A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Buruh Tuntut Hak Normatif - Surya
Jumat, 28 November 2014
Surya

Buruh Tuntut Hak Normatif

Kamis, 14 Maret 2013 21:22 WIB

SURYA Online, KEPANJEN - Ratusan buruh PT Dwi Putra Sakti melakukan unjuk rasa di depan pabrik, Jalan Raya Pakis Jajar Nomor 8, Kabupaten Malang, Kamis (14/3/2013), sejak pukul 07.30 WIB. Mereka menuntut perusahaan memberikan hak normatif seperti yang diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan.

Para buruh pabrik garmen ini berjajar rapi tepat di seberang jalan, tepat di depan pintu gerbang pabrik yang tertutup. Mereka menutup setengah jalan. Seorang satpam mengatur lalu lintas dari kedua arah.

Aksi ini berjalan tertib dan tidak mengakibatkan kemacetan. Para buruh berorasi dengan pengeras suara. Sesekali mereka menyanyikan lagu dangdut dengan iringan gitar dan ketipung. Sebuah poster besar wana putih merah bertuliskan tiga buah tuntutan para buruh. Para buruh yang bergabung dalam Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) ini menuntut hak pensiun, cuti haid dan pembatalan "aturan sesat" SPSI dan perusahaan.

Menurut Humas SPBI, Ryan Zebua (31), hak seluruh pekerja seharusnya mendapat pensiun sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 167.  Pensiun diberikan kepada karyawan yang meninggal dan yang sudah berusia di atas 60 tahun, namun besaran pensiun ini diputuskan secara sepihak oleh pihak perusahaan.

“Dalam undang-undang itu ada ketentuannya untuk yang pensiun karena usia dan yang meninggal. Jadi bukan ditentukan perusahaan seenakanya sendiri,” ujarnya.

Terkait cuti haid untuk karyawan perempuan sebenarnya sudah berjalan dengan baik. Namun perusahaan merubah aturan tersebut tanpa berdialog dengan karyawan. Cuti haid ini dihapus pihak perusahaan dan diganti dengan uang.

“Seharusnya perusahaan ada dokter sendiri yang memverifikasi haid karyawan, dan mereka diberikan hari libur. Bukan dirusuh kerja dan diganti dengan uang,” katanya.

Dan yang membuat para karyawan resah, pihak perusahaan membuat aturan yang dianggap tidak masuk akal. Seperti karyawan yang terlambat lima menit saja disuruh pulang dan tidak bekerja. Jika dianggap melanggar aturan dikenakan potongan gaji Rp 20.000.

Mereka juga wajib menandatangani surat perjanjian pelanggaran tersebut. Surat-surat ini nantinya bisa disanksi dengan PHK. Masih menurut Ryan, selama ini kondisi kerja produsen celana jin ini sangat kondusif. Namun setelah aturan tersebut diubah, karyawan menjadi resah.

“Sebenarnya yang rugi perusahaan sendiri, iklim kerja yang sudah terbangun baik jadi terganggu. Kami menuntut hak-hak normatif buruh dan aturan tersebut dikembalikan,” tambahnya.

Empat orang perwakilan buruh sempat masuk ke dalam pabrik untuk berdialog dengan manajemen. Namun hingga tengah hari pihak perusahaan tidak mau menemui. Para buruh berjanji akan menggelar aksi serupa setiap hari. Sampai manajemen PT Dwi Putra Sakti mau berdialog.
Penulis: David Yohanes
Editor: Wahjoe Harjanto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas