Humanisme Seorang Indonesianis Dr Franz Dähler

Kecintaan dan kerinduan Dr. Dahler terhadap Indonesia tidak pernah luntur

Humanisme Seorang Indonesianis Dr Franz Dähler
net
Dr Franz Dähler dengan buku karangannya Indozeller
SURYA Online, BERN - Salju yang turun diluar panti werda jalan Grossfeld No. 6 Kriens tidak malah membekukan suasana hangat dan bincang santai antara warga Indonesia dengan Dr. Franz Dahler, seorang mantan pendeta dan Indonesianis yang telah banyak mengarang buku bestseller mengenai Indonesia, salah satunya adalah Indozeller.

Surya.co.id menerima rilis dari Indonesian Club Swiss yang melakukan kunjungan ke panti werda, tempat Dr Dahler menghabiskan masa tuanya. Anggota Indonesian Club Swiss yang ikut antara lain Krisna Diantha, Sigit Susanto, Rosidi Komariyah dan  Rully Rudi. Mereka disambut hangat Dr Dahler yang semenjak tahun lalu karena alasan kesehatan dan bertambahnya usia menjadi penghuni panti werda tersebut.

Telah puluhan tahun sudah Dr. Dahler meninggalkan Indonesia, namun kecintaan dan kerinduannya terhadap Indonesia tidak pernah luntur. Sukmoku Jowo dan ich bin ein echt javaner (saya adalah orang jawa tulen) adalah kalimat kunci yang sering dilontarkan mantan pendeta yang pernah bertugas selama 18 tahun di Indonesia.

Dr. Dahler adalah seorang humanis tulen, menurutnya setiap orientasi untuk menjunjung tinggi kemanusiaan seharusnya merupakan tujuan dari setiap manusia tanpa melihat suku agama dan ras. Merugikan orang lain atas nama agama adalah hal harus dibuang jauh-jauh.

Dr. Dahler mengagumi Munir Said Thalib seorang muslim yang sangat fanatik terhadap agamanya namun memperjuangkan hak-hak asasi manusia tanpa memandang perbedaan.

Ketika ditanya oleh mengenai cita-cita yang belum terlaksana, beliau dengan cepat menjawab mengarang buku yang berjudul kecintaannya dengan dunia islam.

Kedekatan Dr. Dahler dengan kalangan cendikiawan muslim Indonesia membuatnya meyakini ajaran Islam yang penuh dengan perdamaian dan toleransi. Tidak jarang beliau diundang menjadi pembicara di institusi pendidikan islami dan tidak pernah menemui kesulitan berbicara didepan umat islam, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa universal yang menjadi inti ajaran setiap agama yaitu kebaikan, keutamaan dan  kebajikan bagi seluruh umat.
 

Penulis: Rudy Hartono
Editor: Rudy Hartono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved