A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Tak Ada Ritual Khusus, Usai Makan Bersama Wajib Cuci Piring Sendiri - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 Juli 2014
Surya

Tak Ada Ritual Khusus, Usai Makan Bersama Wajib Cuci Piring Sendiri

Selasa, 9 April 2013 21:28 WIB
SURYA Online, MOJOKERTO - Puluhan orang dengan berbagai usia terus menatap piring-piring lengkap dengan lauk plus krupuk. Sepanjang meja dipenuhi tumpukan piring siap santap itu. Di sebuah lorong rumah sederhana berukuran sekitar 12 x 14 meter, mereka antre makan. Satu santri berhak atas satu piring. Mereka makan dengan lauk seadanya setelah mandi bersama.

Begitu setiap hari. Setelah menggelar ritual olahraga bersama, berjalan hingga berkeringat, para santri gangguan jiwa itu mandi. Mereka tampak lebih segar dan kali ini cukup menikmati makan bersama di Pondok Khusus Gangguan Jiwa di Padepokan Among Budoyo Sastroloyo, di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Seolah mendapat tempat yang layak, mereka pun mulai saling tersenyum. Mereka ada yang ngerumpi bagi yang sudah mulai tahap penyembuhan. Tapi, banyak yang bengong dan kemudian tersenyum sendiri. Maklum, mereka memang sedang dalam gangguan jiwa.

"Tidak ada ritual khusus untuk pasien kami. Mereka kami ajak olahraga pagi dan sore, mandi, dan makan bersama. Mereka kita buat menikmati dan nyaman lebih dulu," kata pengasuh Padepokan Among Budoyo Santroloyo, Sri Wulung Jliteng, saat ditemui Surya.co.id, Sabtu (6/4/2013)

Namun, pengasuh tertinggi pondok khusus orang gila ini bersama 7 instrukturnya mananamkan nilai-nilai kedisiplinan kepada para gangguan jiwa itu. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi selalu para santri sudah harus paham dengan kegiatan yang sudah terjadwal.

Begitu jam sudah menunjukkan pukul 05.00, para instruktur mendapat tugas masing-masing. Ada yang khusus membangunkan 54 santri. Ada yang memasak dan ada yang siaga di halaman padepokan untuk menggelar ritual olahraga jalan keliling. Jika ada yang mbalelo, instruktur dan Jliteng akan bertindak. Kalau sudah Jliteng turun, semua santri patuh.

Ritual olahraga mengelilingi halaman padepokan itu dilakukan tiap hari hingga pukul 07.30. "Ngetus (hilagkan) kringat baru mandi. Kemudian makan bersama dan wajib hukumnya santri cuci piring sendiri. Begitu juga cuci baju sendiri. Setelahnya santai dan tidur kembali," kata Jliteng.

Namun, usaha keras Jliteng bersama padepokannya menyembuhkan orang gangguan jiwa itu sampai saat ini belum ditunjang dengan fasilitas memadai. Bahkan jauh dari memadai. Sebanyak 54 santri hanya ditampung di lima kamar dengan dinding batu bata belum disemen. Begitu juga kamar mandi yang hanya tiga. Belum lagi toilet yang sangat terbatas.

Bagi Jliteng, itu bukan halangan dirinya untuk berhenti membantu sesama manusia. Kebetulan ada keluarga yang mendapat cobaan anggota keluarganya gangguan jiwa. Bisa karena rumah tangga, tekana ekonomi, selingkuh, narkoba, hingga saat ujian sekolah seperti saat ini.

"Semua kami layani dengan tanpa melihat status sosial atau agama pasien," tambah Jliteng.

Padepokan khusus menampung orang gangguan jiwa ini bahkan tidak menerapkan ritual keagamaan secara kolot. Jika ada pasien yang ingin tetap salat sebagai muslim akan dipandu oleh instruktur. Begitu juga agama lain. Malam jika ada yang mulai sembuh mau menunaikan ibadah salat akan dilayahni instruktur.

"Saya sudah dua tahun di sini. Semua yang disuruh Pak Jliteng semua saya lakukan. Enak. Hanya olahraga, makan, dan tidur. Saya ingin kembali pulang bersama orangtua," ucap
Eko Hariyanto, salah satu santri asal Kediri.

Jliteng memang dikenal memiliki kemampuan khusus. Selain jago main ludruk, Sriwulung ini memiliki kemampuan linuwih. Dia mengaku memiliki waktu yang tepat untuk memulihkan kesadaran pasiennya yang gangguan jiwa. Terutama malam-malam saat semua pasien terlelap tidur.
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas