A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Uswatun Generasi Baru Penjaga Tradisi Bumi Ronggolawe (Bagian-1) - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Surya

Uswatun Generasi Baru Penjaga Tradisi Bumi Ronggolawe (Bagian-1)

Senin, 6 Agustus 2012 22:37 WIB
Uswatun Generasi Baru Penjaga Tradisi Bumi Ronggolawe (Bagian-1)
surya/istimewa
Uswatun Hasanah, pengrajin sekaligus pengusaha Batik Gedog khas Tuban memperlihatkan motif batik buatannya.
SURYA Online, TUBAN -  Bantuan orang lain, terlebih jika itu sebuah perusahaan besar seringkali mempercepat perkembangan usaha seseorang. Demikian juga yang dirasakan oleh Uswatun Hasanah, 42, pengrajin Batik Gedog khas Tuban, asal Dusun Luwuk, Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Sejak mengawali usaha membatik pada tahun 1993, selama bertahun-tahun ibu satu anak ini berjuang sendirian untuk mempertahankan tradisi nenek moyangnya.

Namun peruntungan perempuan kelahiran 15 Oktober 1970 ini mulai berubah pada awal tahun 2000. Berbekal informasi dari seorang teman tentang adanya program pinjaman tanpa agunan dari dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) di PT Semen Gresik – sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Uswatun memberanikan diri mengajukan proposal pinjaman modal ke perusahaan milik pemerintah yang pabriknya berada disekitar kampungnya tersebut.

“Ternyata proposal pinjaman saya disetujui. Saya mendapat pinjaman modal Rp 25 juta. Bagi saya itu sangat besar, apalagi syaratnya gampang, tidak pakai agunan (jaminan) dan tak ada bunganya seperti (pinjam) bank,” ungkap Uswatun  kepada wartawan Surya, Senin (30/7/2012) pekan lalu.

Berbekal modal dari PT Semen Gresik tersebut, Uswatun lantas menata ulang usaha membatiknya. Beberapa peralatan dan sarana prasarana diremajakan. Dia juga membeli bahan baku dengan jumlah yang cukup banyak dibandingkan sebelumnya.

Tak butuh waktu lama, sekitar setahun kemudian usahanya mulai berkembang. Tak hanya melayani pasar lokal di wilayah Tuban dan sekitarnya, batik Gedog made in Uswatun juga mulai merambah pasar Bali, yang waktu itu menjadi surga pariwisata bagi wisatawan mancanegara. Dengan cepat, batik khas pesisir ini langsung banyak digemari para turis mancanegara.

Tapi perubahan nasib usahanya tiba-tiba berantakan di tengah jalan, ketika Bom Bali I meledak di Legian, Bali. Pemasaran batik Gedog-nya yang sudah mulai mapan di Pulau Dewata langsung berantakan. Beberapa bulan kemudian bahkan macet total dan lumpuh. Kondisi tersebut diperparah dengan nasib sial yang menimpanya. Barang-barang yang sudah terlanjur dikirim ke Bali tidak dibayar oleh koleganya menyusul anjloknya pariwisata di Bali.

“Saya waktu itu stress banget dan hampir putus asa,” jelasnya.

 Wajar jika istri Sri Widodo ini panik dan stress, karena usahanya mandek, cicilan bulanan yang harus dibayarkan ke PT Semen Gresik juga menjadi macet. Padahal waktu itu, sisa hutang pinjamannya masih tersisa Rp 17 juta. Tapi karena sudah tidak punya apa-apa lagi, Uswatun hanya bisa pasrah. Diapun berusaha menghindar setiap kali ada kunjungan petugas pembinaan dari lembaga penyalur kredit Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Semen Gresik.

Ditengah kepasrahannya terkena efek Bom Bali, Uswatun tetap berusaha bertahan dan terus mengibarkan bendera Batik Tulis Tenun Gedog "Sekar Ayu" miliknya. Tentu dengan jalan utang sana, utang sini. Komitmen itu membuatnya dapat terus bertahan. “Tapi keuntungan sangat pas-pasan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pasrah Uswatun.

Empat tahun kemudian, Uswatun didatangi oleh petugas dari Semen Gresik. Pihak Semen dari bagian PKBL menanyakan, mengapa angsuran pinjaman mandek. Mendapat pertanyaan itu, Uswatun menceritakan semuanya ihwal nasib sial yang menimpanya. Bukan karena produk usahanya gagal di pasaran. Tapi faktor X yang tak kuasa dia urai, yakni terkena imbas multy effect dahsyatnya ledakan Bom Bali.

Mendapat cerita itu,  pihak Semen Gresik lantas berusaha membesarkan hatinya. Pihak manajemen berjanji akan membantu lagi usaha batik Uswatun. “Mendengar itu, saya senangnya bukan main,” ungkapnya.

Uswatun lantas diminta membuat proposal pinjaman lagi. Setelah dicek dan diverifikasi, pada tahun 2007 perusahaan pelat merah itu menyetujui pemberian pinjaman sebesar Rp 55 juta. Dipotong sisa hutang Rp 17 juta, uang pinjaman yang diterima Uswatun hanya Rp 33 juta. Itu ditambah janji dari Semen Gresik yang akan mengajaknya ikut pameran untuk mengenalkan batik Gedog-nya kepada masyarakat yang lebih luas.

 Tapi berbeda dengan pemberian pinjaman modal pertama yang tak perlu ada agunan. Pada pemberian pinjaman modal kedua ini, pihak Semen Gresik mewajibkan ada agunan. Kebijakan itu diambil menyusul banyaknya warga binaan yang menunggak dan tidak membayar angsuran, sehingga menjadi kredit macet.

Tak hanya diajak ikut pameran untuk membuka jaringan usaha, secara berkala Uswatun juga diberi pelatihan desain dan tata administrasi untuk dapat menghadapi ketatnya persaingan pasar batik Gedog sebagai produk hand made dengan batik tulis dari daerah lain di Indonesia. Tak cukup dengan itu, pelaku usaha kecil yang ada di ring I (area terdekat dengan pabrik) yang menjadi warga binaan Semen Gresik juga rutin diberi siraman rohani, dengan mendatangkan para kiai dan motivator untuk mengangkat mental dan semangat mereka untuk memajukan usaha masing-masing.

“Alhamdulillah, dengan semua upaya dan bantuan tersebut, usaha batik saya perlahan tapi pasti menjadi terus berkembang,” ucap anak keempat dari lima bersaudara ini, dengan nada syukur.

Kemampuan Uswatun membatik dia pelajari turun-temurun dari Sedeng, sang Nenek dan Hj Karsipah, sang Ibu. Nenek dan ibunya mengajarkan cara membatik dengan pewarnaan alam. Sedang untuk pewarnaan kimia dia pelajari dari Desa Karang, Kecamatan Semanding, Tuban dan Solo, Jawa Tengah. Dengan terus mengasah pengetahuan dan kemampuannya, Uswatun yang mengaku tidak lulus SD ini dapat membuat seratus lebih motif batik Gedog khas Tuban, mulai motif kuno hingga motif modifikasi.

Ajak  Banyak Pengrajin
Nama Gedog berasal dari bunyi dog-dog yang berasal dari alat menenun batik. Proses pembuatan batik Gedog  membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Lamanya waktu itu, karena perajin harus melewati proses panjang, mulai memintal benang, menenun, membatik, hingga mewarnai dengan bahan alami. Di Kabupaten Tuban, terdapat sekitar 100 ragam motif batik. Dari jumlah itu, 40 diantaranya sudah dipatenkan pemerintah daerah setempat sebagai upaya pelestarian budaya.
 
Kini Uswatun benar-benar merasakan berkah menjadi mitra binaan Semen Gresik. Jika awal meniti dan menggeluti usaha batik pada tahun 1993, dirinya hanya berhasil mebuat batik Gedog beberapa lembar potong per minggu, lalu saat mendapat bantuan pinjaman modal 25 juta pada tahun 2000, produksinya naik menjadi 10-20 potong tiap minggu. Kini setelah menerima pinjaman Rp 50 juta pada tahun 2007 produksinya naik hingga 300 potong setiap minggunya, dimana setiap potongnya berukuran 2 meter. Banyaknya produksi tersebut secara otomatis membuka pekerjaan baru bagi warga di sekitar tempatnya tinggal, Desa Kedungrejo.

Saat ini, ada sekitar 250 orang pengrajin yang menggantungkan ‘penghidupannya’ kepada Batik Tulis Tenun Gedog "Sekar Ayu" milik Uswatun. Mereka adalah anak-anak SD, siswa yang putus sekolah, hingga ibu-ibu rumah tangga. Setiap harinya, penjaga kelestarian budaya Nusantara di garda terdepan ini mendapat imbalan atau penghasilan berkisar antara Rp 12.500 – 30.000 per orangnya.

Usaha yang berkembang itu langsung mengerek pendapatan Uswatun dari bisnis yang digelutinya. Jika pada tahun 1993 omzetnya hanya Rp 1-3 juta per bulan, lalu naik menjadi Rp  20-30 juta per bulan pada tahun 2000. Saat ini omzet ibu dari Zakki Mubarok ini mencapai Rp 170-200 juta setiap bulannya.

“Bahkan jika sedang ada pesanan khusus dalam jumlah besar, omzet bisa lebih besar lagi,” terang peraih Juara Umum Anugerah UKM Semen Gresik 2010 ini.

Besarnya omzet tersebut juga tak lepas dari semakin luas pangsa pasar batik Gedog buatan peraih Penghargaan Upakarti 2010 untuk kategori jasa pelestari dari Pemerintah Pusat ini. Tersebar, mulai pasar lokal, regional, nasional, hingga internsional. Ini salah satunya juga buah seringnya USwatun diajak ikut pameran oleh PT Semen Gresik ke sejumlah daerah, mulai Surabaya, Bali, Jakarta, Jogjakarta, Batam dan berbagai daerah lain. Pada tahun 2011, dia juga diminta mengikuti pameran di luar negeri, Thailand dan Kamboja.

Untuk memenuhi permintaan pasar lokal di wilayah Kabupaten Tuban, Batik Tulis Tenun Gedog "Sekar Ayu" membuka gerai di Desa Kedungrejo, Hotel Mustika, Toko Asih, dan Toko Ana di dekat Klenteng Kwan Sing Bio. Sedang untuk pasar regional Jawa Timur, gerai dibuka di Lamongan, Bojonegoro, Gresik, Surabaya, Magetan, dan Blora. Sementara untuk pasar nasional, menjalin kerjasama pemasaran dan penjualan batik Gedog dengan gerai di Bali, Jakarta, Jogjakarta, Solo, Lampung, dan Kalimantan. Untuk pasar internasional, ekspor batik Gedog sudah merambah sedikitnya lima negara, yakni Australia, Belanda, Jepang, dan Amerika Serikat.

Bahkan karena begitu terkenalnya batik Gedog made in Uswatun Hasanah, rombongan wisawatan dari luar negeri seringkali datang langsung menyambangi sanggar dan gerai batik miliknya di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban untuk memborong batik warisan Leluhur tersebut.

Dengan nama yang sudah terkenal, godaan seringkali menghampiri Uswatun. Dari sekian banyak godaan, yang paling diingatnya adalah ketika dirinya ditawari pindah pindah oleh seseorang saat mengikuti pameran di Batam. Untuk meluluhkan hati Uswatun agar mau pindah ke Negeri Singa, orang tersebut berjanji akan memenuhi semua permintaannya. “Tapi saya menolak tegas permintaan tersebut. Saya lebih mencintai negara saya. Kalau saya pindah, nanti tradisi batik Gedog yang sudah turun-temurun takutnya diakui negara lain,” jawabnya.

