• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Surya

Sapi Lokal Menjadi Berkah Bagi Masyarakat (1)

Selasa, 2 Oktober 2012 13:33 WIB
Sapi Lokal Menjadi Berkah Bagi Masyarakat (1)
foto: Surya/Mujib Anwar
SAPI LOKAL - Sapi lokal yang digemukkan PT Agri Satwa Jaya Kencana di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.
SURYA Online, MALANG - Pemerintah Pusat sudah dua kali gagal mewujudkan program swasembada daging yang telah dicanangkan. Kini, dalam pencanangan program swasembada daging yang ketiga (2010-2014), Pemerintah menggantungkan penuh sukses tidaknya program tersebut kepada Jatim yang menjadi surga daging nasional. Karena 31 persen atau lebih dari seperempat kebutuhan daging nasional disuplai dari provinsi ini.

Tangan Syafi’i, (27) terlihat cekatan menurunkan makanan sapi dari
mobil pick up, Sabtu pekan lalu. Dia dibantu dua temannya, Fadil dan
Bukori. Sejurus kemudian, makanan untuk penggemukan sapi lokal yang
ada di sak besar sudah berada di depan kandang. Makanan itu lalu
ditaruh di depan sapi. Tanpa dikomando, 70 ekor sapi yang ada di deret
paling depan kandang peternakan khusus penggemukan sapi milik PT Agri
Satwa Jaya Kencana di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi,
Kabupaten Malang berlomba menghabiskan rumput dan minuman yang ada di
depannya. Sekitar sepuluh menit kemudian, semua makanan sudah ludes
disantap binatang ternak tersebut.

Pekerjaan memberi makan sapi tersebut dilakukan rutin dilakukan
Syafi’i dua kali dalam sehari. Makan pertama, pukul 08.00 dan kedua,
pukul 13.00. Dengan jumlah sapi yang digemukkan mencapai 2 ribu ekor,
sekali makan dibutuhkan enam pick up makanan. “Jadi sehari, butuh 12
pick up makanan,” ujar bapak satu anak ini, kepada Surya.

Dari jerih payahnya itu, setiap harinya warga Desa Karangsuko
Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang ini mendapat uang bayaran harian
sebesar Rp 40 ribu. Selain Syafi’i, Fadil, dan Bukori, 47 orang warga
sekitar juga ikut mengais rejeki di kandang peternakan seluas 2,7
hektare tersebut. Itu belum termasuk 15 orang staf yang bertugas
mengurusi bidang lainnya. “Alhamdulillah, gajinya lumayan dan cukup dipakai untuk biaya kebutuhan sehari-hari,” tegas Fadil.

“Pokoknya keberadaan tempat peternakan ini jadi berkah bagi masyarakat
disini,” imbuh Syafi’i.

Staf Pembelian Sapi PT Agri Satwa Jaya Kencana Bambang Hidayat
menjelaskan, semua sapi yang digemukkan merupakan sapi lokal dan
dibeli dari pasar tradisional yang ada di Malang, Blitar, dan Tulung
Agung. Sapi yang dibeli harus punya struktur kaki kokoh dengan berat
rata-rata 330 kg/ekor dan tidak ada indikasi penyakit paru-paru. Per
kilo gram hidup, dibeli dengan harga Rp 27.500-28.500 .

“Mata rantai pembelian sapi ini melibatkan peternak, blantik kampung,
pasar lokal, blantik pengumpul hingga jagal. Jadi ada multiplayer
effect di bidang ekonomi disini. Tidak hanya bosnya saja yang untung,
tapi masyarakat lain juga diuntungkan,” katanya.

Usai dibeli, sapi akan digemukkan selama 120 hari. Dengan metode
penggemukan khusus, bobot sapi bertambah 1 kg/hari, dengan biaya pakan
antara Rp 18.000-19.000/hari/ekor. Dengan begitu, selama empat bulan
bobot sapi bertambah 120 kg menjadi 450 kg. Setelah itu, sapi dijual
kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan daging sehari-hari. “Harga
jual rata-rata Rp 29 ribu/kg. Kenaikan harga Rp 1.000 ini karena
rendemen sapi bertambah,” terang Bambang.

Manajer Operasional PT Agri Satwa Jaya Kencana Sukistiyo Widodo
mengatakan,  peternakan khusus untuk penggemukan atau fattingini yang
dikelolanya dan berdiri tahun 2000 awalnya menggunakan sapi impor.
Pertimbangannya, sapi impor memiliki kelebihan performen sehingga
mudah digemukkan.Tapi dari segi kualitas daging, sapi lokal lebih
bagus dari sapi impor, karena kandungan lemaknya lebih sedikit
dibanding sapi impor.

Tapi setelah Gubernur Jatim membuat surat edaran Nomor
524/8838/023/2010 tanggal 30 Juni 2010 tentang Larangan pemasukan dan
peredaran sapi, daging dan jeroan impor, pihaknya, kata Dody –
panggilan Sukistiyo Widodo menggunakan sapi lokal 100 persen.
“Ternyata hasilnya tidak kalah dengan sapi impor. Meski lokal,sapi
yang kami  gemukkan adalah sapi inseminasi buatan,” jelasnya.

Kini pihaknya, kata Dody dapat menuai berkah dari bisnis penggemukan
sapi lokal. Setiap bulan, mampu menjual 400- 500 ekor sapi untuk
memenuhi kebutuhan daging di wilayah Malang Raya, Blitar, Mojokerto,
dan daerah lain. Selain itu, Dody juga yakin, meski mengandalkan sapi
lokal, Jatim sebagai gudangnya ternak di Indonesia tidak akan
kekurangan daging. Ketika kran impor ditutup, peternak Jatim malah
mendapat berkah dan memunculkan optimisme menjadikan ternak sebagai
surga dan tulang punggung penghasilan sehari-hari.

“Tak hanya itu saya, Jatim juga dapat lebih meningkatkan produksi
dagingnya, untuk mensuplai kebutuhan daging nasional yang sangat
bergantung dari sini (Jatim),” tegas Dody.

Setelah sukses menggemukkan sapi lokal inseminasi buatan, PT Agri
Satwa Jaya Kencana menyediakan lahan 1 hektare disamping kandang.
Lahan khusus itu dipakai melepas 150 ekor sapi betina untuk kawin
secara alami dengan pejantan. Pihaknya ingin melihat berapa keuntungan
yang bisa ditangguk dari sistem kawin alami ini. Jika menguntungkan
akan terus dipertahankan dan areanya diperluas. “Selain itu, ini juga
sebagai bentuk mempertahankan keberadaan sapi lokal yang dagingnya tak
kalah dari sapi impor,” tandas Dody.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Malang Sudjono menambahkan,
Kabupaten Malang merupakan salah satu daerah penghasil daging di
Jatim, selain wilayah Madura dan daerah pantura seperti Tuban,
Bojonegoro, dan Lamongan. Setiap tahun, daging yang dihasilkan
mencapai 21.144 ton. Dari jumlah itu, 16.258 ton untuk memenuhi
konsumsi daging di wilayah Malang Raya dan 4.886 ton sisanya untuk
memenuhi konsumsi daerah lain.

Banyaknya daging yang dihasilkan tersebut, karena berdasar data BPS
2012, populasi ternak sapi potong di Kabupaten Malang mencapai 225.895
ekor. Ternak sapi tersebut menyebar di 390 desa/kelurahan yang ada di
33 kecamatan. “Dan luar biasanya, sebanyak 85 persen diantaranya
merupakan peternakan rakyat. Dari menjadi peternak inilah, pendapatan
dan kesejahteraan masyarakat peternak di Malang bisa lebih meningkat.
Terutama dengan adanya larangan sapi dan daging impor,” tegas Sudjono.
Penulis: Mujib Anwar
Editor: Heru Pramono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas