Kamis, 19 Juli 2012 10:30 WIB | Dibaca: 369 | Editor: Heru Pramono | Reporter : Sudarmawan
foto: Surya/Sudarmawan
AIR SUNGAI - Sekitr 200 Kepala Keluarga (KK) warga Desa Cantel, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi terpaksa mengkonsumsi air sungai dengan membuat bilik-bilik (kubangan) air di tepian sungai yang mengering, Kamis (19/7).
SURYA Online, NGAWI - Sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) warga Desa Cantel, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi terpaksa mengkonsumsi air sungai yang mengalir di perkampungan mereka sejak sebulan terakhir. Pasalnya, berbagai sumber mata air milik warga setempat mulai sumur milik warga dan sebuah tandon air besar yang disediakan Pemkab Ngawi sudah tak mengeluarkan air lagi karena mengalami kekeringan.
Untuk dapat mengkonsumsi air sungai itu, warga membuat puluhan bilik (kubangan) di pinggiran sungai yang mengering itu. Ratusan warga itu, memanfaatkan bilik itu untuk mengambil jatah air bersih mereka mulai dari pagi, siang, dan sore untuk kebutuhan memasak, mandi, dan mencuci. Kendati tergolong sebagai air bilik sungai, namun mereka tetap harus berjuang untuk mendapatkan air itu dengan berjalan sejauh 2 kilometer.
Selain itu, mereka harus menyiapka timba, jirigen dan gentong, untuk air konsumsi di rumah seusai mencuci dan mandi di air sungai yang mengering itu.
Salah seorang warga yang mengantre air bilik sungai, Yuni (35) mengatakan jika sudah sejak sebulan terakhir, warga memanfaatkan sumber mata air dari bilik sungai di desanya. Menurutnya, air kubangan itu tergolong cukup bersih dan bisa dimanfaatkan untuk memasak, mandi, dan mencuci.
"Hampir setiap tahun, kami manfaatkan bilik-bilik kecil ini untuk air konsumsi setiap memasuki musim kemarau. Karena air sumur dan sumber mata air lainnya mengalami kekeringan," terangnya kepada Surya, Kamis (19/7/2012).
Hal yang sama disampaikan, Sri Hartati (39). Menurutnya, pembuatan bilik air itu sudah dilaksanakan warga secara turun temurun di kampungnya yang dihuni sekitar 200 KK atau sekitar 800 orang itu. Alasannya, selain berbagai sumber air mengering, tandon air bantuan Pemkab Ngawi juga tak menghasilkan air karena sudah mengering dan tak berfungsi lagi saat musim kemarau panjang.
"Kalau tidak memanfaatkan bilik-bilik air ini, kami tak bisa memasak lagi. Bagi kami ini air terbaik daripada kami kekurangan pasokan air setiap hari. Karena tidak mungkin pemerintah memasok air buat kami setiap hari," tegasnya.
Sementara, kini warga berharap bantuan Pemkab Ngawi untuk memasok kebutuhan air bersih. Pasalnya, untuk mendapatkan air satu jirigen atau gentong ukuran sedang membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
"Karena sumber sisa air sungai ini kecil, selain antre untuk mengisi 1 timba, jirigen atau gentong cukup lama memakan waktu sekitar 30 menitan. Kami berharap Pemkab Ngawi serius mau membantu kebutuhan air bersih bagi warga kami," tandas Sukardiono (47) warga Cantel lainnya.
Berita Selengkapnya Klik di Sini »