Selasa, 25 November 2014
Surya

Perda Kawasan Larangan Rokok Tidak Maksimal

Selasa, 24 Juli 2012 17:05 WIB

SURYA Online, SURABAYA - Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sudah dibuat. Tetapi, tempat layanan publik yang harusnya nyaman bagi warga maupun pengunjung masih terdapat asap rokok. Para perokok pun masih bebas menyedot cerutu di tempat yang mereka suka.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Esty Martiana Rachmie mengatakan, setelah jadi Perda, seharusnya sudah jadi tanggungjawab semua pihak untuk menjaga lingkungan dari rokok. Makanya beban ini harusnya tak diberikan pada Dinkes saja. “Secara kasat mata memang terlihat tak efektif perda KTR, tapi ada sisi lain yang bisa diambil, salah satunya kini tak ada lagi orang seenaknya merokok di sekolah atau di rumah sakit,” ujar Esty ditemui di kantornya, Selasa (24/7/2012).

Ia melanjutkan, untuk menegakan perda KTR memang cukup sulit. Sejak tahun lalu, Pemkot Surabaya sebenarnya sudah melayangkan reward and punishement bagi tempat-tempat umum yang sukses atau abai menjalankan Perda KTR ini. Pihaknya sudah memberikan surat peringatan pada kampus, mal, dan hotel yang terbukti melanggar. Salah satunya peringatan keras yang dilayangkan pada Universitas 17 Agustus (Untag), Delta Plaza, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) dan RSU Dr Soetomo Surabaya. “Kampus, mall dan rumah sakit itu sudah kami temukan bukti pelanggaran. Jadi kami melayangkan peringatan keras pada mereka,” ungkapnya.

Dinkes juga melayangkan penghargaan pada Universitas Hang Tuah (UHT), Surabaya Plaza Hotel (SPH) dan Tunjungan Plaza (TP) yang sudah melaksanakan Perda KTR dengan baik. Esty menyebut, sanksi yang berat memang belum dilayangkan pada para pelanggar. Namun, tak  menutup kemungkinan nantinya akan ada sanksi tegas.
“Saat ini kami berharap Satpol PP bisa ikut berperan menjalankan tugasnya untuk menangkap para pelanggar perda KTR,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Satpol PP Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan, pihaknya tetap menjalankan amanat Perda. Beberapa personil yang ada disebar ke pusat layanan publik dan juga mal untuk terus memantau para perokok.
“Karena keterbatasan jumlah personil tak semua tempat bisa kami pantau. Tetapi kami tetap menjalankan Perda itu sesuai amanat yang diberikan,” jelas Irvan.
Editor: Suyanto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas