Ini Caligula Rasa Beda
Romdan Rijal berhasil meremukkan Caligula Camus sekaligus mendirikan Caligula baru di atas puing-puingnya!
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
Oleh : Royyan Julian
Pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing di Universitas Negeri Malang
royyanjulian@yahoo.co.id
SAYA pernah membaca Caligula-nya Albert Camus, tetapi tak sampai tuntas karena bagi saya naskah itu sangat membosankan. Namun, ketika Teater Ruang Karakter mementaskannya Senin (29/4/2013), saya sangat menikmatinya. Caligula yang dipresentasikan Ruang Karakter terasa berbeda dengan naskah yang dibangun Camus. Bagi saya, sang sutradara, Romdan Rijal telah meremukkan Caligula Camus sekaligus mendirikan Caligula baru di atas puing-puingnya.
Saya anggap, Ruang Karakter tak sedang mementaskan Caligula Camus, tetapi tengah mengopi master karya Camus. Bahkan, saya pikir Caligula Ruang Karakter adalah signifiant yang tak punya rujukan (simulakrum). Caligula Ruang Karakter adalah Caligula bergaya posstrukturalis. Tradisi dekonstruksi sangat tampak pada pementasan itu. Misalnya, perombakan bentuk pementasan terhadap bentuk naskah Camus.
Caligula Camus yang cerewet dibungkam menjadi teater yang alergi dialog. Caligula Ruang Karakter adalah Caligula Derridian ketika penanda senjata, petandanya berubah menjadi mainan si Caligula. Adegan itu sarat dengan sikap keilmuan Derrida yang ingin merobohkan narasi-narasi besar macam logosentrisme dan strukturalisme yang begitu kuat mencengkeram tradisi filsafat (dan disiplin lain).
Tokoh Caligula harus ditampilkan dengan karakter yang kuat dan Ruang Karakter memang telah menampilkannya. Saya juga menemukan Caligula berkarakter ganda, beroposisi ketika Caligula beradegan satu tangannya menunjuk ke atas, sedang tangan lainnya menunjuk ke bawah (mengingatkan saya pada posisi tangan tarian Darwis Rumi).
Posisi tangan semacam itu saya maknai sebagai penyatuan sakral dan yang profan dalam karakter Caligula. Karakter Caligula yang ganda beroposisi kian jelas di akhir pementasan. Ia digambarkan sebagai tokoh fatalis, merayakan sakaratul mautnya dengan gelak tawa.
Uniknya, Caligula Ruang Karakter memiliki anakroni-anakroni sangat pekat. Kaisar Caligula (dengan nama Romawi dan seharusnya berlatar budaya Romawi) bertransformasi menjadi Caligula dengan gaya busana tahun 80-an. Kalau tak salah; lihat bandana dan sepatu roda). Barangkali Caligula Ruang Karakter adalah Caligula versi alterego sutradaranya.
Akhirnya, Caligula Ruang Kakater adalah sebuah pertunjukan yang enak dinikmati. Saya pun asyik-masyuk menerka kode-kode yang ditampilkan. Caligula Ruang Karakter adalah salah satu alternatif penafsiran teks di tengah zaman permainan tanda tanpa batas.
KOMENTAR