Selasa, 25 November 2014
Surya

Basmi Wereng, Petani Lamongan Gunakan Oli Bekas

Minggu, 29 Juli 2012 14:09 WIB

Basmi Wereng, Petani Lamongan Gunakan Oli Bekas
foto: Surya/Hanif Manshuri
Para buruh tani menyemprotkan oli bekas dicampur solar yang dimasukkan dalam kemasan botol bekas air mineral untuk membasmi hama wereng, Minggu (29/7/2012).
SURYA Online, LAMONGAN - Para petani Lamongan sejak dua hari ini ramai – ramai membeli oli bekas dan solar untuk membasmi hama wereng yang menyerang tanaman padi mereka. Praktiknya, oli bekas dicampur dengan bahan bakar solar dan dituangkan di lahan tanaman padi yang cukup air.

Langkah ini dilakukan petani lantaran, obatan – obatan yang beredar di pasaran dinilainya tidak mampu membasmi populasi hama yang menyerang tanaman padi di wilayah pertambakan.

Upaya petani dengan caranya sendiri yang mungkin tidak rasional ini sebenarnya bukan  temuan baru. Dengan oli yang dicampur solar dan dituangkan ke lahan yang sebelumnya dikemas dalam botol bekas minuman dan disemprotkan ke dalam air dan batang padi ternyata mampu membunuh hama wereng. ”Semua batang padi digerak – gerakkan, ketika hama wereng jatuh ke air  tidak bisa terbang lagi dan mati karena air bercampur oli bekas dan solar yang begitu kental,”ungkap Safi’i petani yang Minggu (29/7/2012) siang mempraktikannya di lahannya di wilayah Kaliotik.

Menurutnya, menggunakan obat – obatan jenis insektisida tidak efektif. Buktinya hama wereng tidak mati dan masih banyak yang kabur terbang  berpindah – pindah. Sementara dengan oli bekas dan solar ini menunjukkan hasil yang maskimal.

Hanya saja, petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli oli bekas dan solar selain harus menambah air di lahan. Jika airnya tidak penuh, campuran oli bekas  dan solar tidak bisa dipraktikkan.

Berapa biaya untuk membeli oli bekas dan solar per hektarenya ? per hektare butuh oli bekas sebanyak 25 liter dan solar 20 liter untuk sekali  penyemprotan, dengan  harga oli  bekas Rp 2.000/liter dan solar Rp 5.000 liter. Sementara tenaga yang dibutuhkan sebanyak 10 orang dengan upah Rp 50.000 per orang. Hingga masa panen dibutuhkan  empat kali penyemprotan oli bekas dan solar dengan jumlah pekerja yang sama.”Biayanya memang lumayan tinggi, karena harus menambah air di lahan yang dibeli dengan pompa dan ongkos tenaga manusia,”kata Nasikan, petani Deket.

Kini hampir merata petani di daerah pertambakan yang tanam padi mempraktikkan membunuh hama wereng yang sudah mewabah tersebut. Air di sawah menjadi hitam pekat karena tercampur oli bekas dan solar.

Apapun alasan masyarakat secara umum diluar petani yang menilai cara para petani ini tidak rasional tidak pernah melunturkan cara – cara tradisional tersebut. Buktinya cara itu cukup ampuh membunuh perkembang biakan populasi hama wereng yang menyerang tanaman padi mereka.

Diakui, Aksan, petani Dusun Glomo, sebenarnya sudah ada penyuluhan dari tenaga PPL Dinas Pertanian. Namun petugas hanya mengarahkan petani untuk uji coba menggunakan insektisida dengan berbagai merek.”Lha wong petugas pertanian itu seolah tidak pernah tahu bagaimana hasilnya ketika petani menggunakan obat dimaksud. Werengnya tidak mempan dibasmi,”kata Aksan.        
Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Heru Pramono

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas