A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Dedikasikan Profesi pada Pendidikan - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 20 April 2014
Surya

Dedikasikan Profesi pada Pendidikan

Rabu, 13 Februari 2013 23:06 WIB
Dedikasikan Profesi pada Pendidikan
surya/habibur rohman
Elizabeth Njo May Fen, Direktur Pison Art n Fashion Foundation Surabaya, Rabu (13/2/2013).
SURYA Online, SURABAYA - Menjadi desainer atau perancang busana merupakan cita-cita Elizabeth Njo May Fen alias Afen sejak kelas VI SD. Perempuan kelahiran Medan, 11 agustus 1977 ini pun berhasil mendapat profesi desainer di tahun 1997.

Tapi mulai tahun Januari 2013 ini, profesi itu ditinggalkan demi memberi kesempatan kepada siswa-siswinya yang sekolah di Pison Art N Fashion Foundation (PAFF).

"Saya sudah fokus. Karena di tahun ini saya targetkan para siswa-siswi bisa mengerjakan order dari sekolah. Jadi akan ada semacam workshop," jelas Afen ketika ditemui pada Rabu (13/2/2013)
.
Soal keuntungan, profesi desainer dengan guru atau pengajar tentunya lebih menguntungkan desainer. Apalagi sebagai pemilik sekaligus pengelola sekolah. Afen mengakui bila bisnis pendidikan, tidak selancar bisnis desainer. Tapi hal itu tidak membuat semangatnya luntur.

Rasa cinta istri dari Mukri Timin pada pendidikan desainer tak lepas dari pengalamannya dulu. Di usia kelas IV SD, Afen yang besar di Medan, sudah hobi menggunting kertas kemudian menempelkannya diatas orang. Selama itu pula hingga lulus SMA, Afen sudah menggambar, dan mulai menjahit sendiri desain yang dia gambar.

Hingga dia menikah dan bisa membuka sebuah usaha garmen di Surabaya, Afen baru bisa belajar desain busana secara berturut-turut mulai teknik Jepang, Kanada, hingga Perancis.

Ibu dari Yoel Andreas (14) dan Joanne Andreas (12) itu, sudah merasa cukup setelah menikmati profesi desainer sejak tahun 1997. Dia merasa sudah waktunya memberikan dedikasinya pada sekolah yang didirikan di tahun 2007 itu.

"Bagi saya ada kepuasan yang lebih dengan mengajar. Meski secara materi jauh dibanding jadi desainer. Melihat siswa-siswi saya bisa membuat baju, dan mendapatkan uang dari kegiatan itu membuat saya terpuaskan," ungkap Afen.

Dengan fokus pada sekolah, sepanjang tahun 2013 ini, pihaknya sudah menyiapkan berbagai program untuk siswa-siswinya. Mulai dari menampilkan karya siswa dalam event bulanan di Surabaya Town Square (Sutos) hingga event tahunan Surabaya Art Fashion (SAF).

Salah satu persiapan yang sudah dilakukan adalah mencari model untuk mendukung kegiatan sekolahnya.

"Saya gelar audisi khusus untuk mereka. Sehingga ada tidak adanya show, model sudah kita miliki dan tidak lagi masih harus mencari. Mereka juga kami kontrak dengan lebih ekslusif dan profesional," tandas Afen.
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
451781 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas