Jumat, 26 Desember 2014
Surya

Komunitas JK Owners Goes to Bromo

Selasa, 11 September 2012 10:29 WIB

Komunitas JK Owners Goes to Bromo
ahmad zaimul haq
JK Owners Chapter Surabaya
Komunitas penyuka mobil Wrangler tipe terbaru, JK, ini baru ada di Jakarta. Baru dibentuk Juni 2011, yang berawal dari sesama penghobi motor. Anggotanya kini hampir mencapai 100 orang yang tersebar di beberapa kota. Yaitu Jawa Barat, Banten, Bali, Medan, Palembang, dan Makasar.

”Surabaya belum ada, tetapi dengan program Goes to Bromo ini kami bertujuan untuk membentuk JK Owners chapter Surabaya,” papar Arie Yuwono, Ketua JK Owners, Jumat (7/9). Sama dengan pembentukan JK Owners chapter Palembang yang sedang diproses.

Anggota rata-rata memang sudah memiliki mobil lebih dari satu unit dan dari berbagai jenis. Mobil jeep dipilih karena mereka juga menikmati kehidupan off road yang penuh tantangan.

”Mobil Wrangler JK yang mulai muncul sejak 2007 sudah menjadi gaya hidup mereka. Rame-ramenya ya 2011 itu hingga sekarang,” kata Arie yang dikenal juga sebagai pembalap mobil Indonesia. Kalau gathering di Jakarta, bisa sampai 40 pemilik mobil yang datang.

JK Owners sendiri belum ada sekretariat, jadi mereka biasanya berkumpul di Jl H Nawi yang juga rumah Arie. Kegiatan rutin yang biasa dilakukan adalah sekadar berkumpul atau menggelar program bakti sosial.

Sebagian besar anggota berprofesi sebagai wiraswasta. Sehingga, program seperti Goes to Bromo yang dilaksanakan selama 7 hingga 9 September 2012 ini tidak terlalu banyak halangan terkait jadwal. ”Program banyak yang dibuat dadakan, Goes to Bromo ini dibahas waktu buka puasa bersama lalu,” ujar Arie.

Goes to Bromo ini diikuti 12 mobil dari Jakarta, tiga mobil dari Surabaya, dan satu mobil dari Malang. Semula mereka berencana akan mengadakan traveling ke Bali sekaligus pengukuhan JK Owners chapter Bali. Waktu terbatas menjadi kendala mereka dan akhirnya Surabaya menjadi jujugan.

”Apalagi Bromo itu sudah terkenal indahnya dari dulu. Belum lagi kebiasaan narsis anggota di Facebook. Pasti mereka akan suka berfoto,” ucap Arie sambil tertawa.

Untuk acara di Surabaya, mereka didukung PT Garasindo yang ada di Jl HR Muhammad. Di sini, pemilik mobil Jeep seperti Wrangler biasa membawa kendaraaannya untuk diperbaiki.

”Jeep itu sebenarnya merek, bukan jenis mobil. Tapi orang sudah terbiasa mengenal Jeep sebagai jenis mobil,” terang Hary Prianto, peserta dari Jakarta. Untuk mengikuti Goes to Bromo, Hary bersama rekan-rekan lainnya mengirim mobil Wrangler JK melalui transportasi laut.


Disuka Karena Kokoh

Mobil Jeep Wrangler diproduksi perusahaan otomotif asal Amerika Serikat, Chrysler. Didesain sebagai mobil sport four-wheel drive dan kendaraan off-road. Pendahulunya, mobil Civilian Jeep (CJ) diperkenalkan pada 1944 yang merupakan versi sipil mobil militer Jeep Willys pada Perang Dunia II. Total telah dibuat hingga 10 tipe CJ.

Pada 1987, CJ diganti Jeep Wrangler yang mengalami revisi pada 1997 dan 2007. Setiap model Wrangler menandakan generasinya, yaitu YJ (1987–1995), TJ (1997–2006), LJ (model terbatas pada 2004–2006) dan JK (2007 hingga sekarang).

Satu unit mobil JK harganya berkisar Rp 650 juta hingga Rp 950 juta. Meski demikian, Wrangler tipe TJ, YJ, dan CJ7 masih banyak beredar di jalanan. Bahkan, tipe CJ7 kondisinya sangat kuat dan banyak orang yang mengoleksinya.

Ridlo Bisri, kolektor mobil asal Gresik, menyukai CJ7 karena kondisinya yang kuat. ”Yang pasti perawatannya harus rutin,” ujar Ridlo yang juga anggota Harley Owner Group East Java Chapter.

”Teman-teman sampai buat motto, Jeep itu dibuat bukan untuk dibeli,” sahut Arie. Pemilik mobil Wrangler JK warna kuning dan hitam ini menyukai Wrangler karena kemampuannya untuk digunakan off-road maupun sekadar berkeliling kota, serta teknologinya yang canggih.

Jelajahi Sisi Liar Jatim

Jawa Timur dikenal dengan wisata alamnya. Sunarmaji dari Disparta Provinsi Jatim mengatakan terdapat 764 tempat wisata di Jatim dan 196 titik di antaranya berupa wisata alam. Lanskapnya berupa pantai, gunung dan hutan.

”Sebagian besar sudah ada jalan, meskipun belum beraspal semua,” kata Sunarmaji.

Dengan adanya komunitas otomotif untuk mengambil rute touring area wisata di Jatim, diharapkan akan tersebar informasi lebih luas mengenai potensi wisata Jatim. Karena pengalaman satu komunitas otomotif dapat disampaikan ke komunitas-komunitas yang lain.

Dari Kota Surabaya, JK Owners akan menuju Bromo untuk melihat matahari terbenam dan bermalam di sana. Keesokan pagi usai subuh, Sabtu (8/9), mereka menuju kawah Gunung Bromo untuk menyaksikan matahari terbit.

Berikutnya, mereka kembali ke tempat penginapan untuk sarapan dan melanjutkan perjalanan ke bukit teletubbies di area Bromo. ”Ini pertama kalinya kami melalui lautan pasir. Medan berpasir ini memungkinkan ban tenggelam dan menyulitkan perjalanan,” kata Diaz Rizaldi, anggota JK Owners yang juga tim survei dari Surabaya.

Namun, jalan berpasir rata-rata tidak terlalu sulit bagi kendaraan four wheel drive. Bahkan, mereka sangat menikmati area ini. Sebagian peserta penasaran dan ingin mencoba jalur yang lebih ekstrim dan menantang, di luar semestinya.

”Dari Bromo, kami menuju Cuban Pelangi di Tumpang. Jalurnya lebih bagus dan penuh hutan pinus dibanding dari arah Tosari ke lautan pasir,” tutur Luthfi, peserta Goes to Bromo lainnya.

Tanjakan dan tikungannya menjadi tantangan tersendiri bagi anggota JK Owners. Dikatakan juga, jalur tersebut akan ditutup untuk perbaikan karena kondisinya yang parah yaitu berlubang dan aspalnya yang mengelupas.

Usai dari Tumpang, mereka ke Malang melalui sisi Gunung Semeru dan bermalam di sana. Perjalanan selanjutnya, Minggu (9/9), ke Batu dan berhenti di lokasi bumi perkemahan Coban Talun. Setelah bersantai di sana, mereka pulang ke Surabaya melalui rute Gunung Cangar-Mojosari-Surabaya. Tidak ada masalah berarti sepanjang perjalanan. Semua aman terkendali karena kondisi JK masih relatif baru dan sehat.
Penulis: Marta Nurfaidah
Editor: Endah Imawati

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas