Gagak Rimang Sabet Piala Presiden Karapan Tanpa Kekerasan

Piala Presiden 2012 seolah menegaskan bahwa budaya karapan sapi di Madura tetap eksis kendati tanpa melukai sapi kerap

Hal tersebut dibuktikan dengan masih antusiasnya masyarakat Madura maupun dari luar Madura menyaksikan karapan sapi tanpa kekerasan yang digelar Stadion RPH Moh Noer Bangkalan, Minggu (21/10/2012).

Ada pemandangan berbeda dari perhelatan karapan sapi memperebutkan Piala Presiden tanpa kekerasan yang pertama kali diadakan. Gerak-gerak pasangan sapi kerap tidak segarang sapi-sapi yang tubuhnya dipenuhi luka gores atau olesan balsam di kedua mata sapi, seperti karapan-karapan sebelumnya.

Hasilnya, sapi menjadi tenang dan tidak terlalu sulit dikendalikan saat dituntun menuju garis start. Begitu juga saat pasangan sapi kerap mengambil posisi siap diberangkatkan. Sehingga perhelatan Karapan Sapi Piala Presiden tidak membutuhkan waktu yang lama.

Pemilik sapi kerap Gagak Rimang yang berhasil keluar sebaagai juara pertama atas, H Tohir mengungkapkan, persiapan yang dilakukan untuk mengikuti karapan sapi tanpa kekerasan lebih khusus ketimbang mengikuti karapan sapi dengan menggunakn kekerasan.

”Kekuatan berlari sapi menjadi prioritas utama dalam mengikuti karapan sapai tanpa menggunakan kekerasan,” ungkapnya kepada Harian Surya usai menerima Piala Presiden 2012.

Pengusaha sukses asal Desa Sanggra Agung, Kecamatan Socah itu mengemukakan, dalam karapan sapi tanpa kekerasan, gerakan sapi yang ditimbulkan saat berlari di landasan pacu merupakan kekuatan murni yang muncul dari sapi itu sendiri.

”Itu alami. Tidak dipaksa oleh sabetan tongkat dipenuhi paku atau olesan balsem yang mengakibatkan bagian anggota tubuh sapi terluka. Sehingga menyebabkan sapi terkadang tidak terkendali saat digiring menuju atau ketika mengambil posisi siap lari,” jelasnya.

Ia menambahkan, karapan sapi tanpa kekerasan tidak sedikitpun mengurangi nilai budaya karapan sapi yang tetap menjadi kebanggan warga empat kabupaten yang ada di Madura. ”Bahkan tensinya tidak sepanas dengan menggunakan kekerasan,” pungkasnya.

Sementara itu, pemilik sapi kerap berjuluk Anti Teror asal Desa Katol Kecamatan Geger, Mahfud mengungkapkan, terdapat sedikit kelemahan yang perlu diperbaiki oleh panitia karapan sapi tanpa kekerasan di tahun-tahun berikutnya. ”Seperti penataan para penonton yang berjejer di kedua sisi lapangan. Begitu juga dengan penonton yang ada di garis finis, seharusnya dikosongkan,” terangnya.

Mahfud menyatakan, kondisi mental sapi tanpa kekerasan tidak sama dengan sapi-sapi kerap yang telah disiapkan untuk karapan dengan menggunakan kekerasan. ”Sapi menjadi takut terhadap penonton yang terlalu dekat karena sapi tidak lagi beringas. Beda kalau sudah beringas, tidak menghiraukan sekitarnya,” imbuhnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Satwika Rumeksa
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help