Minggu, 2 Agustus 2015

Uswatun Generasi Baru Penjaga Tradisi Bumi Ronggolawe (Bagian-1)

Senin, 6 Agustus 2012 22:37

Uswatun Generasi Baru Penjaga Tradisi Bumi Ronggolawe (Bagian-1)
surya/istimewa
Uswatun Hasanah, pengrajin sekaligus pengusaha Batik Gedog khas Tuban memperlihatkan motif batik buatannya.

Namun peruntungan perempuan kelahiran 15 Oktober 1970 ini mulai berubah pada awal tahun 2000. Berbekal informasi dari seorang teman tentang adanya program pinjaman tanpa agunan dari dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) di PT Semen Gresik – sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Uswatun memberanikan diri mengajukan proposal pinjaman modal ke perusahaan milik pemerintah yang pabriknya berada disekitar kampungnya tersebut.

“Ternyata proposal pinjaman saya disetujui. Saya mendapat pinjaman modal Rp 25 juta. Bagi saya itu sangat besar, apalagi syaratnya gampang, tidak pakai agunan (jaminan) dan tak ada bunganya seperti (pinjam) bank,” ungkap Uswatun  kepada wartawan Surya, Senin (30/7/2012) pekan lalu.

Berbekal modal dari PT Semen Gresik tersebut, Uswatun lantas menata ulang usaha membatiknya. Beberapa peralatan dan sarana prasarana diremajakan. Dia juga membeli bahan baku dengan jumlah yang cukup banyak dibandingkan sebelumnya.

Tak butuh waktu lama, sekitar setahun kemudian usahanya mulai berkembang. Tak hanya melayani pasar lokal di wilayah Tuban dan sekitarnya, batik Gedog made in Uswatun juga mulai merambah pasar Bali, yang waktu itu menjadi surga pariwisata bagi wisatawan mancanegara. Dengan cepat, batik khas pesisir ini langsung banyak digemari para turis mancanegara.

Tapi perubahan nasib usahanya tiba-tiba berantakan di tengah jalan, ketika Bom Bali I meledak di Legian, Bali. Pemasaran batik Gedog-nya yang sudah mulai mapan di Pulau Dewata langsung berantakan. Beberapa bulan kemudian bahkan macet total dan lumpuh. Kondisi tersebut diperparah dengan nasib sial yang menimpanya. Barang-barang yang sudah terlanjur dikirim ke Bali tidak dibayar oleh koleganya menyusul anjloknya pariwisata di Bali.

“Saya waktu itu stress banget dan hampir putus asa,” jelasnya.

 Wajar jika istri Sri Widodo ini panik dan stress, karena usahanya mandek, cicilan bulanan yang harus dibayarkan ke PT Semen Gresik juga menjadi macet. Padahal waktu itu, sisa hutang pinjamannya masih tersisa Rp 17 juta. Tapi karena sudah tidak punya apa-apa lagi, Uswatun hanya bisa pasrah. Diapun berusaha menghindar setiap kali ada kunjungan petugas pembinaan dari lembaga penyalur kredit Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Semen Gresik.

Halaman123456
Penulis: Mujib Anwar
Editor: Rudy Hartono
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas