Menyibak Tabir Eksotika Benteng Al Katsiri
Museum tua di Hadhramaut ini memang unik, begitu banyak rahasia tersimpan sejak masa sebelum Islam.
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
citizen/arul chairullah
Pelajar Indonesia di Hadhramaut Yaman mengasah kepekaan menulis dengan mengunjungi museum tua di Seiyun, Hadrhamaut, Yaman.
Oleh : Miqdarul Khoir Syarofit
Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Hadhramaut, Yaman
flphadhramaut@gmail.com
Untuk kesekian kalinya dewan perwakilan cabang Forum Lingkar Pena (FLP) Handhramaut Yaman mengasah kreativitas para pelajar Hadhramaut dengan menyelenggarakan road show observasi bertema Menguak Tabir Eksotika Benteng Al-Katsiri dengan mengunjungi salah satu museum tertua di kota Seiyun, Provinsi Hadhramaut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, bus biru yang berisikan 25 anggota FLP Hadhramaut tiba di lokasi museum. Dipusatkan di perpustakaan museum, grand opening oleh ketua FLP Hadhramaut, Miqdarul Khoir mengawali dengan ilustrasi observasi secara singkat, dilanjutkan introduksi museum, sejarah kebudayaan Hadhramaut yang dijelaskan oleh Direktur Museum, Habib Abdur Rahman bin Hasan As-Segaff.
Agenda selanjutnya, diklat kepenulisan oleh Zainal Fanani, mahasiswa Bachelor universitas Al Ahgaff ini sukses mendulang prestasi di sejumlah lomba tulis menulis. “Tema dan judul suatu artikel dapat kita tentukan dengan berbagai macam cara, antara lain dengan berdiskusi, mengikuti program berita di televisi, koran dan lain sebagainya,” jelas Fanani.
Turut hadir pula staf konseling KBRI Sana'a, Rendi Ramanda yang mengapresiasi serta mendukung program tersebut. Selanjutnya peserta observasi dibagi menjadi lima kelompok, arsitektur bangunan, sejarah Hadramaut zaman batu, pra-Islam dan setelah Islam, adat istiadat, kebudayaan Hadhramaut.
Museum yang umurnya berkisar antara 150 tahun ini memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung, selain bentuk arsitektur bangunannya yang terkesan kuno, letaknya strategis, tanah dan kayu sebagai pondasi utama bangunan tersebut menjadi keunikan tersendiri.
"Insya Allah, hasil observasi ini akan dikodifikasikan menjadi sebuah buku panduan museum Seiyun, dan didanai langsung oleh pemerintah. Hal ini tidak lain adalah sumbangsih kami terhadap dunia atsar atau sejarah Hadhramaut," kata Arul Chairullah, nama pena ketua FLP Hadhramaut, Miqdarul Khoir. Acara observasi museum diakhiri dengan penyerahan cindera mata kepada Habib Abdur Rahman oleh Rendi Ramanda.
KOMENTAR