Sabtu, 5 September 2015

Tak Ada Ritual Khusus, Usai Makan Bersama Wajib Cuci Piring Sendiri

Selasa, 9 April 2013 21:28

Begitu setiap hari. Setelah menggelar ritual olahraga bersama, berjalan hingga berkeringat, para santri gangguan jiwa itu mandi. Mereka tampak lebih segar dan kali ini cukup menikmati makan bersama di Pondok Khusus Gangguan Jiwa di Padepokan Among Budoyo Sastroloyo, di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Seolah mendapat tempat yang layak, mereka pun mulai saling tersenyum. Mereka ada yang ngerumpi bagi yang sudah mulai tahap penyembuhan. Tapi, banyak yang bengong dan kemudian tersenyum sendiri. Maklum, mereka memang sedang dalam gangguan jiwa.

"Tidak ada ritual khusus untuk pasien kami. Mereka kami ajak olahraga pagi dan sore, mandi, dan makan bersama. Mereka kita buat menikmati dan nyaman lebih dulu," kata pengasuh Padepokan Among Budoyo Santroloyo, Sri Wulung Jliteng, saat ditemui Surya.co.id, Sabtu (6/4/2013)

Namun, pengasuh tertinggi pondok khusus orang gila ini bersama 7 instrukturnya mananamkan nilai-nilai kedisiplinan kepada para gangguan jiwa itu. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi selalu para santri sudah harus paham dengan kegiatan yang sudah terjadwal.

Begitu jam sudah menunjukkan pukul 05.00, para instruktur mendapat tugas masing-masing. Ada yang khusus membangunkan 54 santri. Ada yang memasak dan ada yang siaga di halaman padepokan untuk menggelar ritual olahraga jalan keliling. Jika ada yang mbalelo, instruktur dan Jliteng akan bertindak. Kalau sudah Jliteng turun, semua santri patuh.

Ritual olahraga mengelilingi halaman padepokan itu dilakukan tiap hari hingga pukul 07.30. "Ngetus (hilagkan) kringat baru mandi. Kemudian makan bersama dan wajib hukumnya santri cuci piring sendiri. Begitu juga cuci baju sendiri. Setelahnya santai dan tidur kembali," kata Jliteng.

Namun, usaha keras Jliteng bersama padepokannya menyembuhkan orang gangguan jiwa itu sampai saat ini belum ditunjang dengan fasilitas memadai. Bahkan jauh dari memadai. Sebanyak 54 santri hanya ditampung di lima kamar dengan dinding batu bata belum disemen. Begitu juga kamar mandi yang hanya tiga. Belum lagi toilet yang sangat terbatas.

Halaman12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas