Kamis, 11 Juni 2026

Wirausaha dari Kampus

Cookies Pisang Antistres

Melihat kulit pisang segar dibuang begitu saja, lima mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) membuat sesuatu dari kulit pisang.

Tayang:
Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Endah Imawati
SURYA Online, MALANG - Setelah melewati penelitian panjang, kulit pisang dapat diolah menjadi kue kering. Adalah Aninda Ayu Annisa, M Abidzar Alghiffari (Egi), Ahmad Nashir Sururi (Ruri), Fierindra Zhairatus (Ferin), dan Megalinda Masyitoh (Mega) yang mengolah kue kering dari kulit pisang yang mereka namakan Cookupi (cookies kulit pisang).

Perkenalan mereka ke kulit pisang yang menjadi bahan utama kue kering ini ketika mencari bentuk olahan baru kue kering. Kue kering tampil begitu-begitu saja, padahal di sekitar ada banyak bahan yang dibuang sia-sia.

“Padahal banyak kandungan-kandungan baik di kulit pisang itu,” kata Egi. Egi membeberkan kulit pisang itu memiliki kandungan vitamin B, vitamin C, lemak nabati, karbohidrat, mineral, dan serotonin.

Egi menjelaskan kandungan serotonin pada kulit pisang itu istimewa karena dapat melancarkan peredaran darah ke otak. “Kandungan serotonin ini untuk mengurangi stres. Makan Cookupi, selain penghilang stress juga memperlancar kinerja usus,” sambungnya.

Ferin menjelaskan proses pembuatan Cookupi. Kulit pisang matang direbus kemudian diblender sampai halus dan dicampur ke dalam adonan kue kering pada umumnya. “Sisa langkahnya seperti ketika membuat kue kering biasa,” ucap Ferin yang menambahkan Cookupi ini kuat bertahan sampai dua minggu.

Untuk membuat 100 Cookupi, Ferin membutuhkan 500 gr terigu, 3 gr maizena, 1 sendok bsoda kue, 250 gr margarin, 4 butir telur, 250 gr gula, dan 35 gr kulit pisang (4 sisir). Ada tiga rasa, yaitu original, choco chips, dan mix. Satu stoples ukuran sedang, Ruri menjual Cookupi Rp 5.000, sedang ukuran besar dijual Rp 7.000.

Dalam sehari, ungkap Mega, 30 stoples ukuran besar dan sedang mampu dibuatnya. Namun tidak sampai seminggu, kue-kue ini sudah laku terjual. “Ini saja kami hanya tinggal sisa satu toples,” ujar Mega.

Ruri mengaku penjualan cepat karena sistem pemasaran yang menggunakan sistem online melalui web Cookupi. “Kami juga memakai media sosial, seperti Twitter, Facebook, instagram, dan blog. Model pemasaran ini yang membuat Cookupi dikenal dan semakin laris,” urai Ruri.

Mereka ingin memasukkan Cookupi ke kafe-kafe. Mereka sedang melakukan penyempurnaan produk Cookupi, seperti mencetak kue yang bentuknya lebih menarik, seperti bentuk bulan sabit, bintang, binatang, dan lainnya. Aninda memprediksi penjualan Cookupi akan semakin banyak menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Kami sudah siap memproduksi dalam jumlah banyak,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved