Jumat, 17 Agustus 2012 21:03 WIB | Dibaca: 1917 | Editor: Tri Hatma Ningsih
oleh : Cicik Tri Jayanti
Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang
jayantie19@gmail.com
Saat itu, saya terlalu kecil untuk bisa memahami bagaimana serentetan persiapan panjang sengaja dikerjakan hanya untuk dapat menyajikan yang terbaik. Durasinya hanya sebentar, dua kali tiga puluh lima menit untuk jenjang SD, dua kali empat puluh menit untuk SMP, dan dua kali empat puluh lima menit untuk SMA. Durasi singkat tersebut nyatanya menguras tenaga bila tak dilandasi keikhlasan.
Mulai dari menghitung pekan efektif selama setahun, menyusun program tahunan, program semester, rancangan penilaian, silabus, serta rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) per pertemuan. Selain itu, memilih bahan yang layak dijadikan materi pembelajaran, menggunakan metode, hingga merancang media pembelajaran yang memudahkan siswa dalam memahami materi.
Semua itu, serentetan pekerjaan menguras waktu, tenaga, dan pikiran, menjadi rutinitas para guru. Seringkali, menerima imbalan yang tak pantas baik dari segi materi maupun penerimaan dari siswa. Terkadang, persiapan panjang itu tak dihargai karena sesampainya di sekolah, banyak siswa yang meremehkkan, ramai, ataupun tertidur. Ada pula yang mendapat penerimaan lebih daripada yang diharapkan. Sesampainya di sekolah, disambut wajah-wajah tak berdosa yang tersenyum menawan menantikan datangnya pembelajaran.
Kini, kami memerankan peran itu. Kami menjadi guru. Ketika itu pula, kami menyadari bahwa dulu banyak mozaik-mozaik yang sejatinya tak pantas kami hadiahkan kepada sosok yang seharusnya kami gugu dan tiru itu. Salah satu dari kami berbondong-bondong melontarkan celotehan yang berisi penyesalan sebagai sarana refleksi kami di masa lalu. Kami adalah peserta praktik pengenalan lapangan (PPL) semester gasal Universitas Negeri Malang (UM) di SMKN 2 Malang.
Pagi itu, Selasa 31 Juli 2012, tangan saya bersuhu tak biasa. Dingin. Selama seminggu ditemani pengajar senior, tetap tak membuat saya merasa tenang. Suara sepatu high heels hitam yang saya kenakan ternyata lebih mirip suara detak jantung saya. Akhirnya, saat itupun tiba. Aku menjadi pusat perhatian tiga puluh delapan siswa XII PS 2. Aku berada di depan siswa program perawatan sosial (PS).
Suasana seketika mencair kala wajah-wajah tak berdosa itu antusias mendengarkan sesi apersepsi. Saya tak lagi gugup ketika mereka memahami esensi materi yang disampaikan lewat ilustrasi, yakni menyimak atau mendengar secara cermat itu penting. Waktu berlalu begitu cepat. Mereka kembali memusatkan perhatian kala sesi penutup, yakni refleksi pembelajaran tiba. Sungguh, saya ingin menjadi guru!
Berita Selengkapnya Klik di Sini »