Perbankan Tak Perlu Hindari Sektor Perikanan
Perbankan seharusnya tidak perlu ragu lagi mengucurkan pembiayaan di sektor perikanan
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, sektor perikanan cenderung dihindari oleh kalangan perbankan selama ini.
"Padahal sektor perikanan sendiri telah mengalami evolusi dalam hal pemanfaatan teknologi untuk meminimalisasi risiko dan melipatgandakan hasil panen," katanya di sela Seminar Nasional Peluang dan Tantangan Blue Economy di Indonesia di FE Unair, Kamis (6/12/2012).
Misalnya pilot project tambak udang di Jabar yang kini telah mengalami revitalisasi mulai saluran irigasi, jalan primer dan skunder.
"Dari 10.000 hektare, yang 1000 hektare jadi percontohan menggunakan inovasi teknologi. Produksi per musim (1 tahun ada 2 musim) dulu hanya 5-8 ton sekarang menjadi 20 ton. Disana juga disupport 5 bank, diantaranya BRI, BTN, Bukopin, Bank Jabar Banten, yang sanggup mengucurkan pembiayaan senilai Rp 400 miliar," jelas Cicip.
Pembiayaan tersebut antara lain tidak hanya untuk infrastruktur tapi juga untuk mendatangkan teknologi modern untuk menekan risiko tambak gagal panen.
"Di Jatim, BRI kemarin commit mengucurkan Rp 2 triliun untuk sektor perikanan, bank-bank lain bisa mengikuti langkah BRI tersebut. Saat ini sektor perikanan sudah punya beberapa alat canggih, seperti satelit pendeteksi pergerakkan ikan. Jadi ini sangat mempermudah nelayan menangkap ikan," jelasnya.
Zona laut, kata dia, perlu pengaturan khusus mengingat industri yang bertumpu pada zona ini cukup banyak.
Terkait potensi sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia, lanjutnya, perikanan tangkap mencapai 6,5 juta ton ikan per tahun dan potensi lahan budidaya laut lebih dari 12 juta hektare.
Selain itu, 70 persen dari 60 cekungan migas Indonesia berada di laut dengan cadangan minyak bumi sebesar 9,1 miliar barrel. Ada pula 80 persen industri dan 59 persen kota berada di wilayah pesisir termasuk pariwisata dengan potensi pantai dan keindahan laut.