Sambutan luar biasa pasar dari berbagai segmentasi itu membuat harga Batik Tulis Tenun Gedog "Sekar Ayu" bervariasi. Mulai dari Rp 100 ribu per potong untuk kain katun kasaran/tulis biasa/satu warna, hingga yang seharga Rp 3 juta per potong untuk kain katun 100 persen dengan desain warna alam.

Kini, setelah mereguk nikmat usaha batik dengan bantuan PT Semen Gresik, Uswatun Hasanah yang termotivasi untuk terus mengembangkan usaha mendapat tawaran pinjaman modal khusus dari Semen Gresik. Pinjaman khusus itu diberikan, untuk mengantisipasi jika Uswatun tiba-tiba mendapat pesanan batik Gedog khusus dalam skala besar. Nilai bergantung kepada Surat Perjanjian Kerjasama (SPK). Jika di SPK, jumlah orderan senilai Rp 300 juta, maka Uswatun akan diberi pinjaman Rp 300 juta, dengan tempo pengembalian empat bulan. “Saat ini saya dapat orderan dan sedang mengajukan pinjaman khusus sebesar Rp 150 juta. Semoga saja disetujui lagi,” imbuhnya.

Ditengah menunggu pinjaman khusus disetujui, Uswatun yang juga seorang kolektor batik Gedog dari beragam motif dan berbagai masa ini mengaku ingin menjadikan Desa Kedungrejo sebagai Desa Wisata dan Museum Batik Gedog. “Saya ingin menunjukkan pada dunia, bahwa dari sinilah (Desa Kedungrejo) warisan budaya Adiluhung bangsa ini dipertahankan oleh anak cucu kita,” tegasnya.

Untuk mewujudkan mimpinta terebut, Uswatun Hasanah rela meluangkan banyak waktunya mengajari siswa SDN Kedungrejo I dan II dan siswa SMPN Kerek belajar membatik sebagai pelajaran ekstrakurikuler. Selain itu, puluhan orang anak tidak mampu juga disekolahkan dan dibina untuk diajari membatik di sanggarnya.

Komitmen Semen Gresik
Perjuangan Uswatun Hasanah melestarikan Batik Gedog khas Tuban mendapat apresiasi dari PT Semen Gresik. Kepala Departemen Pengelolaan Sosial dan Lingkungan Korporasi PT Semen Gresik, Faf Adi Samsul mengatakan, hingga 2011 jumlah UKM binaan Semen Gresik mencapai 18.207. Satu dari belasan ribu UMK binaan tersebut adalah UMK milik Uswatun Hasanah.

Khusus terhadap UMK Batik milik Uswatun, perlakuan Semen Gresik tidak hanya sebatas memberikan pinjaman lunak, pinjaman khusus, mengajak ikut pameran dan pelatihan. Tapi Uswatun juga dikenalkan ke media massa, baik cetak maupun elektronik.

“Dengan begitu, batik Gedog buatan Bu Uswatun semakin dikenal oleh masyarakat luas,”  ujarnya, kepada Surya, Senin (6/8/2012), didampingi Heri Kurniawan, Staf Bina Lingkungan PT Semen Gresik.

Kondisi itu, lanjut Faf berbeda dengan ketika batik Uswatun belum mendapat polesan Semen Gresik. Setelah mulai dikenal dan digemari masyarakat, perlahan tapi pasti batik Gedog made in Uswatun mulai dapat bersaing dengan batik buatan Pak Sholeh yang sudah terkenal lebih dahulu dan menguasai pasar batik Gedog di wilayah Tuban dan sekitarnya.

“Sekarang Bu Uswatun menjadi satu dari beberapa pengusaha besar batik khas Tuban,” jelasnya.

Heri menambahkan, meski sama-sama pengusaha batik, cara pandang Uswatun Hasanah terhadap batik Gedog dengan pengusaha lainnya sangat berbeda. Jika pengusaha lain orientasinya murni bisnis (business oriented), Uswatun adalah sosok pengusaha yang tidak menjadikan keuntungan sebagai pilar utama usahanya. Dia punya komitmen menjadikan batik Gedog tetap lestari dan dapat diturunkan kepada anak cucu.

“Makanya selain membuat desain sendiri dan mengoleksi beragam jenis batik Gedog, beliau juga mengajari siswa SD yang ada di lingkungan sekitar rumahnya untuk melestarikan batik khas Tuban tersebut,” terang Heri.

 Menurut Heri, sejak digulirkan, program PKBL PT Semen Gresik yang dananya bersumber dari dana CSR sudah menyasar lebih dari 11.000 orang dan usaha. Dari jumlah itu, sekitar 6.800 berada di Kabupaten Tuban, dimana 10 persennya memilih batik sebagai bidang usaha. Ini dapat dimaklumi, karena empat pabrik Semen Gresik, yakni Tuban I, Tuban II, Tuban III, dan Tuban IV berdiri di Bumi Ronggolawe tersebut.

“Makanya kalau program kemitraan fokusnya di Jatim, Jateng, Bali, Jogja. Untuk program bina lingkungan lebih difokuskan pada wilayah pertambangan, khususnya di wilayah ring I, yakni 21 desa yang ada di empat kecamatan, Kerek, Jenu, Merakurak, dan Tuban. Semua itu dilakukan agar Semen Gresik memberi manfaat kepada masyarakat di sekitarnya,” tukas Heri.

 Pabrik PT Semen Gresik diresmikan Presiden RI Soekarno pada 7 Agustus 1957. Perusahaan BUMN ini kini menjadi industri semen terbesar di Indonesia. Jika saat didirikan, kapasitas produksi hanya 250 ribu ton semen per tahun, saat ini produksi semen mencapai 11,2 juta ton per tahun, dimana lebih separo produksi merupakan sumbangan pabrik di Tuban. Naiknya jumlah produksi itu mendatangkan pendapatan hingga Rp16,378 triliun pada 2011.

Direktur Utama PT Semen Gresik, Dwi Soetjipto menegaskan, esensi CSR perusahaan yang dipimpinnya adalah membuat perusahaan lebih efisien, punya daya saing tinggi, mampu menciptakan nilai tambah, dan bisa menyediakan produk dan layanan yang terjangkau masyarakat. “Makanya kebijakan yang dibuat adalah bagaimana mengarahkan program untuk  meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui bidang pendidikan, baik yang bersifat sosial maupun ekonomi dan melaksanakan pelestarian alam,” tegasnya.

Bentuknya, melalui program kemitraan Dwi berharap dapat meningkatkan potensi usaha masyarakat melalui peningkatan pemberian pinjaman lunak, meningkatkan pembinaan pelatihan dan promosi produk, baik di dalam negeri maupun luar negeri, serta terus meningkatkan jumlah mitra binaan. Lalu program bina lingkungan diarahkan untuk meningkatkan keahlian IT dan ICT bagi siswa dan pendidik, meningkatkan kompetensi pendidik dan program pendampingan siswa, meningkatkan pemberian beasiswa, dan meningkatkan pelatihan dan keahlian masyarakat. Sedangkan program pelestarian alam diharapkan dapat meningkatkan penghijauan area pabrik dan lingkungan sekitar pabrik, dan meningkatkan penghijauan dengan tanaman produktif di halaman rumah penduduk sekitar pabrik.
(Penulis: MUJIB ANWAR)

Penulis: Mujib Anwar
Editor: Rudy Hartono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
252432 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas