• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 20 Oktober 2014
Surya

Makna Perjalanan dalam Titik Nol

Minggu, 7 April 2013 22:41 WIB
Makna Perjalanan dalam Titik Nol
surya/sri handi lestari
BEDAH BUKU - Agustinus Wibowo (paling kiri) saat tampil dalam bedah bukunya di perpustakaan Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda, Minggu (7/4/2013)
SURYA Online, SURABAYA - Selama ini, banyak yang menganggap perjalanan sebagai aktivitas untuk mengenal tempat-tempat yang jauh. Perjalanan berarti harus diikuti dengan proses perpindahan.

Berbagai anggapan yang mendominasi itu, dirasa kurang tepat oleh Agustinus Wibowo, penulis buku Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan.Pria kelahiran Lumajang 29 tahun silam ini, justru menemukan makna perjalanan sesungguhnya ketika bersimpuh di ranjang sang ibunda yang sedang sakit keras.

Justru dari pengalaman ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, Agus -sapaan akrabnya- menemukan kepingan makna perjalanan yang selama ini terabaikan. "Dalam fase itulah kemudian saya tersadar, bahwa perjalanan bukan hanya bermakna mengenal orang-orang di sekitar kita. Tapi perjalanan adalah sarana untuk lebih mengenal diri sendiri," kata Agus dalam acara bedah bukunya di Perpustakaan Balai Budaya, Minggu (7/4/2013).

Buku ketiga dari pria yang dikenal sebagai backpacker sejati ini, mengulas inti dari perjalanan yang telah dia lakoni sejak 31 Juli 2005 sampai sekarang. Puluhan negara pernah disinggahi alumnus Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijing tersebut. Agus telah menyusuri daratan Asia Tengah seperti Tibet, Nepal, India, kemudian menembus ke barat masuk ke Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian
Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan.

Catatan perjalanannya itu ditulis dalam dua buku yakni Selimut Debu dan Garis Batas. "Dalam kehidupan nyata, mata perlu sebuah  kaca untuk melihat. Di kehidupan yang jauh itulah akan ada  refleksi diri," terangnya.

Sementara itu, pembedah buku Heti Palestina Yunani memuji catatan perjalanan setebal 512 halaman tersebut. Putri jurnalis senior Surabaya, almarhum RM Yunani Prawiranegara ini memberikan poin plus, pada bingkai (frame) cerita yang dia nilai berbeda dari buku-buku traveler lainnya. Buku yang pernah diedit 20 kali, sebelum diterbikan itu juga kaya nilai filosofi serta
memiliki gaya bahasa yang mudah dipahami namun menyentuh.

Latar belakang penulis yang penuh dengan retorika semakin memperkuat karya dari Agus.  "Kalau membaca kisah Agus, saya jadi teringat dengan catatan yang dibuat oleh Che Guevara berjudul The Motorcycle Diaries. Bisa jadi suatu saat, Agus menyusul jejak revolusioner Argentina itu," tandas orangtua dari dua anak itu.
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Adi Agus Santoso
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
529071 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas