Menipedi Aaah…
Pijatan di kaki itu benar-benar nyaman, setelah 10 menit berlalu, ia mulai mengeluarkan alat tempurnya. Lho?
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
Oleh : Tomy M Saragih
Mahasiswa PPS Universitas Brawijaya
a_los_tesalonicenses@yahoo.com
TERBAKAR rasa penasaran yang membuncah, saya dan teman berkunjung ke salon kecantikan di pusat pertokoan di Kota Malang. Ruangan yang sejuk, alunan biola, dan senyum para pegawai menyambut kami. Salon ini menyediakan fasilitas manicure dan padicure (menipedi). Layanan yang diberikan ini satu paket dengan facial, layanan cuci muka dari jerawat dan noda hitam.
Setelah merasa harga cocok dengan kantong anak kos, akhirnya saya mencoba manicure. Telapak kaki yang sedikit kapalan menjadi lembek seketika ketika dibasuh air hangat. Benar-benar nyaman ketika bagian kaki dipijat. Sepuluh menit pertama lewat, pegawai baru menyiapkan alat tempurnya. Tak hanya gunting kuku, peralatan yang ia siapkan seolah ia akan membedah pasien di meja operasi. Pemandangan yang cukup mengerikan.
Tak lama, kuku jemari kaki dibersihkan. Korek sana sini dan timbul perasaan risih karena pada dasarnya membersihkan kuku bukan sesuatu yang sulit. Akhirnya saya tak melanjutkan manicure dengan alasan sakit dan perih walau kuku tangan belum terjamah sedikitpun. Sebaliknya dengan teman saya, terlihat sangat menikmati layanan ala raja dalam beberapa jam.
Akhirnya saya menunggu di sofa santai sambil berjalan sedikit jinjit. Makan waktu sembilan puluh menit membersihkan 20 jari. Takjub melihat kuku teman yang terlihat benar-benar bersih. Entah diberi ramuan apa, yang pasti kuku menjadi lebih eksotis. Meski di mata saya sebagai pegawai menipedi merupakan pelecehan bagi kaum hawa. Bekerja demi rupiah dengan mengorbankan harga dirinya di ujung kuku seseorang. Mungkin pengelola salon dan sejenisnya perlu mempertimbangkan untuk menghilangkan layanan menipedi.
Bisa saja layanan ini dikhususkan bagi para manula yang sudah tak mampu melihat jelas sehingga khawatir terjadi infeksi pada kuku, apalagi bagi pengidap diabetes. Atau, layanan menipedi bisa diterapkan pada konsumen anak-anak karena mereka biasanya malas dan tak hati-hati membersihkan kuku. Tak bijak melontarkan alasan tak ada waktu untuk membersihkan kuku jemarinya sendiri dan alasan banyaknyamateri sehingga memilih layanan aneh menipedi. Semoga tak ada pengusaha yang menyediakan jasa pembersihan lubang hidung!
Yang terpenting, kejadian ini menginspirasi saya menghasilkan tulisan terkait RUU KUHP. Menarik bukan?
KOMENTAR