• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Surya

Gairah Tak Terkendali Bikin Wanita Ini Bunuh Diri

Kamis, 6 Desember 2012 07:57 WIB
Gairah Tak Terkendali Bikin Wanita Ini Bunuh Diri
foto: Daily mail
TRAGEDI - Gretchen Molannen (kiri) semasa hidup dan ketika mengenakan masker gas. Ia bunuh diri pada 1 Desember karena tidak kuat menahan gairah seksual yang tidak terkendali selama 16 tahun.
SURYA Online, SPRING HILL - Orgasme menjadi barang mahal bagi sebagian perempuan, karena jarang mendapatkannya saat berhubungan seks. Namun orgasme yang terus menerus dan tidak terkendali membawa akibat yang sebaliknya, tragedi.

Gretchen Molannen (39), ditemukan tewas di rumahnya di Spring Hill, Florida AS akhir pekan lalu, seperti dikutip Daily Mail, Kamis (6/12/2012) . Diduga kuat ia tewas akibat bunuh diri.

Diduga kuat ia bunuh diri karena merasa tersiksa dengan gangguan gairah genital yang menetap. Kelainan ini sudah dialaminya selama sekitar 16 tahun.

Kondisi ini tidak menyangkut psikis secara langsung, tetapi fisik Molannen. Gairahnya tak bisa dikontrol dan itu hanya bisa dilepaskan setelah melalui masturbasi berjam-jam.

Tidak jelas bagaimana Molannen mengakhiri hidupnya. Petugas kantor Sherrif Hernando mengaku mendapatkan telepon laporan ada bunuh diri Sabtu (1/12/2012) malam. Dua teman Molannen membenarkan hal itu.

Tampa Bay Times membuat profil Molannen sepekan sebelum ia bunuh diri. Ia mengungkapnya segala hal terkait kelainan yang dideritanya itu.

Ia menjelaskan, kelainan itu dialaminya pertama kali ketika berusia 23 tahun. Ia menganalogikan kelainan itu sebagai saklar 'on' yang tidak bisa dimatikan. "Sebelum ini hidup saya sangat berbeda, sampai saat monster ini merenggutnya," tutur Molannen.

"Saya pernah mencintai hidup saya. Tetapi kelainan ini merusaknya. Yang seperti ini bukan hidup namanya. Setiap waktu saya memikirkan bunuh diri," katanya menambahkan.

Satu-satunya cara melepaskan beban gairah itu adalah dengan bermasturbasi selama berjam-jam sampai selesai. Namun, cara ini bagi Molannen yang menganut Lutheran sebagai hal yang memalukan.

Kondisi ini membuatnya tidak bisa bekerja sebagai penerjemah, meski ia sangat lancar berbahasa Prancis, Jerman dan Spanyol. Waktunya dia habiskan untuk mengurusi tuntutan dari kelainan fisik itu.

Ia mengaku berhenti bekerja pada 1999 dan mulai menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tidur, ditemani vibrator. "Saya sangat takut. Saya tidak bisa menghentikan gairah itu. Saya tidak tahu harus berbuat apa," katanya.

Molannen mengaku sudah berusaha bunuh diri hingga tiga kali. "Saya tahu, Tuhan menginginkan yang lebih banyak dari hidup saya ketimbang mencoba bunuh diri, terus menangis dan menyiksa diri," katanya.

Karena tidak bekerja itulah ia mengajukan permohonan tunjangan sebagai penyandang cacat. Dua kali mengajukan, dua kali pula ia ditolak.

Kasus Molannen diketahui Tampa Bay Times saat ia memasang iklan di Craiglist awal 2012. Ia mencari orang yang bisa memberinya pemeriksaan MRI gratis, yang hasilnya akan dijadikan bukti tentang kondisinya di depan hakim.

Tragisnya, setelah artikel itu keluar - dan setelah ia bunuh diri - banyak orang menghubungi Tampa Bay Times untuk menawarkan bantuan itu. "Semua itu sudah tidak diperlukan lagi. Dia sudah meninggal," kata sang kekasih.

Penulis: Adi Sasono
Editor: Heru Pramono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
367232 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas