Menulis Itu Memperpanjang Usia
Menulis itu tak sekadar membebaskan, namun juga menyembuhkan dan memperpanjang usia. Ini buktinya.
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
Oleh: Diana Manzila
Mahasiswa UIN Maliki Malang
dianamanzila@gmail.com
“Jika kau bukan seorang raja, maka menulislah”
Sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghozali menyerukan itu. Kreativitas menulis kian berkembang menjadi wacana umum tanpa batas, dahulu karya tulis hanya bisa dibaca lewat batu-batu prasasti atau lontar di masa Majapahit. Berkembangnya zaman kian mempermudah para penulis memublikasikan karyanya dan diserap banyak manusia di manapun mereka berada.
“Menulis itu memperpanjang usia,” papar Shohibul Izar di sekolah Tunas Harapan, Jumat (03/5/2013), sebuah sekolah komunitas di Bajulmati, Malang Selatan.Menurutnya, menulis selain aktivitas penghalang lupa, usia sang penulis bisa bertambah. Pasalnya, jika sang penulis sudah meninggal, tulisannya masih bisa dikenang dan tak akan hilang. Otomatis usia penulis lebih panjang daripada yang meninggal tanpa karya apapun.
Kitab orang zaman dulu, contohnya Ikhya Ulimuddin, kita akrab dengan Imam Ghozali, seperti Kiai kampung yang sering memberi wejangan saat pengajian karena kutipan dalam karangannya sering digunakan. Padahal dapat dipastikan masyarakat tahu sosok hujjatul Islam itu sebatas nama. Namun, sosok Imam Ghozali sudah tak asing di kalangan warga muslim karena karya tulisnya.
Begitu penting menulis, menurut alumnus UIN Maliki Malang ini, dia dan para guru di sekolah komunitas akan segera menerapkan aktif menulis untuk menggelorakan aktivasi sejarah di masa mendatang. Meski diawali dengan menuliskan potensi-potensi alam yang berada di sekitar mereka, namun ke depan harapan bapak dua anak ini ingin semua bisa membudayakan menulis dengan beragam wacana di sekolahnya kelak.
“Dimulai dari hal-hal ringan dulu, yang penting istiqomah,” tandasnya saat berbagi pengalaman dengan tim peneliti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) UIN Maliki Malang.
KOMENTAR