A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Gagak Rimang Sabet Piala Presiden Karapan Tanpa Kekerasan - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 16 April 2014
Surya

Gagak Rimang Sabet Piala Presiden Karapan Tanpa Kekerasan

Minggu, 21 Oktober 2012 19:19 WIB
SURYA Online, BANGKALAN - Sukses Kabupaten Bangkalan menggelar karapan sapi tanpa kekerasan Piala Presiden 2012 seolah menegaskan bahwa budaya karapan sapi di Madura tetap eksis kendati tanpa melukai sapi kerap.

Hal tersebut dibuktikan dengan masih antusiasnya masyarakat Madura maupun dari luar Madura menyaksikan karapan sapi tanpa kekerasan yang digelar Stadion RPH Moh Noer Bangkalan, Minggu (21/10/2012).

Ada pemandangan berbeda dari perhelatan karapan sapi memperebutkan Piala Presiden tanpa kekerasan yang pertama kali diadakan. Gerak-gerak pasangan sapi kerap tidak segarang sapi-sapi yang tubuhnya dipenuhi luka gores atau olesan balsam di kedua mata sapi, seperti karapan-karapan sebelumnya.

Hasilnya, sapi menjadi tenang dan tidak terlalu sulit dikendalikan saat dituntun menuju garis start. Begitu juga saat pasangan sapi kerap mengambil posisi siap diberangkatkan. Sehingga perhelatan Karapan Sapi Piala Presiden tidak membutuhkan waktu yang lama.

Pemilik sapi kerap Gagak Rimang yang berhasil keluar sebaagai juara pertama atas, H Tohir mengungkapkan, persiapan yang dilakukan untuk mengikuti karapan sapi tanpa kekerasan lebih khusus ketimbang mengikuti karapan sapi dengan menggunakn kekerasan.

”Kekuatan berlari sapi menjadi prioritas utama dalam mengikuti karapan sapai tanpa menggunakan kekerasan,” ungkapnya kepada Harian Surya usai menerima Piala Presiden 2012.

Pengusaha sukses asal Desa Sanggra Agung, Kecamatan Socah itu mengemukakan, dalam karapan sapi tanpa kekerasan, gerakan sapi yang ditimbulkan saat berlari di landasan pacu merupakan kekuatan murni yang muncul dari sapi itu sendiri.

”Itu alami. Tidak dipaksa oleh sabetan tongkat dipenuhi paku atau olesan balsem yang mengakibatkan bagian anggota tubuh sapi terluka. Sehingga menyebabkan sapi terkadang tidak terkendali saat digiring menuju atau ketika mengambil posisi siap lari,” jelasnya.

Ia menambahkan, karapan sapi tanpa kekerasan tidak sedikitpun mengurangi nilai budaya karapan sapi yang tetap menjadi kebanggan warga empat kabupaten yang ada di Madura. ”Bahkan tensinya tidak sepanas dengan menggunakan kekerasan,” pungkasnya.

Sementara itu, pemilik sapi kerap berjuluk Anti Teror asal Desa Katol Kecamatan Geger, Mahfud mengungkapkan, terdapat sedikit kelemahan yang perlu diperbaiki oleh panitia karapan sapi tanpa kekerasan di tahun-tahun berikutnya. ”Seperti penataan para penonton yang berjejer di kedua sisi lapangan. Begitu juga dengan penonton yang ada di garis finis, seharusnya dikosongkan,” terangnya.

Mahfud menyatakan, kondisi mental sapi tanpa kekerasan tidak sama dengan sapi-sapi kerap yang telah disiapkan untuk karapan dengan menggunakan kekerasan. ”Sapi menjadi takut terhadap penonton yang terlalu dekat karena sapi tidak lagi beringas. Beda kalau sudah beringas, tidak menghiraukan sekitarnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul usai membuka Karapan Sapi tanpa kekerasan mengatakan, dalam pelaksanaan karapan sapi tanpa kekerasan ini bisa saja berpotensi munculnya kecurangan-kecurangan. ”Potensi (kecurangan) itu mungkin ada. Dengan cara mengoleskan balsam secara sembunyi-sembunyi,” terangnya.

Namun, lanjutnya, pagelaran karapan sapi tanpa kekerasan yang mulai dilakukan di tahun ini bisa dijadikan ajang penyesuaian, termasuk meminimalisir tingkat kecurangan yang dikhawatirkan kalangan pemilik sapi.
”Karena ini masa transisi yang membutuhkan penyesuaian-penyesuaian. Tapi ini merupakan awal yang baik untuk dilanjutkan pada karapan tanpa kekerasan di Piala Presiden tahun berikutnya,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Bupati Bangkalan RKH Fuad Amin. Menurutnya, digelarnya karapan sapi tanpa kekerasan bertujuan untuk merangkul semua kalangan pemilik sapi untuk melestarikan budaya sapi kerap seperti yang telah diwariskan para leluhur.

”Budaya kita utuh. Harapan kita menjadi satu seperti karapan sapi tanpa kekerasan yang diwariskan para leluhur. Hanya tinggal waktu, nantinya semuanya tanpa kekerasan. Piala Presiden tetap satu, tidak seperti sekarang,” paparnya.

Dalam Karapan Sapi Tanpa Kekerasan memperebutkan Piala Presiden yang digelar di Kabupaten Bangkalan itu, diikuti oleh 24 pasang sapi yang berasal dari empat kabupaten di Madura.

Kabupaten Bangkalan sendiri mengikutkan 12 pasang sapi kerap, Kabupaten Pamekasan 6 pasang sapi kerap, dan Kabupaten Sumenep 6 pasang sapi kerap. Sementara Kabupaten Sampang, yang menjadi tempat pagelaran karapan sapi dengan menggunakan kekerasan, tidak mengirim satu pasang pun sapi kerap.
Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Satwika Rumeksa
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
311051 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas