• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Surya

Tunggu Regulasi LCGC, Ayla dan Agya Tak Sabar Turun Jalan

Senin, 10 Desember 2012 14:48 WIB
Tunggu Regulasi LCGC, Ayla dan Agya Tak Sabar Turun Jalan
surya/tri dayaning r
Daihtsu memamerkan produk Ayla saat ajang IIMS di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Aturan tentang Low Cost Green Car (LCGC) hingga kini belum juga muncul. Beberapa spekulasi merebak tentang tak kunjung terbitnya regulasi itu seiring minat para Agen Pemegang Merek (APM) memanfaatkan momen ‘mobil murah'. 

Salah satu yang cukup menguntungkan dari konsep aturan LGCG adalah adanya PPnBM untuk kategori sedan dan 4×2 menjadi 0 persen serta pembebasan bea masuk impor bahan baku dan komponen yang belum bisa diproduksi lokal.

Tunggu punya tunggu setelah perhelatan akbar pameran mobil di Jakarta beberapa waktu lalu, dua pemain terkemuka LCGC, yakni Toyota dan Daihatsu semakin tak sabar menunggu kepastian aturan.

Maklum, Agen Pemegang Merek (APM) “bersaudara’ itu paling gencar mengumumkan produk andalan mereka di kelompok mobil murah ramah lingkungan.

Astra Toyota Agya dan Astra Daihatsu Ayla sudah dihadirkan secara fisik dalam ajang pameran otomotif nasional Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012 di Jakarta, September 2012. 

Mobil dengan dua deret tempat duduk itu cukup menarik perhatian dan minat masyarakat umum. Betapa tidak, mobil kecil itu disebut-sebut memiliki harga jual yang murah, mulai Rp 75 juta.

Direktur Marketing Astra Daihatsu, Amelia Candra menyatakan saat ini pihaknya masih menunggu kebijakan Pemerintah untuk segera mengundangkan aturan LCGC. Daihatsu sendiri sudah siap melakukan produksi massal untuk produk Ayla. 

“Daihatsu pada dasarnya memang memperkuat lini compact car dan produk Ayla ini merupakan karya asli putra Indonesia yang secara umum bisa memenuhi semua kriteria LCGC,” ujar Amelia.

Ayla dibangun berdasarkan desain putra Indonesia alumni ITS, Mark Wijaya. Desain awal didasarkan pada kebutuhan masyarakat Indonesia di mana hal itu diketahui dengan mengadakan risate tersendiri. 

Berdasarkan riset didapat beberapa ciri khas selera orang Indonesia seperti tinggi bodi mobil yang cukup tinggi (karena Indonesia banyak polisi tidur, jalan rusak dan sering banjir) serta kapasitas bagasi yang cukup lebar. 

Mesin yang digunakan Ayla dan Agya berkapasitas asli 989 cc, berteknologi DOHC, tapi belum VVT-i. Kemampuan menghasilkan tenaga 65PS (48 kW) @6.000 rpm dan torsi 8,7 kgm (85 Nm) 3.600 rpm.

Selain Daihatsu dan Toyota, beberapa APM lain juga menunjukkan minatnya ada program LCGC. Mitsubishi, Geely, Proton dan Suzuki adalah deretan APM yang siap dengan produk mobil murah dan ramah lingkungan masing-masing.

Rata-rata modelnya, mini MPV namun yang mampu memuat 4-5 orang. Cocok dengan selera pasar di sini. Barangkali yang beda adalah PT Geely Mobil Indonesia (GMI), yang lebih suka menyebut mobil konsep LCGC-nya, secara prinsip menggunakan casis mobil city car mereka, Geely LC Panda.

Geely mengklaim meski bisa dikelompokkan dalam kategori mobil murah sudah menggunakan mesin VVTi dan juga dilengkapi sistem ABS dan EBD. Mobil murah Geely ini bahkan sudah ditetapkan harganya di kisaran Rp 98 juta.     

Di luar Toyota Agya, Daihatsu Ayla, dan Geely, beberapa APM lain memilih memendam dulu rencananya dan menunggu sampai aturan resmi pemerintah diterbitkan.

*Konsep LCGC

-Kependekan dari Low Cost Green Car, merupakan kebijakan Pemerintah untuk mendorong ATPM agar bisa membuat mobil dengan harga terjangkau tapi ramah lingkungan. 
-Konsepnya, mengusung mesin 1.000 cc s/d  1.200 cc.
-Konsumsi BBM minimal 22 km/liter (mesin 1.000 cc) & 20 km/liter (mesin 1.200 cc).
-Memenuhi standar emisi Euro 2.
-Harga on the road mobil LGCG maksimal Rp 100 juta.
-Investasi untuk pabrik minimal 50 juta dolar AS.
-Bodi, mesin, transmisi, dsb dibuat di dalam negeri.
-Komponen lokal yang digunakan pada tahun pertama minimal 40%, tahun ketiga naik 60% & tahun kelima 80%.
-Berhak insentif fiskal berupa penghapusan bea masuk impor mesin produksi, bahan baku, komponen dan sebagainya.

Penulis: Dyan Rekohadi
Editor: Tri Dayaning Reviati
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas