Kamis, 18 Desember 2014
Surya

Ordik Dibisniskan Mahasiswa Unira Demo

Selasa, 25 September 2012 21:03 WIB

Ordik Dibisniskan Mahasiswa Unira Demo - 25bakar1.jpg
surya/muchsin
Mahasiswa Unira membakar ban bekas di halaman kampus Unira
Ordik Dibisniskan Mahasiswa Unira Demo - 25bakar2.jpg
surya/muchsin
SURYA Online, PAMEKASAN – Sekitar 50 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahiswa Universitas Madura (AMU) Pamekasan, unjuk rasa di halamaman kampus Unira, di Jl Panglegur, Pamekasan, Selasa (25/9/2012).
 
Mereka mempertanyakan pelaksanaan orentasi pendidikan (ordik) bagi mahasiswa baru (maba), yang dinilai dijadikan bisnis bagi panitia ordik dan rektorat yang sudah berlangsung selama dua tahun. Bagi maba yang tidak ikut ordik, cukup membayar uang konpensasi kepada panitia ordik dan pihak rektorat Unira sebesar Rp 150.000 – Rp 200.000 tiap maba.
 
Namun, walau mereka tidak ikut ordik, tetap mendapatkan sertifikat. “Bukankah Ordik ini merupakan kewajiaban bagi setiap mahasiswa baru. Tapi Ordik yang bertujuan melatih mahasiswa agar mengerti fungsi dan tugas mahasiswa, ternyata dijadikan ladang bisnis oleh birokrasi kampus yang tidak bertanggungjawab,” ujar Koordinator Lapangan, Hery Hermawan.
 
Sambil membakar ban bekas dan membentangkan sejumlah poster, di antaranya bertuliskan hapus tuntas mafia Ordik, jangan jadikan Ordik lahan bisnis, komnpensasi ordik, Unira Kaya dan mahasiswa miskin.
 
Menurut Hery Hermawan, Ordik maba Unira tahun akademik 2012 – 2013 berlangsung selama seminggu, mulai 10 September – 16 September. Maba yang diterima di Unira sebanyak 1.063 mahasiswa, namun yang ikut ordik hanya sekitar 400 mahasiswa, sisanya tidak ikut karena sudah membayar.
 
Diungkapkan, sebelum mereka berunjuk rasa, mereka sudah kirim surat ke Purek III dan biro kemahasiswaan untuk bertemu membicarakan pelaksanaan ordik yang berbau uang. Namun tidak mau dengan alasan ke luar kota.

"Pertama mengaku masih di Surabaya, kedua beralasan di Malang dan ketiga kalinya rapat di luar kota,” ungkap Hery Fermawan.
 
Usai orasi, mereka bergerak menuju ruang pembantur rektor (Purek) III, Munif dan ruang Kabiro Kemahasiswaan, Fajar. Tapi keduanya tida ada di tempat dan tidak jelas ke mana, sehingga pengunjuk rasa menempelkan poster di kaca dan pintu ruagan Purek III dan Kabiro Kemahasiswaaan.


 
 
Penulis: Muchsin
Editor: Rudy Hartono

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas