A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

BRI Imbau Mantan Karyawan Berkonsultasi ke Pakar Tenaga Kerja - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 1 Agustus 2014
Surya

BRI Imbau Mantan Karyawan Berkonsultasi ke Pakar Tenaga Kerja

Selasa, 19 Maret 2013 23:56 WIB
BRI Imbau Mantan Karyawan Berkonsultasi ke Pakar Tenaga Kerja
surya/eben haezer panca
Unjukrasa mantan karyawan BRI, Selasa siang (19/3/2013).
SURYA Online, SURABAYA - Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengimbau para pensiunan BRI yang Selasa siang (19/3/2013) berunjuk rasa menuntut uang pesangon, agar menunjuk pihak yang berkompeten di bidang ketenagakerjaan.

Dengan demikian mereka bisa berkonsultasi membahas hal-hal yang dipermasalahkan. Sebab, selama ini manajemen bank pelat merah itu merasa tidak ada pelanggaran aturan yang mereka lakukan dalam hal pemberian uang pensiun dan pesangon.

Sekretaris PT BRI (Persero) Tbk, Muhamad Ali menyebutkan, berdasarkan Pasal 167 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, terdapat tiga kondisi alternatif yang berbeda satu sama lain. Tiga kondisi ini menghasilkan kebijakan pembayaran pensiun dan pesangon yang berbeda-beda.

Kondisi pertama adalah perusahaan tidak mengikutsertakan pekerja di dalam program pensiun, sehingga berdasarkan ketentuan, perusahaan wajib membayarkan pesangon sesuai dengan masa kerja masing-masing karyawan.

Kondisi kedua, perusahaan mengikutkan pekerja dalam program pensiun dan iurannya sepenuhnya dibayar oleh perusahaan.
Kemudian kondisi ketiga adalah perusahaan mengikutsertakan pekerja dalam program pensiun, tetapi iuran dibayarkan oleh perusahaan dan pekerja.

"Dari tiga kondisi itu, BRI menerapkan kondisi yang ketiga," kata Ali.

Untuk perhitungannnya, Ali melanjutkan, dalam kondisi ketiga, bila perhitungan uang pensiun yang harusnya diterima lebih kecil daripada pesangon, maka selisihnya (kompensasi) akan dibayar oleh BRI sebagai pesangon. Lalu bila besarnya uang pensiun yang diterima sama dengan hasil perhitungan pesangon, maka tak ada kewajiban bagi BRI untuk membayar kompensasi atau pesangon kepada pensiunan.

Sedangkan bila hasil perhitungan uang pensiun lebih besar dari pesangon, maka pensiunan tak perlu mengembalikannya ke BRI dan BRI akan menganggapnya sebagai penghargaan pada pensiunan penerima.

"Kami sudah melakukan perhitungan secara cermat dan hasilnya memang ada yang menerima dan ada yang tidak menerima pesangon," imbuh Ali.

Dia menambahkan, sebelum para pensiunan tersebut berunjuk rasa, sebenarnya telah terjadi beberapa kali dialog dengan manajemen. Dialog terakhir digelar pada 8 Maret 2013 di Jakarta.

Kesepakatan pun terwujud dalam dialog tersebut. Yakni bila pensiunan merasa perhitungan yang ditetapkan BRI dianggap kurang sesuai, maka pensiuanan dipersilakan untuk berkonsultasi pada pihak-pihak yang berkompeten dalam urusan ketenagakerjaan.

"Itu menunjukkan kalau BRI mengedepankan prinsip kekeluargaan dan dialog dalam hal ini," tandas Ali.
Penulis: Eben Haezer Panca
Editor: Parmin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas