Senin, 22 Desember 2014
Surya

Puisi Menjadi Berbeda Rasa ketika Diramu dengan Lagu

Jumat, 3 Mei 2013 19:16 WIB

Puisi Menjadi Berbeda Rasa ketika Diramu dengan Lagu
hayu yudha prabowo
SURYA Online, MALANG - Puisi diramu dengan musik, pasti menjadi sajian yang lebih sedap. Itu yang dilakukan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Awal acara yang mengusung tema tentang kritik terhadap perilaku pejabat dan masyarakat, yang diambil dari puisi karya Tengsoe Tjahjono, dibuka dengan manis oleh Swara Akustik.
 
Acara itu untuk mengasah kemampuan mahasiswa sastra mengolah sebuah puisi menjadi lantunan kata yang bernada, menyanyikan per bait kata dari puisi yang sebelumnya telah ditentukan. Dari begitu banyak kumpulan puisi karya Tengsoe Tjahjono ada empat puisi yang dimusikalisasikan yaitu Kredo, Terzina Penjarah, Berebut Kepala, dan Benarkah Kamu Masih Wakilku.
 
Ide untuk mengubah puisi menjadi sebuah lagu butuh keseriusan dan butuh energi yang harus disiapkan sebelumnya. “Unsur kreatif dan ekspresif sudah terlihat sangat bagus dan dapat disampaikan oleh para mahasiswa dengan begitu baik dan memuaskan. Satu puisi dapat ditafsir menjadi ribuan lagu, karena tiap orang juga pasti ingin menyampaikan setiap puisi yang dibacanya dengan caranya sendiri sesuai dngan apa yang ia rasakan,” kata Antok, salah satu musisi dari Swara Akustika, Jumat (3/5) di Kota Malang.

Puisi yang bertema kritik dan pemberontakan terhadap nilai-nilai dapat dibawakan dengan nada-nada populer yang mudah diingat dan nyaman di telinga. Puisi yang mengangkat tema sosial dan dilagukan sudah sangat jarang diperdengarkan.

“Seni seharusnya tidak harus dipisah dan dikotaki,” menurut Ririe Rengganis, dosen Kritik Sastra Unesa.

Penulis: Sukma Ayuningtyas
Editor: Endah Imawati

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas