Rabu, 22 Mei 2013: 19:38:02

Arant Sadar Kekerasan Tak Laku Dijual

Rabu, 11 Juli 2012 21:19 WIB | Dibaca: 475 | Editor: Achmad Pramudito | Reporter : Achmad Pramudito
IMG_6379_surya.JPG
surya/pramudito
Arant Band
SURABAYA | SURYA Online - Dari jalanan ke dapur rekaman bukan hal aneh dan sulit sekarang. Klantink, grup musik yang biasa ngamen di terminal-terminal Surabaya sudah membuktikannya. 

Kini, ada Arant. Bedanya, lima anak muda ini tidak berasal dari daerah yang sama. Yansya (vokal) yang berasal dari Padang, Ulun (bas) dari Ciamis, Chunik (gitar 1) dari Medan, Wiewich (gitar 2) dari Bandung, dan Jami (drum) dari Palembang. 

Tak heran bila nama yang mereka sandang kemudian adalah Arant alias anak rantau. Latar belakang pun beragam. Ada yang pengamen di bus, penjaga kolam pancing, sales, atau juga pedagang es durian keliling. 

Memang perlu perjuangan panjang dan berliku untuk menggapai mimpi. Dan Arant membuktikan bahwa mereka serius untuk meramaikan industri musik lewat karya yang mereka ramu di jalanan. 

Adakah warna kekerasan yang akrab dengan kehidupan mereka sehari-hari bakal muncul di lagu mereka? “Kami sadar kekerasan tidak laku dijual. Karena itu, yang kami tawarkan adalah yang mellow. Tema cinta masih jadi jualan di single yang kami buat,” beber Chunik. 

Menurut personel Arant, masyarakat butuh hiburan dan kesenangan. Itu pula yang mereka hadirkan dengan harapan bisa diterima penikmat musik Indonesia. 
Jangan Harap Aku jadi single perdana yang sudah dirilis lewat Puma Production. “Kami punya beberapa lagu. Untuk sementara kami keluarkan single dulu,” ujar Yansya. 


Berita Selengkapnya Klik di Sini »

Akses Surabaya.Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat surabaya.tribunnews.com/m/