanya resah sehingga mendatangi rumah Ketua RT, Sarijan, yang juga bertetangga dengan Jafar.
Pada Kamis malam itu, Jafar dan tamunya juga dihadirkan ke rumah Ketua RT. “Saat tamunya itu ditanya apakah betul dia anggota jamaah Ahmadiyah, dia membenarkan,” ujarnya.
Pada malam itu juga, sekitar pukul 21.00, tamu dari Bogor itu diamankan polisi untuk selanjutnya diminta kembali ke asalnya.
“Masalahnya, Pak Jafar malam itu menyatakan bahwa kalau warga ingin menutup masjidnya, silakan. Dia mengaku sudah tidak bertanggung jawab pada masjid itu,” ujarnya.
Padahal, setahu warga, tanah untuk masjid itu dulunya merupakan wakaf dari saudara Jafar yang kemudian mendatangkan juru dakwah Ahmadiyah bernama Yahya Sumantri, kini meninggal dunia.
Menurut Imam Muslim, warga pun menganggap masjid itu sekarang tidak lagi bertuan karena pernyataan Jafar yang mengaku tidak lagi bertanggung jawab pada keberadaan masjid tersebut. Mereka akhirnya meminta Jafar menutup masjid tersebut. “Karena Pak Jafar itu sudah saya anggap seperti keluarga sendiri, akhirnya saya tuntun dia masuk masjid untuk mematikan lampu dan mengunci pintu masjid,” ujarnya.
Imam Muslim menyebutkan, saat dirinya dan Jafar di dalam masjid itulah, massa di luar masjid merusak kaca jendela. “Dar dor! Ya mungkin karena malam itu gelap sehingga tetangganya pun jadi tega meluapkan keresahannya. Saya menyebut aksi malam itu semi anarkis lah,” ujarnya.
Imam Muslim lantas buru-buru mengajak Jafar keluar masjid dan masuk rumah. “Di luar masih dar dor. Saya bilang, jangan pikir itu pak. Yang penting sampeyan selamat dulu,” katanya. Massa tidak melampiaskan amarahnya kepada Jafar dan keluarganya.
Saat disinggung soal adanya kaligrafi syahadat yang mengakui keesaan Allah dan Muhammad sebagai rasul Allah, Imam Muslim menyatakan bahwa itu bertentangan dengan tendensi dasar Ahmadiyah. Ia menilai, Ahmadiyah menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi terakhir. “Syhadat itu disiarkan untuk pengikut pemula, lama-lama ya ditanamkan bahwa nabi terakhir adalah Mirza Ghulam Ahmad,” katanya.