A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Mengenang Tiga Tahun Gus Dur - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 April 2014
Surya

Mengenang Tiga Tahun Gus Dur

Rabu, 26 Desember 2012 19:41 WIB
Mengenang Tiga Tahun Gus Dur
surya/sri wahyunik
Sastro Ngatawi saat mengisi acara 'Sarasehan Budaya mengenang tiga tahun Gus Dur' di POndok Pesantren Ashri, Jember, Rabu (26/12/2012).
SURYA Online, JEMBER-Abdurahman Wahid, Presiden RI ke-4 menggunakan strategi kebudayaan dalam membangun bangan dan negara Indonesia. Dan strategi tersebut merupakan salah satu warisan Gus Dur - panggilan akrab Abdurahman Wahid- yang seharusnya juga digunakan oleh pemimpin dan generasi saat ini.

Demikian diungkapkan Ketua Lesbumi PBNU, Sastro Ngatawi ketika mengisi acara Sarasehan Budaya mengenang tiga tahun Gus Dur di PP Ashri, Rabu (26/12/2012). "Gus Dur menggunakan strategi kebudayaan dalam membangun negara ini. Salah satu cara yang digunakan GUs Dur adalah mengenal tradisi dan memahami sejarah. Hal itu membuat seseorang tidak menjadi anak hilang," ujar Sastro.

Menurutnya, Gus Dur merupakan sosok pemikir, budayawan dan negarawan yang santai. Spirit kebudayaan tersebut, kata Sastro, digunakan Gus Dur dalam berpolitik, menata ekonomi juga hukum.

"Gus Dur itu menggabungkan sesuatu yang modern dengan tradisi. Beliau belajar filsafat dari yang klasik sampai modern namun juga mengetahui klenik," ujarnya disambung tawa pengunjung.

Dalam pandangan Sastro, dalam beragama Gus Dur juga melihat sesuatu tidak sulit dan tidak dibikin sulit. Sastro mengutip cerita lucu Gus Dur. Dikisahkan seorang kaya yang menganut Kejawen ingin berkorban seekor sapi untuk delapan anggota keluarganya. Dia datang kepada KH. Bisri Samsuri.

Namun kiai ahli Fikih itu mengatakan tidak bisa sebab sesuai hukum Islam, kalau berkorban untuk delapan orang berarti mengorbankan seekor sapi dan  seekor kambing. Namun orang tersebut tidak mau menuruti hal itu.

"Kemudian datangnya orang Kejawen itu kepada Kiai Wahab Hasbullah. Dan dia mendapat jawaban puas," tutur Sastro. Jawaban yang diberikan kiai yang berpikiran ala sosiolog itu adalah "Boleh berkorban seekor sapi.

Tapi tolong ditambahi seekor kambing, buat 'pancikan'(pijakan) anakmu yang masih kecil, kasihan nanti dia nggak bisa naik dan mengejar sapi yang lebih besar." Akhirnya orang Kejawen itu mau berkorban karena mendapatkan jawaban sesuai keinginnanya.

Acara sarasehan tersebut merupakan rangkai acara 'Mengenang Tiga Tahun Gus Dur' yang digelar oleh Kaukus Lintas Agama Jember. Sebelumnya, kaukus tersebut menggelar acara pemeriksaan kesehatan gratis, bersih-bersih pasar, juga akan digelar acara pawai budaya.
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Satwika Rumeksa
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
393661 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas