Minggu, 21 Desember 2014
Surya

Guru Diberi Modul Kurikulum 2013

Minggu, 24 Februari 2013 20:57 WIB

SURYA Online, BANYUWANGI - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyiapkan guru guna menghadapi penerapan Kurikulum 2013 yang akan diterapkan mulai Juli mendatang.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, sebelumnya para guru-guru akan diberi pelatihan mulai Mei - Juni. "Pelatihan dilakukan serentak di seluruh Indonesia," ujarnya usai meresmikan Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), Minggu (24/2/2013).

Selain diberi pelatihan, guru juga akan diberi modul Kurikulum 2013 itu. Saat ini Kemdikbud masih terus menyosialisasikan kurikulum pengganti Kurikulum 2006 itu.

Dalam acara peresmian itu, Nuh juga melakukan sosialisasi Kurikulum 2013 kepada guru di Banyuwangi. Nuh menyampaikan, inti dari Kurikulum 2013 itu untuk mencetak pelajar yang hanya pada level hafalan tetapi harus mencetak pelajar pada level penalaran.

"Jadi tidak hanya pada level knowing (tahu), tetapi pada reasoning yakni mengapa, apa dan bagaimana sesuatu hal terjadi. Pada level itu, siswa Indonesia bisa lebih kreatif. Itu yang dibutuhkan Indonesia ke depan," tegas Nuh.

Ia mencontohkan seorang siswa yang bertanya kepada gurunya, 'Kenapa kerupuk yang masih hangat agak melempem tetapi kalau sudah dingin kriuk?'. Nuh mencontohkan jawaban dari guru yang menggunakan Kurikulum 2006 yakni  'Itulah perbedaan kerupuk masih hangat dan sudah dingi'.

Menurut mantan Menteri Komunikasi dan Informasi ini, itulah jawaban tipikal dalam dunia pendidikan yang menggunakan sistem Kurikulum 2006. "Karena itu, kita harus mengubah itu. Para guru harus menjelaskan dan bisa menjawab, tidak asal pokok-nya," tegasnya.

Sementara itu, Kepala SDN 5 Kebondalem Kecamatan Bangorejo, Sri Hartatik menyampaikan keluhan kepada Menteri Nuh tentang rencana penerapan Kurikulum 2013 itu. Menurutnya, dalam kurikulum yang akan diterapkan bulan Juli itu, ada ekstrakurikuler wajib yang masuk dalam kurikulum yakni Pramuka. "Padahal jumlah pembina Pramuka dengan siswa ini tidak seimbang. Tidak hanya terjadi di sekolah saya, tetapi juga sekolah lain," ujar Hartatik.

Menjawab itu, Nuh menegaskan jumlah pembina Pramuka harus ditambah. Jika seragam juga menjadi persoalan, maka bantuan seragam Pramuka juga harus diberikan.

Ia menjelaskan kenapa Pramuka menjadi kegiatan ekstrakurikuler wajib di sekolah, karena kegiatan Pramuka bisa menjadi rasa nasionalisme tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Tidak hanya secara fisik, tetapi juga sosial. Kami ingin menjahit nasionalisme NKRI ini melalui Pramuka, karena kepanduan tidak hanya diakui secara lokal, nasional bahkan internasional," tegas Nuh.
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Adi Agus Santoso

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas